Trubus.id— Semula Muhammad Syaifullah hanya menuai 9 ton padi di lahan 1,5 hekatre. Namun, pada panen terakhir, Syaifullah memanen 15 ton padi di lahan yang sama. Itu setara 10 ton padi per ha. Artinya produktivitas sawah milik Syaifullah meningkat hingga 66%.
Petani di Desa Lalarliang, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), itu sukses meningkatkan hasil panen padi setelah membudidayakan padi secara intensif.
Sebelum penanaman, ia menaburkan 200 kg Petroganik Premium sebagai pupuk dasar untuk lahan 50 are atau 5.000 m². Sambil menunggu pemberian pupuk dasar, ia menyemai benih padi varietas logawa.
Setelah berumur 15 hari setelah semai (hss), Syaifullah menanami bibit di lahan menerapkan sistem jajar legowo (jarwo) 4:1. Jadi, setiap empat baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antarbarisan.
Syaifullah menanam bibit berjarak tanam 20 cm (antarbarisan dan pada barisan tengah) x 12,5 cm (barisan pinggir) × 40 cm (barisan kosong). Hanya 1—2 bibit per lubang tanam. Penanaman bibit tidak terlalu dalam hanya 1—2 cm.
Ia menyemprot pupuk berenzim yang berperan merangsang anakan tanaman berumur 8 hari setelah tanam (hst). Selanjutnya pada 12 hst ia menggunakan 100 kg pupuk Urea dan 75 kg Phonska Plus untuk lahan 50 are.
Sepekan setelah pemupukan pertama, Syaifullah kembali menyemprotkan pupuk perangsang anakan. Ia juga menyemprotkan herbisida dosis rendah untuk mencegah pertumbuhan gulma.
Pada 35 hst, ia memberikan 100 kg pupuk Phonska Plus dan 50—75 kg Urea untuk lahan 50 are. Saat 45 hst Syaifullah menyemprotkan 3 liter pupuk organik cair untuk lahan 50 are.
Setelah 30% tanaman mengeluarkan bulir padi atau sekitar 50 hst, ia memberikan 1 kg pupuk monokalium fosfat agar produksi bulir serempak. Saat bulir merunduk dan masih hijau (60—65 hst), Syaifullah menyemprotkan 250 ml fungisida untuk lahan 50 are.
“Sesudah itu tinggal tunggu panen,” tutur Syaifullah.
Dengan budidaya padi intensif seperti diterapkan Syaifullah, pantas bila hasil panen melimpah. Menurut Syaifullah budidaya intensif itu menaikkan biaya pemupukan, total Rp2.740.000 per 5.000 m².
Bandingkan pada periode budidaya sebelumnya yang belum intensif, biaya pemupukan hanya Rp1.180.000. Kenaikan biaya pemupukan, Rp1.560.000. Biaya meningkat, hasil panen pun mengikuti, yakni 5 ton setara Rp25 juta. Bandingkan dengan panen sebelumnya hanya 3 ton (Rp15 juta). Jadi, Syaifullah tetap meraih untung.
