Wednesday, August 10, 2022

Penakluk Mikrob Bandel

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tak kasat mata tapi serangannya sungguh merepotkan. Infeksi mikrob bisa berujung maut.

S akit itu sekonyong-koyong datang. Tjut Putri—sebut saja begitu namanya—mengeluh demam tinggi hingga di atas 39oC, mual, muntah, dan menggigil serta muncul ruam di tangan. Hasil pemeriksaan darah di rumahsakit di Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, dokter muda yang tengah menjalani program Pegawai Tidak Tetap (PTT) itu terjangkit malaria dan gejala morbili alias campak.

Di daerah tempat Tjut berdinas, malaria memang tengah mewabah. Menurut dr Asep Saepul Rohmat SpPD di Poli Penyakit Dalam RS Pusat Pertamina, Jakarta, panas tinggi, menggigil, disertai  gangguan di hati salah satu gejala penyakit malaria. “Lazimnya kasus malaria di tanahair berupa malaria tropikana dan malaria tertiana,” tutur Asep Saepul.
Malaria tropikana disebabkan infeksi Plasmodium falciparum, tertiana karena infeksi P. vivax. Malaria tropikana merupakan kasus berat karena bisa menyebabkan kematian akibat penyumbatan di pembuluh darah otak. Dokter Primal Sudjana SpPD dari Divisi Penyakit Tropik-Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, mengatakan salah satu ciri serangan malaria tropikana pasien mengalami panas tinggi dan rendah berselang sehari-sehari. Pada tertiana bisa berselang hingga tiga hari.
Lumpuh
Tiga hari berbaring di rumahsakit, Tjut memutuskan pulang dan melanjutkan perawatan di rumahsakit di kampung halaman di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Di rumahsakit Tjut mendapatkan obat antimalaria, infus, dan suplemen makanan. Namun, ruam menjalar hingga seluruh tubuh. Menurut Asep Saepul malaria bisa saja disertai komplikasi antara lain terjadinya pendarahan di area kulit yang memunculkan ruam. “Namun peluang kemunculannya sangat kecil,” kata Primal. Ruam biasanya muncul pada kasus campak dan chikungunya akibat infeksi virus.  
Pada hari keempat perawatan, Tjut menjalani pemeriksaan darah. Hasil pengecekan laboratorium menunjukkan infeksi bakteri plasmodium negatif. Hari itu juga Tjut meninggalkan rumahsakit. “Tapi saya merasa seperti orang belum sembuh. Tubuh terasa lemas,” tuturnya. Saat beristirahat di rumah itulah sekonyong-konyong ia tak mampu menggerakkan tubuh bagai orang lumpuh. Jika mencoba menjejak lantai, nyeri tak terperi serta merta mendera. Dokter Asep Saepul menuturkan badan sulit bergerak biasanya terjadi karena infeksi virus.
Seorang paman yang menjenguk menyarankan Tjut mengonsumsi jus kulit manggis untuk meningkatkan stamina. Semula Tjut menolak, tapi kekhawatiran menjadi lumpuh akhirnya membuat ia mau mencoba. Perempuan muda itu meminum dua sloki masing-masing berisi 15 ml jus kulit manggis
iga kali sehari. Empat hari berselang kondisinya berangsur membaik. Rasa sakit saat kaki menjejak lantai hilang bahkan Tjut kini sudah kembali bertugas di Mandailing Natal.
Penelitian oleh Prof  Dr Taslim Ersam, guru besar Kimia Bahan Hayati dan Spektroskopi Senyawa Organik, di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengungkap keandalan senyawa alfamangostin asal kulit manggis mengatasi malaria. Taslim Ersam bersama Kelompok Penelitian Aktivitas Kimiawi Tumbuhan ITS (PAKTI) mengisolasi senyawa-senyawa xanthone dari kulit batang, akar, kayu, dan buah manggis Garcinia mangostana. Mereka lalu melakukan pengujian secara in vivo pada tikus percobaan yang dibuat terjangkit parasit malaria.

Putus makanan
Dosen senior di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITS itu membagi tikus percobaan ke dalam dua kelompok terinfeksi parasit malaria. Kemudian pada kelompok pertama ia memberi ekstrak mangostin, kelompok lain tidak. Pada kelompok yang diberi ekstrak mangostin, Taslim membedakan perlakuan pemberian ekstrak kulit manggis mengandung xanthone  sebanyak 0,01; 0,1; 0,3; dan 0,5 µg/ml.
Hasil riset menunjukkan pemberian ekstrak xanthone sebanyak 0,01 µg/ml mampu menekan laju pertumbuhan parasit. Menurut Taslim Ersam kandungan alfamangostin, salah satu turunan senyawa xanthone, mampu mengatasi malaria dengan menghalangi distribusi makanan untuk parasit. “Itu terlihat dari tempat makanan di vakuola yang kosong,” kata doktor alumnus Institut Teknologi Bandung itu.
Kemampuan itu diduga dilakukan dengan dua cara. Pertama parasit tidak mendapatkan makanan karena pasokan kosong. Kemungkinan kedua zat makanan tersedia tapi berubah menjadi senyawa yang tidak lagi bisa dikonsumsi parasit. Parasit gagal memperoleh pasokan makanan sehingga mati.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pada 2008 terjadi 411.797 kasus malaria di dunia. Sebanyak 788 di antaranya meninggal dunia. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia menderita malaria. Setiap tahun 10-juta orang terjangkit penyakit karena protozoa Plasmodium falciparum, P. vivax, P. malariae, dan P. ovale itu. Sekitar 1-juta—2,5-juta di antaranya berakhir dengan kematian. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk anopheles betina itu setiap detik membunuh 30 anak di dunia.

Diare pelancong
Infeksi bakteri merupakan salah satu penyakit akibat mikrob. Laman Departemen Mikrobiologi, University of Massachusetts Amherst, di Amherst, Massachusetts, Amerika Serikat, menyebut bakteri sebagai salah satu mikroorganisme penting dalam dunia medis selain cendawan, virus, dan protozoa.
Menurut Primal Sudjana sejatinya mikrob ada di dalam tubuh manusia. Misal mikrob pada kulit yang mengubah keringat menjadi asam sebagai salah satu sistem pertahanan tubuh dari serangan mikrob luar. Mikrob juga terdapat pada usus untuk membantu proses pencernaan makanan. “Tapi dalam sistem darah harus steril dari mikrob sebab itu menyebabkan sakit,” tutur dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, itu. Bahkan dalam kondisi tubuh lemah, mikrob baik di dalam tubuh pun bisa menyebabkan sakit. Artinya, infeksi makhluk tak kasat mata itu tak bisa diremehkan.
Pada pertengahan 2011 dunia dihebohkan dengan wabah bakteri Escherichia coli. Dalam hitungan minggu wabah menjangkiti berbagai negara Eropa seperti Austria, Republik Ceko, Denmark, Perancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Swiss, dan Inggris. Bakteri diduga menyebar lewat sayuran impor asal Jerman. Di negeri Tembok Berlin itu tercatat 17 orang meninggal. Di tanahair E. coli kerap dituding sebagai biang keladi kasus diare.
Prof Didier Montet dari Centre de Coopération Internationale en Recherche Agronomique pour le Développement (CIRAD), Perancis, dalam presentasi di sebuah acara mengenai ketahanan pangan yang diselenggarakan di Institut Pertanian Bogor pada 2009 menyebut diare sebagai salah satu penyakit paling mematikan.
Setiap tahun sebanyak 3-juta orang meninggal karena diare. Keganasannya setingkat lebih rendah dibanding penyakit AIDS yang menyebabkan 3,1-juta kasus kematian per tahun. “Kasus diare biasanya berkaitan dengan keamanan pangan,” kata Didier. Pangan sehat dan aman mesti terbebas dari kontaminan logam berat, bahan kimia seperti melamin dan residu pestisida, patogen dan cendawan. Bakteri E. coli kerap menular melalui pangan tidak hieginis.
Konsumsi kulit manggis bisa mengatasi infeksi bakteri anggota famili Enterobacteriaceae itu sebagaimana riset oleh Prof Elin Yulinah Sukandar dan tim dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Mereka mengisolasi senyawa mangostin, betamangostin, dan alfamangostin kulit manggis. Lalu menguji efektivitasnya menghambat pertumbuhan bakteri Shigella flexneri, Salmonella typhi, dan E. coli menggunakan metode difusi agar dengan konsentrasi 10 mg/dl. Hasil uji menunjukkan semua isolat aktif menghambat pertumbuhan bakteri. Hambatan paling besar dimiliki esktrak heksana senyawa mangostin. “Dengan begitu kulit manggis potensial dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit diare, pun disentri dan tifus,” kata Elin.

Tuberkulosis
Riset lain di berbagai negara kian menguatkan peran kulit manggis sebagai antimikrob. Sunit Suksamrarn dan rekan dari Univesitas Srinakharinwirot, Thailand, meriset kemampuan alfamangostin, betamangostin, dan garcinone-B kulit manggis menekan pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis  penyebab TB (tuberkulosis).
Sementara Werayut Pothitirat dan rekan dari Universitas Mahidol, Thailand,  mengungkap khasiat kulit manggis mengatasi masalah kesehatan kulit seperti jerawat. Periset mengekstrak 10 g serbuk kulit manggis dengan 1.000 ml dengan pelarut heksana, diklorometan, dan etanol. Pada ekstraksi dengan air, mereka merebus sebanyak 10 g serbuk dalam 200 ml air selama sejam.
Ekstrak diuji pada bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis penyebab jerawat membandel. Mereka kemudian mengecek angka MIC—minimal inhibitory concentration—serta nilai MBC—minimal bactericidal concentration—atau nilai ekstrak pada konsentrasi terendah yang menyebabkan tidak ada pertumbuhan bakteri setelah disubkultur ke media baru.  
Makin rendah nilai keduanya makin baik. Hasil riset menunjukkan ekstrak dari diklorometan menunjukkan nilai MIC dan MBC paling rendah di antara 3 pelarut lainya, masing-masing sebesar 3,91 µg/ml dan 15,63 µg/ml. Periset menyebutkan kandungan alfamangostin pada ekstrak merupakan senyawa utama yang bekerja menekan pertumbuhan bakteri. Pada kulit sang ratu mikrob pun menyerah. (Evy Syariefa/Peliput: Faiz Yajri, Pranawita Karina, dan Tri Istianingsih)

 

 

Polah Escherichia coli

  • Menyebabkan muntah, diare, demam, dehidrasi, dan syok
  • Masa inkubasi 6—24 jam
  • Durasi sakit beberapa hari hingga beberapa minggu
  • Sumber infeksi dari makanan tercemar kotoran manusia dan ternak, produk daging dan susu mentah
  • Prevalensi tinggi terjadi di negara berkembang, lebih dari 100 kasus per 100.000 penduduk
  • Anak-anak dan orangtua lebih rentan
  • Infeksi serius menyebabkan gagal ginjal akut disertai kerusakan sel darah merah, gangguan saraf, stroke, dan koma. Pada kondisi ini tingkat kematian akibat infeksi sebesar 3—5%
  • Salah satu pencegahan dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan mengolah makanan dengan benar

 

 

Pemutus Rantai Makanan
Prof Dr Taslim Ersam menuturkan di dalam darah parasit Plasmodium falciparum “menyantap” asam amino dan hemozion yang berasal dari pemecahan hemoglobin. Mula-mula hemoglobin memecah menjadi asam amino dan globin. Globin kemudian berubah menjadi heme yang bersifat racun pada parasit. Namun, parasit memiliki kemampuan mengubah heme menjadi hemozoin sehingga tidak lagi bersifat racun.
Pemberian alfamangostin dari kulit manggis diduga menghalangi distribusi makanan untuk parasit. Caranya dengan membuat pasokan makanan kosong atau mengubah makanan menjadi bukan makanan. Senyawa alfamangostin menghalangi proses polimerisasi heme menjadi hemozoin sehingga tetap bersifat racun bagi parasit. Ketika tidak mendapatkan stok makanan parasit mati.***


Keterangan foto

  1. Prof Taslim Ersam, kandungan alfamangostin pada kulit manggis berperan atasi malaria dengan memutus rantai makanan untuk parasit plasmodium
  2. Kulit manggis bersifat antimikrob
  3. Prof Elin Yulinah, buktikan keandalan kulit manggis atasi bakteri E. coli
  4. Pertengahan 2011 wabah bakteri Escherichia coli menjangkiti berbagai negara Eropa seperti Austria, Republik Ceko, Denmark, Perancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Swiss, dan Inggris. Bakteri diduga menyebar lewat sayuran impor asal Jerman
  5. Kandungan alfamangostin, betamangostin, dan garcinone B hambat perkembangan bakteri penyebab tuberkulosis
  6. Memasak makanan hingga matang sempurna salah satu cara cegah infeksi E.coli
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img