Trubus.id — Semua beruang terlahir dengan indra penciuman yang mengagumkan. Fakta itu memicu rasa penasaran Dr. George C. Stevenson, M.D., ahli bedah saraf mikro di Fellowship Children Hospital, Toronto, Kanada.
Ia membedah otak beruang cokelat amerika Ursus arctos horribilis. Hasilnya ia paparkan dalam presentasi di kantor Taman Nasional Yellowstone, Montana, Amerika Serikat, pada Agustus 2007. Fakta-fakta yang ia tampilkan mencengangkan banyak ahli satwa dan lingkungan.
Menurut George, pembentukan citra dalam otak menjadi pembeda utama beruang dan manusia. Jika manusia membangun citra berdasarkan ingatan visual, beruang melakukannya berdasarkan memori penciuman.
Dengan mengembang-kempiskan cuping, mengembus, dan menghirup kuat, beruang mengatur jumlah udara yang memasuki hidung. Sebanyak 10 juta ujung reseptor saraf terjejal dalam rongga hidung yang dipenuhi lipatan.
Sebuah organ bernama lobus olfaktori menjadi prosesor yang mencitrakan informasi dari udara yang dihirup. Citra itu lantas dikirim ke otak untuk dianalisis atau dipetakan.
Bobot otak beruang rata-rata hanya 450 gram, kurang dari sepertiga bobot otak manusia dewasa yang mencapai 1.500 gram. Namun, ukuran lobus olfaktori di dalamnya hampir sebesar jempol orang dewasa.
Ukuran sensor sejenis di otak manusia hanya seukuran separuh panjang pensil. George menyebut penciuman anjing 100 kali lebih baik dibanding manusia, tetapi penciuman beruang madu 7 kali lebih baik daripada anjing. Artinya, penciuman beruang 700 kali lipat kemampuan penciuman manusia.
Beruang yang hidup di iklim 4 musim berhibernasi pada musim dingin untuk menghemat energi karena makanan langka. Saat bangun dari hibernasi, mereka membutuhkan makanan secepatnya.
Penciuman super tajam membimbing beruang yang kelaparan berat itu langsung ke sumber makanan. Jika harus membuang banyak tenaga untuk mencari, beruang bisa keburu mati kelaparan sebelum menemukan makanan. Beruang madu yang tidak berhibernasi pun memanfaatkan indra penciuman itu sebagai “senjata” andalan untuk mencari pakan.
Meskipun memiliki banyak pilihan, beruang madu juga menghadapi banyak pesaing. Saat mencari buah, ia harus bersaing dengan kera atau beruk yang lebih gesit di atas pohon ataupun di atas tanah.
Untuk berburu serangga, ia berhadapan dengan trenggiling Manis javanica yang fisiknya sangat cocok untuk berburu serangga. Jika memilih berburu mamalia, ia juga kalah kuat dan lincah dengan kucing besar seperti harimau atau macan tutul, yang sama-sama hidup dalam hutan tropis Sumatra.
Namun, semua pesaing itu tidak memiliki penciuman sekuat beruang. Paduan indra super dan strategi jitu, sukses membuat beruang madu bertahan dalam rimba tropis Sumatra dan Kalimantan.
