Muhammad Faqih Ibrahim, S.E., memelihara 10 ekor sapi di kandang miliknya sendiri. Pemuda asal Desa Suci, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini juga menggembalakan 65 ekor sapi lainnya di kandang mitra peternak.
Dari total populasi tersebut, ia mampu menjual rata-rata tiga ekor sapi per bulan. Harga satu ekor sapi berkisar mulai dari Rp18 juta, sehingga omzet bulanannya mencapai minimal Rp54 juta.
Jumlah tersebut ia peroleh pada musim reguler, yakni saat hanya melayani pembelian dari jagal. Ketika Iduladha tiba, omzetnya melonjak drastis hingga minimal Rp1,8 miliar dari penjualan 100 ekor sapi.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, ia memiliki kandang seluas 1.000 m² dengan kapasitas 120 ekor sapi. Seluruh sapi yang ia pelihara ditujukan untuk penggemukan saja.
Jenis sapi yang paling diminati pasar yaitu limosin, simental, peranakan ongole, dan pegon atau sapi silangan dari Jawa. “Jenis-jenis itu yang paling banyak dicari konsumen,” ujar Faqih yang kini berusia 27 tahun.
Ia membeli sapi bakalan dari peternak dengan bobot awal 280–330 kilogram. Selanjutnya, sapi digemukkan selama tiga, empat, atau tujuh bulan sesuai target pasar.
Pada fase awal, ia menargetkan pertambahan bobot sapi sebesar 0,8–1,2 kg per hari. Dua bulan terakhir penggemukan, ia menggunakan pakan booster untuk meningkatkan bobot hingga 1,2–1,7 kg per hari.
Pakan yang diberikan terdiri atas hijauan sebanyak 10% dari bobot tubuh sapi dan konsentrat sebanyak 5–8%. Pakan tersebut dicampur dengan ampas tahu yang melimpah di sekitar tempat tinggalnya.
“Tempe dan tahu adalah usaha utama saya dan keluarga,” ujar Faqih yang lahir pada 1997. Usaha itu pula yang dulu mendorong sang ayah memelihara sapi agar ampas tahu bisa dimanfaatkan.
Jika bobot sapi telah mencapai sekitar 600 kg, Faqih akan mulai menjualnya ke konsumen. Ia tak menyangka saat ini usaha tersebut bisa memberikan pendapatan sebesar itu.
Sebab, pada 2014 usaha keluarga mereka sempat terpuruk akibat penipuan. “Semua sapi ayah saya habis dan meninggalkan utang ke luar,” kenang pemilik SolterFarm Indonesia tersebut.
Untuk mencegah kejadian serupa, ia perlahan mengambil alih kendali usaha. Berbekal kepercayaan pelanggan, ia mulai aktif kembali sejak Iduladha 2017.
“Saya mulai memperbaiki manajemen pengelolaan,” ujar Faqih. Perbaikan mencakup efisiensi operasional pakan, pencatatan sapi, serta pembukuan usaha.
Dengan sistem yang lebih rapi, penghitungan usaha dan manajemen risiko menjadi lebih terukur. Ia juga meningkatkan aspek keamanan dan kesehatan hewan.
Yang tak kalah penting, ia fokus pada strategi pemasaran. “Alhamdulillah dari keuntungan penjualan sapi pertama pada 2017, saya bisa melunasi utang keluarga,” katanya.
Sejak itu, ia rutin memelihara sapi secara reguler dan terus belajar tentang peternakan. Ilmu yang dipelajarinya mencakup pengelolaan kandang, sistem pakan, hingga strategi penjualan.
Tahun 2023, Faqih bergabung dalam program Petani Milenial Jawa Barat. Dari program itu, ia memperoleh peningkatan kapasitas dalam bisnis, digitalisasi, relasi, analisis pasar, hingga akses permodalan KUR.
Setelah setahun bergabung, Faqih semakin memahami standardisasi dalam pengelolaan kandang dan pemberian pakan. Ia menyadari bahwa sebelumnya biaya pakan kerap membengkak karena asal memberi makan hingga sapi kenyang.
Kini, ia rutin mencatat pertumbuhan setiap sapi agar proses penggemukan lebih terukur. Ia juga mempelajari teknik pembuatan pakan mandiri untuk menekan risiko kerugian.
“Saya jadi tahu komposisi pakan yang baik,” ujar Faqih. Ia merasakan banyak manfaat dari program tersebut, termasuk rasa percaya diri sebagai peternak muda.
Menurutnya, peternakan adalah peluang usaha menjanjikan yang masih jarang digarap anak muda. “Kita sebagai generasi muda harus menjadikan peternakan sebagai sektor yang potensial,” pungkasnya.
Foto: Dok. Faqih
