Thursday, September 29, 2022

Penjaga Mutu Kopi Gayo

Rekomendasi
Rahmah mengekspor kopi gayo organik.
Rahmah mengekspor kopi gayo organik.

Rahmah mendirikan koperasi dengan 1.710 anggota untuk meningkatkan nilai jual kopi organik. Ia juga mengekspor 768 ton kopi setahun.

Berkaos hitam dan bertopi rimba, Rahmah—pendiri koperasi Ketiara, menjelaskan detail seluk-beluk produksi kopi di kebun Muhtar, petani mitranya, di Kecamatan Bies, Kabupaten Aceh Tengah. Empat rekan bisnis dari Amerika Serikat mendengarkan dengan saksama. Mereka datang ke Aceh setelah menempuh penerbangan belasan jam untuk memastikan budidaya kopi benar-benar organik. Pembeli yang menjadi mitra dagang Rahmah melalui skema Fairtrade Labelling Organization (FLO) Fairtrade sejak 2013 itu juga memastikan Rahmah benar-benar hanya menjual kopi dari kebunnya dan petani mitra.

Maklum, tidak semua orang berdagang dengan jujur. Demi mendapat keuntungan sesaat, beberapa pedagang mencampur kopi gayo dengan kopi berkualitas rendah yang harganya lebih murah. Mereka lalu menjualnya sebagai kopi gayo murni. Tindakan itu bagai bumerang karena lidah penggemar kopi tidak bisa dibohongi. “Sekali kecewa, mereka tidak akan membeli lagi,” kata Rahmah, pemilik PT Ketiara, eksportir kopi gayo yang menjaga kepercayaan para mitra agar bisnis kopi berkesinambungan.

Peluang pasar

Penjemuran kopi gabah untuk menurunkan kadar air, semula 40% menjadi 12% dalam waktu 3-10 hari.
Penjemuran kopi gabah untuk menurunkan kadar air, semula 40% menjadi 12% dalam waktu 3-10 hari.

Kopi gayo berasal dari dataran tinggi Gayo—mencakup 3 kabupaten, yakni Aceh Tengah, Benermeriah, dan Gayolues. Cita rasa kopi itu amat khas sehingga mendunia. Pembeli mancanegara pun berbondong-bondong datang. Apalagi setelah Presiden Joko Widodo meresmikan bandar udara Rembele di Benermeriah pada 2016. Setiap hari, salah satu maskapai swasta nasional menerbangkan pesawat baling-baling berkapasitas 72 orang dari Medan ke Rembele.

Sejam bermobil dari Rembele, pendatang sudah menjejakkan kaki di Takengon, ibukota Aceh Tengah. Maklum, “Sejak lama Gayo menyimpan kopi berkualitas tinggi,” kata Rahmah. Itu lantaran secara turun-temurun mereka menanam kopi arabika. Namun, selama ini pemasaran kopi gayo melalui perantara di Medan. Penjual-penjual besar di Medan hanya melabeli kopi Gayo sebagai kopi Sumatera. Tidak ada pembedaan dengan kopi sidikalang, kopi lintong, atau kopi kerinci. Salah satu pemicunya adalah konflik bersenjata yang baru reda pada 2005.

Pembeli melakukan uji cupping di laboratorium Koperasi Ketiara.
Pembeli melakukan uji cupping di laboratorium Koperasi Ketiara.

Selama konflik, banyak kebun kopi dibiarkan terbengkalai. “Warga hanya merawat tanaman di pekarangan atau yang kebunnya dekat rumah,” ujar Rahmah. Kondisi itu membuat pekebun kopi tidak mempunyai pilihan lain kecuali menjual kepada pengepul, yang lantas mengirim ke Medan. Para pekebun kopi baru bangkit setelah konflik berakhir, Mereka kembali merawat kebun dan mengganti tanaman tua atau rusak. Namun, selama pemasaran masih tergantung pedagang Medan, pekebun kopi gayo tidak akan menikmati keuntungan.

Pemikiran itu membuat Rahmah mencari cara menjual langsung kepada pembeli. Sebelumnya, pada 2002, Rahmah mendirikan Usaha Dagang (UD) Ketiara, yang lantas menjadi koperasi Ketiara. Nama itu diambil dari nama putrinya yang lahir pada tahun sama, Tiara Bambang Ginanti. Jika tiara dalam bahasa Jawa berarti mahkota, dalam bahasa Gayo kata itu bermakna nihil alias tidak ada. Nama itu pun diubah menjadi Ketiara, yang artinya agar tetap ada. Bagi ibu 4 anak itu, kopi bukan barang baru.

Berbagai alat penyajian kopi di Kafe Ketiara.
Berbagai alat penyajian kopi di Kafe Ketiara.

Sejak kecil ia bersama ke-8 saudaranya terbiasa membantu orangtua merawat kebun, memetik buah kopi masak, mengupas, menjemur, menyosoh biji gabah, atau menggiling biji menjadi kopi bubuk. Meski demikian, menjual langsung ke konsumen akhir bukan hal mudah. Tata niaga yang dikuasai pedagang besar membuat Rahmah ibarat pelanduk di antara gajah. Ia lantas berpikir mengekspor langsung tanpa perantaraan pedagang lokal.

Atas dukungan suami, pada 2009 Rahmah mengurus izin ekspor. Perizinan hanya 1 dari banyak tahap yang harus dilalui sebelum mengirim ke mancanegara. “Bahasa Inggris saja saya tidak bisa,” ungkap nenek 2 cucu itu. Pada hari Idul Fitri 2011, peluang itu datang. Seorang tetangga yang setelah menikah menetap di Belanda pulang kampung dan ingin membawa kopi gayo sebagai oleh-oleh. Rahmah memberikan kopi terbaiknya sekaligus berpesan agar sang tetangga menawarkan kopi itu kepada rekan dan kerabatnya di Belanda.

Proses depe atau membuang biji kopi rusak mengandalkan tenaga manusia.
Proses depe atau membuang biji kopi rusak mengandalkan tenaga manusia.

Ekspor dan lokal
Beberapa bulan berselang, permintaan kiriman mulai mengalir. Pada tahun sama, Rahmah mengajukan permohonan sertifikasi FLO Fairtrade. Berbekal sertifikat Fairtrade itulah pembeli dari negara Abang Sam berkunjung pertama kali pada 2013. Ikatan perniagaan itu berlanjut hingga kini. Pada awal November 2017, perwakilan Atlas mengunjungi Rahmah untuk memastikan perempuan berusia 51 tahun itu masih konsisten berorganik dan hanya menjual kopi dari kebun petani mitra terpercaya.

Rahmah (paling kiri) bersama pembeli dari Stumptown Coffee dan Atlas Coffee, Amerika Serikat.
Rahmah (paling kiri) bersama pembeli dari Stumptown Coffee dan Atlas Coffee, Amerika Serikat.

Selain Amerika Serikat, negara tujuan ekspor lain adalah Belanda, Jerman, Inggris, Arab Saudi, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Ia mengirim total 40—50 kontainer, 3—4 kontainer per pengiriman dalam setahun. Setiap kontainer berisi 19,2 ton biji kopi sehingga jumlahnya setara 768—960 ton. Pasokan untuk mencapai angka itu ia peroleh melalui kerja sama dengan petani di 20 desa yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah dan Benermeriah. Selain ekspor, ia juga menjual ke pasar domestik, terutama kepada relasi lama di Medan.

Petik kopi merah sudah menjadi tradisi masyarakat Gayo, bukan sekadar prosedur standar.
Petik kopi merah sudah menjadi tradisi masyarakat Gayo, bukan sekadar prosedur standar.

Sementara itu, biji rusak atau apkir hasil seleksi juga laku. Rahmah lebih banyak melibatkan kaum hawa dalam proses produksi, baik di kebun, panen, pascapanen, atau pengujian skor cupping. “Perempuan mempunyai rasa tanggung jawab lebih besar. Kesungguhan mereka dalam pekerjaan juga lebih tinggi daripada kaum pria,” ungkap Rahmah. Itu sebabnya 65% anggota koperasi dan karyawan Ketiara adalah perempuan. Ia melibatkan banyak petani dan menunjuk kolektor di setiap desa lantaran tidak mungkin melakukan semuanya sendiri.

Gudang kopi gabah di kompleks koperasi.
Gudang kopi gabah di kompleks koperasi.

Rahmah lalu menunjuk bangunan gudang dalam kompleks Ketiara. Kapasitas gudang itu hanya 4 ton, jauh dari isi 1 kontainer yang mencapai 19,2 ton. “Kalau sendirian, berapa besar gudang yang harus saya miliki untuk menampung 3—4 kontainer setiap pengiriman?” katanya. Ia menjalin kemitraan dengan petani sejak 2009. Namun, tidak semua petani mau ia ajak menanam kopi secara organik. “Kebanyakan tidak bisa meninggalkan pestisida penggerek buah atau pembasmi rumput,” ungkap Rahmah.

Kompleks koperasi Ketiara dengan bangunan kantor, kafe, lokasi penjemuran, gudang, sekaligus tempat pengolahan.
Kompleks koperasi Ketiara dengan bangunan kantor, kafe, lokasi penjemuran, gudang, sekaligus tempat pengolahan.

Sebagian besar menerima ajakan Rahmah. Dari 100 petani yang ia ajak, 75—80 orang tertarik bergabung. Sisanya pun tidak semua menolak, ada yang masih pikir-pikir. Berdasarkan pengalamannya, kebanyakan yang menolak kaum pria. Banyak yang semula menolak berubah pikiran setelah dibujuk oleh istri atau saudara perempuan mereka. Rahmah menyatakan, “Itulah kekuatan perempuan. Jangan pernah meremehkan.” (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articleAral Bisnis Jati
Next articleTantangan, Bukan Halangan
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Menikmati Lezatnya Durian yang Paling Disukai Bung Karno

Trubus.id — Durian memang banyak penggemarnya. Buah yang dikenal sebagai raja buah itu pun konon menjadi salah satu buah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img