Wednesday, February 1, 2023

Pesan Bahagia Lewat Flora

Rekomendasi

Lucia Raras Purwaningrum

Berkarya lewat rangkaian bunga untuk menyampaikan pesan bahagia.

Lucia Raras Purwaningrum mempopulerkan flora lewat rangkaian bunga.

Trubus — Di tangan Lucia Raras Purwaningrum lembaran janur atau daun kelapa muda menjelma menjadi baju adat Papua. Perangkai bunga itu telaten melipat satu per satu helai daun Cocos nucifera itu lalu merangkainya hingga berwujud gaun. Penampilan gaun makin molek dengan sentuhan warna biru, jingga, dan hijau. “Warna-warni di sekujur permukaan gaun sebagai gambaran keindahan alam Papua,” kata Raras.

Gaun spesial itu sukses menyita perhatian para penikmat rangkaian bunga dalam acara Singapore Dream Ball 2015. Acara bergengsi itu debut perdana Raras di ajang internasional. “Saya beruntung menjadi salah satu perangkai bunga yang terpilih mewakili Indonesia,” katanya. Maklum, perhelatan dua tahunan itu merupakan panggung besar bagi para seniman bunga untuk unjuk kecakapan.

Populerkan janur
Pengalaman itu begitu membekas di benak Raras. Ia sangat gembira lantaran kerja kerasnya selama berpekan-pekan terbayar. Ia juga bangga sebab lewat rangkaian karyanya itu masyarakat internasional mengenal janur. Maklum, pamor janur masih kalah dibandingkan dengan materi flora lain. “Sebagian orang acap kali menganggap janur itu kuno,” kata Raras. Padahal dengan sentuhan ilmu merangkai bunga yang mumpuni janur pun memukau.

Tanaman sukulen pun bisa digunakan sebagai materi rangkaian.

Menurut Raras perangkai bunga selayaknya mampu mengeksplorasi kecantikan setiap materi flora. Kreativitas perangkai merupakan salah satu faktor penentu keindahan rangkaian. Karena itu sebagai perangkai bunga profesional ia enggan sembarangan merangkai. “Merangkai bunga sekilas gampang, tetapi sesungguhnya tidak semudah itu,” kata Raras. Perangkai bunga semestinya menguasai prinsip dasar desain, unsur desain, dan teknik desain.

Dengan begitu perangkai menghasilkan karya yang harmoni, dinamis, dan sarat makna. Raras menuturkan rangkaian tak melulu berisi banyak bunga. Masih banyak materi flora lain seperti akar, batang, ranting, daun, buah, dan biji-bijian sebagai bahan rangkaian. “Ragam pilihan materi yang disertai dengan keterampilan sang perancang merupakan modal untuk melahirkan banyak rangkaian bunga nan elok,” ujar Raras. Oleh karena itu, ia selalu bekerja sepenuh hati saat merangkai bunga.

Raras mengerahkan segenap ilmu dan daya cipta untuk membuat rangkaian yang bernilai seni tinggi. Penyuka kopi itu menuturkan, inspirasi merangkai bunga bisa berasal dari mana saja. Ia biasanya menuangkan ide rangkaian dalam sebuah gambar sketsa terlebih dahulu sebelum proses merangkai dimulai. Langkah selanjutnya memilih materi flora sesuai dengan desain dan tema rangkaian.

Baju adat Papua karya Lucia Raras yang
dipamerkan dalam pagelaran Singapore
Dream Ball 2015.

Yang menarik, Raras sering kali menggunakan dedaunan sebagai materi utama dalam karyanya. Pehobi tari itu pernah memanfaatkan daun anggur laut Cocoloba uvifera untuk membuat rangkaian penghias dinding. Ia mengubah daun tanaman anggota keluarga Polygonacea itu menjadi bentuk corong. Dengan teknik itu penampilan daun pun terlihat lebih unik.

Pada rangkaian itu Raras juga memanfaatkan batang hanjuang, ruskus, dan puring. Rangkaian semakin cantik dengan penambahan beberapa kuntum anyelir putih. Ia menyematkannya di dalam corong anggur laut. Bagi Raras mempersembahkan rangkaian bunga terbaik merupakan cara untuk membahagiakan orang lain. Ia berupaya menyampaikan keindahan ciptaan Tuhan.

Sejak belia
Perkenalan Raras dengan dunia merangkai bunga berawal dari kecintaanya pada seni sejak masih belia. Dahulu ia gemar menghabiskan waktu luang untuk menari dan melukis. Saat duduk di bangku sekolah Raras sesekali memetik kembang dari halaman rumah. Ia mengumpulkan aneka bunga dan dedaunan menjadi rangkaian bunga sederhana. Kebiasaan itu mengantarkannya pada profesi seniman bunga.

“Saya merasakan kepuasan tersendiri ketika merangkai bunga,” katanya. Semula alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta itu perempuan kantoran. Ia bekerja di berbagai bidang seperti konsultan industri kapal pesiar, mentor perbankan, dan instruktur pemasaran. Namun, perjalanan kariernya itu harus terhenti lantaran kesibukan mengurus keluarga.

Rangkaian bunga penghias dinding
yang didominasi oleh dedaunan karya Lucia
Raras.

Di sela waktu senggang Raras memperoleh tawaran untuk merangkai bunga di gereja. Ia menerima permintaan itu meskipun belum cakap merancang bunga. “Saya hanya ingin memberikan persembahan terbaik sebagai bentuk pelayanan,” ujarnya. Tanpa disangka respons klien begitu menggembirakan. Itulah sebabnya gereja meminta Raras untuk mendekor lagi.

Lantaran ingin memuaskan kolega ia bertekad untuk serius belajar merangkai bunga. Raras belajar ilmu merangkai bunga dari tingkat dasar hingga profesional di sebuah sekolah merangkai bunga di Jakarta. Di sela waktu belajar itu tawaran untuk membuat rangkaian bunga kian berdatangan. Setidaknya ia melayani satu permintaan dekorasi rangkaian bunga dalam sepekan.

Pada 2008 Raras resmi tercatat sebagai anggota organisasi Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) cabang Jakarta Selatan. Ia menjabat sebagai sekretaris. Perlahan keterampilan merangkai bunga penggemar membaca itu makin terasah. Ia juga rajin mengikuti pameran, lomba, pelatihan, dan demo. Rangkain bunga karyanya beberapa kali terpampang di sejumlah media massa.

Ibu tiga anak itu juga pernah mengikuti lomba merangkai bunga untuk memperingati ulang tahun ke-38 Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Raras berhasil meraih juara ketiga dengan menampilkan rangkaian yang terinspirasi dari motif batik merak menari. Komponen utama rangkaiannya dari tanaman tropis seperti helikonia, melati, anthurium, anggrek bulan, dan puring.

Menghargai flora

Kegiatan merangkai bunga menggunakan
materi utama berupa tillandsia.

Pamor Raras di dunia merangkai bunga pun makin mengilap. Dalam sepekan ia bisa melayani dua kali permintaan merangkai bunga untuk mendekorasi gereja maupun pelaminan. Sesekali ia juga membuat rangkaian bunga untuk acara tertentu seperti arisan, ulang tahun, dan hari raya. Raras menuturkan, bunga tak bisa dipisahkan dari setiap fase kehidupan manusia.

Bunga menjadi penyemarak sejumlah peristiwa penting seperti kelahiran, ulang tahun, kelulusan, hari raya, dan pernikahan. Di sisi lain bunga hadir sebagai lambang duka dalam upacara kematian. Raras juga mendalami ikebana—seni merangkai bunga dari Jepang. “Ikebana mendekatkan manusia dengan alam,” kata Raras. Lewat ikebana perangkai belajar menghargai flora yang kurang sempurna seperti dedaunan layu atau ranting kering.

Pengukuhan Lucia Raras (tengah berambut sebahu dan berkacamata) sebagai ketua umum DPP IPBI
periode 2017—2022.

Bukan cuma itu ikebana juga mengajarkan filosofi yang tersembunyi dari setiap materi flora. Itu sebabnya rangkaian ikebana terkesan lebih hidup dan alami. Dedikasi Raras terhadap dunia merangkai bunga membuatnya dipercaya sebagai ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IPBI periode 2017—2022. Ia merangkul banyak pegiat bunga seperti paguyuban toko bunga di Rawabelong, Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO), dan Ikebana Ikenobo Indonesia.

Pagelaran Singapore Dream Ball menjadi
ajang unjuk kebolehan para seniman bunga
internasional.

Raras berkeinginan untuk mempopulerkan flora Nusantara. Menurut Raras Indonesia memiliki ragam flora yang melimpah. “Namun, kekayaan itu belum dikelola dengan baik sehingga pasokannya terbatas dan tidak kontinu,” ujarnya. Selama ini kebutuhan materi flora untuk para perangkai bunga masih didominasi oleh flora impor. (Andari Titisari)

Previous articleAral Berbisnis Tanaman
Next articlePionir Kantong Tanam
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kasimpo, Tanaman Endemik Sulawesi Keluarga Jahe-jahean

Trubus.id — Masyarakat dunia memanfaatkan tumbuhan anggota famili Zingiberaceae secara tradisional sejak lama. Pemanfaatan tanaman itu terutama sebagai pemberi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img