Thursday, June 13, 2024

Pengalaman Empiris Buktikan Daun Cangkring Atasi Cikungunya

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Otot, sendi, dan tulang Sheila Pratiwi nyeri pada 2021. Dua pekan berlalu belum ada tanda-tanda membaik. Tulang belulang Sheila seperti tak mampu menopang tubuh sehingga jalan pun merangkak. Warga Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu nyaris lumpuh.

Dokter mendiagnosis Sheila terkena virus cikungunya. Wabah akibat vektor nyamuk Aedes aegypti itu membuat Sheila demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri di sekujur tubuh. Pada kulit Sheila juga muncul ruam-ruam merah.

Derita Sheila kian menjadi-jadi meskipun sudah berobat ke dokter sehingga membuat ayahnya, Bambang Prasetyo, putus asa. Bambang lantas bercerita pada sang kakak, Agus Irwanto, yang juga seorang herbalis di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Agus menyarankan Bambang memanfaatkan daun cangkring (Erythrina fusca) segar untuk mengatasi penyakit itu. Bambang memetik 7—9 daun cangring, mencuci bersih, dan menghaluskannya menggunakan blender.

Setelah itu ia merebus serbuk daun dengan sepanci air hingga mendidih. Bambang memandikan Sheila saat sore dengan air rebusan dadap cangkring, sebutan cangkring oleh masyarakat Sunda.

Usai mandi dengan rebusan daun cangkring Sheila merasa tubuhnya lebih segar. Keesokan hari nyeri di otot dan sendi berkurang sehingga murid kelas 6 sekolah dasar itu bisa berdiri dan berjalan perlahan.

Menyaksikan kondisi Sheila terus membaik, Bambang sangat gembira. Itulah sebabnya, Sheila mengulangi terapi mandi itu hingga 3 hari sampai berjalan normal. Menurut Agus Irwanto masyarakat memanfaatkan khasiat daun cangkring secara turun-temurun.

Agus meresepkan daun cangkring sebagai obat luar kepada pasien-pasien yang terkena cikungunya, herpes, dan cacar air. “Saya minta para pasien mencari sendiri daun itu karena banyak di seputaran Rawa Pening. Saya tunjukkan agar mereka dapat membuat sendiri,” kata Agus.

Bahkan, bagian tanaman yang berkhasiat obat bukan hanya daun, tetapi juga akar, batang, cabang, dan ranting. Namun, batang cangkring berduri, sehingga Agus hanya menyarankan menggunakan daun.

“Jika orang mau pakai, cukup daunnya saja agar durinya tidak membahayakan,” kata Agus.

Bagi orang umum, daun segar juga mudah karena tak perlu pengolahan khusus seperti pengeringan dan penyimpanan simplisia. Dokter dan herbalis di Kota Tangerang Selatan, Banten, dr. Prapti Utami, M.Si., sepakat dengan Agus bahwa cangkring secara turun-temurun digunakan sebagai herbal.

Namun, Prapti belum tahu bahwa tanaman anggota keluarga Fabaceae itu dapat mengobati cikungunya. “Setahu saya cangkring untuk obat herpes atau cacar yang digunakan sebagai obat luar,” kata dokter alumnus Universitas Diponegoro itu.

Agus tak menampik bahwa cangkring untuk cikungunya belum banyak yang mengetahui. “Baru pengalaman empiris sehingga dunia modern perlu membuktikan,” kata Agus yang juga menggunakan data-data rekam medis dalam mengobati pasien.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi  Gelar Tanam Pohon Serentak di 18 Provinsi

Trubus.id—Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi (KFLHK) yakni Perhimpunan Filantropi Indonesia, Dompet Dhuafa, Belantara Foundation, Dompet Dhuafa Volunteer (DDV),...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img