Saturday, January 17, 2026

Peningkatan Produksi Nasional untuk Ketahanan Pangan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan besar pada masa mendatang. Jumlah penduduk Indonesia diprediksi mencapai 306 juta jiwa pada 2035 dengan pertumbuhan penduduk 1,36% per tahun.

Berdasarkan angka itu, Indonesia memerlukan kurang lebih 43 juta ton beras per tahun pada 2035. Jumlah yang sangat besar jika dihitung dengan produksi beras nasional saat ini yang mencapai 31 juta ton dan pertumbuhan produksi rata-rata yang hanya 1% berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020.

Menurut Prof. Ir. Achmad Subagio, M.Agr., Ph.D., Dosen di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, peningkatan produksi padi melalui intensifikasi mengalami kendala. Adalanya pola levelling-off dari provitasnya, ditambah dengan biaya produksi yang kian mahal dan langkanya pupuk.

Sementara pencetakan sawah baru tidak semudah yang dibayangkan. Tingkat kesesuaian lahan yang ketat menjadikan lahan yang layak untuk tanaman padi sangat terbatas, serta diperlukan biaya dan waktu yang besar untuk mendapatkan provitas yang optimal.

Saat ini, kekurangan dari sumber karbohidrat dipenuhi dari impor gandum yang mencapai 10—11 juta ton per tahun. Indonesia mengimpor 11,48 juta ton gandum pada 2021 dan sepanjang Januari—Maret 2022, impor gandum tercatat 2,81 juta ton, naik 4,7% dari periode sama pada 2021.

“Nilai itu terus berkembang seiring penerimaan masyarakat atas produk-produk makanan berbasis gandum. Saat ini Indonesia adalah negara yang mengonsumsi mi terbesar ke-2 di dunia setelah Tiongkok,” tutur Subagjo. Di sisi lain, pangan global mengalami tekanan yang sangat berat akibat pandemi Covid-19, persoalan geopolitik, dan perubahan iklim.

Pandemi Covid-19 menyebabkan pembatasan pergerakan di dalam dan lintas negara yang menghambat layanan logistik, mengganggu seluruh rantai pasok, dan memengaruhi ketersediaan pangan global.

Bahkan, beberapa negara melarang pelaksanaan ekspor bahan pangan. Ketidakpastian itu mendongkrak kenaikan harga pangan dunia. Indeks Harga Pangan Food and Agriculutural Organization (FAO) mencapai 138,0 poin pada Agustus 2022. Artinya lebih tinggi 10,1 poin (7,9 %) daripada nilainya pada 2021.

Tantangan menjadi lebih berat dengan munculnya ketegangan geopolitik Ukraina–Rusia yang menimbulkan ancaman bagi impor bahan pangan. Berdasarkan hal itu, strategi Kemandirian Pangan seperti diamanatkan Undang-Undang Pangan No. 18 Tahun 2012 mesti dijalankan segera.

Agar mencapai kemandirian pangan memerlukan peningkatan produksi nasional mesti dilakukan melalui program pengadaan pangan di lahan yang belum dikelola secara optimal dan dengan investasi yang relatif murah serta waktu yang cepat untuk dikonversi menjadi lahan produktif.

Dari total lahan sebanyak 58 juta hektare (ha) hanya sekitar 18% pertanian Indonesia yang tergolong subur dan optimal. Selebihnya merupakan lahan suboptimal dengan kendala agronomis beragam.

Tanaman padi memerlukan kondisi lahan optimal sebagai syarat untuk menghasilkan provitas tinggi yang tentu saja memerlukan investasi besar dan waktu yang lama untuk mengubah lahan suboptimal menjadi lahan optimal. Oleh karena itu, kita perlu mencari komoditas lain yang lebih tepat.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img