
Cara baru membiakkan aglaonema di tanah, bukan di dalam pot.

Trubus — Bedengan itu beratap plastik transparan berlapis jaring hitam. Di atas bedengan berukuran 10 m x 1,2 m tumbuh beragam aglaonema seperti dud unyamanee, sunset, dan suksom yang baru dua bulan pindah tanam. Tanaman-tanaman anggota famili Araceae itu subur dan rimbun. Ia melapisi bagian bawah bedeng dengan mulsa. Tujuannya untuk menghindari penyakit tular tanah dan menghemat air.
“Saya buat bedengan seperti tanam sayuran agar akarnya bebas,” kata Songgo Tjahaja. Petani aglaonema di Jakarta Barat itu memanfaatkan media tanam berupa campuran sekam mentah dan sekam bakar. Media tanam itu amat porous. Satu-dua anakan muncul di samping tanaman induk. Beberapa tanaman berbunga. Ketika Songgo mencabut, akarnya rimbun dan tumbuh menjalar.
Ukuran setek
Lazimnya aglaonema tumbuh di pot. Namun, Songgo sengaja menanamnya di bedengan untuk memperbanyak anakan. Ia mengatakan, secara umum pertumbuhannya sama dengan tanaman pot. Kelebihannya tidak perlu perawatan intensif asal cukup air dan sinar matahari. Meski demikian penggunaan pot sebetulnya mempermudah pengelolaan.
Petani di Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, Gunawan Setyono, juga menumbuhkan aglaonema langsung di tanah. Keduanya sama-sama menggunakan bibit setek asal cacahan tunggul. Bedanya, Gunawan tidak membuat gundukan seperti Songgo, tetapi menggali lubang tanam sekitar 10—15 cm. Lalu ia mengisinya dengan media tanam, meletakkan setek, dan menambahkan kembali media tanam. Ia meracik media tanam dari campuran sekam mentah dan daun bambu.

Lebih baik lagi bila media tanam dicampur dengan lempung atau clay. Ketua Komunitas Aglaonema Bogor itu mengatakan, selain tanah humus tanah lempung juag memiliki kapasitas tukar kation tinggi. Namun porsinya tidak perlu banyak yakni maksimal 20%. Keunggulan lain, lempung dapat menahan air dan membuat akar lebih kokoh.
Alumnus jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, itu malah keterusan menanam aglaonema langsung di tanah. Ia menuturkan, “Rak sudah penuh dengan pot. Bahkan di sela-sela rak sudah penuh juga. Maka saya manfaatkan ruang kosong di bawah rak dengan menanam langsung di tanah di bawah rak-rak berisi pot.”
Sejatinya cara Gunawan itu semata untuk kepraktisan. Setelah muncul 2—3 daun, ia memindahkan ke dalam pot. Untuk menumbuhkan tiga daun, ia perlu waktu sekitar empat bulan. Itu lebih lama sebulan daripada menumbuhkan pada pot. Tanaman di bawah rak memperoleh sinar matahari lebih sedikit lantaran ternaungi. Batangnya pun cenderung langsung memanjang karena mengalami etiolasi.
Pertumbuhan kembali normal setelah berpindah ke pot dan memperoleh sinar matahari yang cukup. Sejatinya media apa pun bisa digunakan. Penanaman aglaonema di tanah, akar berpotensi menjadi lebih bebas berkembang ke bawah dan samping.

Namun, itu tidak selalu berarti pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat. Menurut guru besar jurusan Ilmu Tanah, Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, M.S., hal terpenting dalam budidaya tanaman apa pun di lahan termasuk aglaonema adalah komposisi media tanam, nutrisi, dan riwayat penggunaan lahan. “Bila sebelumnya lahan ditanami jenis tanaman yang sama dan ada penyakit, tanaman berikutnya berpotensi terserang penyakit lebih parah dan berisiko kematian,” kata Tualar.
Selain nutrisi dari pupuk NPK, Songgo memberikan pupuk hayati mikroorganisme lokal (MOL) hasil racikan sendiri. Pemberian pupuk hayati saat persiapan media tanam dan penyiraman rutin sekali sepekan. Ia mengencerkan 1 liter pupuk hayati dalam 10 liter air bersih.
Tualar menuturkan, sejatinya penggunaan MOL sangat luas, tanaman jenis apa pun. Namun, respons setiap tanaman berbeda karena kandungan MOL sangat bergantung pada bahan dan proses pembuatan.
Pemberian MOL bersifat aditif alias tambahan saja. Pertumbuhan akan bagus bila media tanam sudah tepat dan suplai nutrisi mencukupi. (Sinta Herian Pawestri)
Racikan MOL Ala Songgo
1. Siapkan bahan organik seperti nasi di dalam wadah.
2. Letakkan wadah di dekat tanah dan tutup dengan kain atau tisu.
3. Usahakan wadah ternaungi agar tidak terkena air hujan.
4. Setelah 4 hari akan muncul cendawan.
5. Perbanyak cendawan dengan menambahkan gula/molase dan bekatul dan diamkan beberapa hari hingga tercium aroma harum.
6. Encerkan dengan menambahkan air.
7. MOL siap disiramkan pada media tanam atau tanaman langsung.
