Thursday, January 29, 2026

Petik Vanili di Halaman

Rekomendasi
- Advertisement -

Penanaman vanili di kebun yang jauh dari rumah rawan pencurian. Masyarakat beralih menanam vanili di pekarangan. Harga jual polong tetap menggiurkan.

Pemanenan umur 8-9 bulan menghasilkan polong bermutu. (Dok. Trubus)

Trubus — Nur Ali memanfaatkan pekarangan untuk menanam vanili pada 2018. Di depan dan samping rumahnya di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, itu masih tersisa tanah sekitar 50 m2. Bahkan di tepi teras sekalipun Nur menanam vanili. Ia memasang payung untuk menaungi vanili di teras karena tidak ada tempat untuk menanam pohon maupun jaring peneduh. Di pekarangan samping dan belakang rumah, ia memanfaatkan pohon gamal, randu, dan sengon sebagai tajar.

Total populasi di pekarangan mencapai 70 tanaman. Sebelum memanfaatkan lahan untuk lokasi budidaya vanili, area itu hanya ditumbuhi tanaman kayu atau lamtoro. Vanili di halaman rumah Nur Ali tumbuh subur dan mulai berbuah. Umur tanaman pada Agustus 2020 belum genap 2 tahun. Namun, ia memanen polong dari 40 sulur. Itu panen perdana. Putra sulung Nur Ali, Abdillah Winangsit, menimbang hasil panen dan memberi tahu total panen 10 kg polong segar.

Seleksi polong

Polong basah hasil panen tua laku Rp250.000 per kg. (Dok. Nur Ali)

Pengepul yang menyambangi rumah Nur Ali membayar polong itu Rp250.000 per kg. Hasil panen perdana itu Rp2,5 juta. Di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, menanam vanili di pekarangan merupakan hal baru.

Nur menuturkan, penanaman vanili di pekarangan rumah menyebabkan pengawasan dan perawatan tanaman lebih mudah. Polong bisa petik pada umur 8 bulan lebih tanpa keduluan pencuri. Petani berumur 45 tahun itu tidak menanam sendiri. Ia mengajak para tetangga menanam vanili sejak 2018. Ali mewadahi mereka dalam grup Whatsapp beranggota 30 orang. Mereka juga panen pada April—Mei 2020. “Tetangga ada yang dapat 18 kg dan 40 kg,” kata Nur Ali.

Tren penanaman vanili di pekarangan juga terjadi di Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Sekadar menyebut contoh, warga Sadang, Krisis Prayitno, menangguk omzet Rp4 juta setelah menjual 20 kg polong segar seharga Rp200.000 per kg. Krisis Prayotno berhimpun dengan 17 pekebun lain. Mereka berdiskusi dan bertukar informasi menggunakan telepon pintar. Nur Ali, Krisis Prayitno, dan rekan-rekan mereka menjual polong basah lantaran cepat memperoleh rupiah.

Pengawasan dan perawatan tanaman vanili di
pekarangan lebih mudah sehingga hasil optimal. (Dok. Trubus)

Pengepul membeli semua hasil panen mereka tanpa membeda-bedakan bentuk polong. Padahal sama-sama panen pada umur 8 bulan, polong lurus dan panjang lebih bernilai ketimbang polong pendek atau melengkung. Menurut wakil Koordinator Lapangan wilayah DKI Jakarta Dewan Vanili Indonesia (Devina-Devindo), Bayu Prakosa, dengan proses pelayuan yang benar polong lurus dan panjang bisa menjadi vanili kering kelas gourmet.

“Itu kelas tertinggi vanili,” katanya. Ciri gourmet adalah panjang 17—22 cm, lurus, utuh tidak pecah, beraroma harum khas vanili, kadar air 20—25%, dan berkadar vanilin minimal 1,8%. Pekebun mendapatkannya dengan menyeleksi tandan sejak polinasi agar terbentuk polong superior. Bunga yang nantinya tumbuh terjepit atau menghambat pertumbuhan polong lain dirompes.

Baca juga : Pasar Cari Bibit Vanili

Tanpa seleksi, tandan bisa menghasilkan 20—40 polong. Jumlah itu menjadi 10—20 polong pascaperompesan. Menurut ketua Perkumpulan Forum Petani Vanila Indonesia (PFPVI), Abu Darin, petani yang menjual polong berkualitas layak mendapat harga lebih tinggi. “Kami (PFPVI, red.) menjadikan seleksi polong sebagai prosedur standar,” katanya. Tujuannya mendongkrak kesejahteraan pekebun.

Panen tua

Menurut Krisis Prayitno tengkulak baru menaikkan harga jual pada 2019. Padahal di tempat lain, harga vanili melonjak sejak 2018. Contohnya pengalaman pekebun vanili di Kabupaten Manggarai Barat, Nusatenggara Timur, Aventinus Sadip. Ia menjual vanili kering kelas asalan kepada pengepul di Denpasar, Bali seharga Rp4 juta pada 2018.

Saat itu pasokan minim lantaran jumlah tanaman sedikit. Kondisi nyaris serupa terulang pada 2019. Bayu Prakosa menyatakan, harga polong basah saat itu minimal Rp170.000 per kg di kebun. Pada 2020, meski pandemi virus korona, harga polong berkualitas mencapai Rp340.000 per kg. Sementara itu polong kering harganya Rp2,7 juta—Rp3,4 juta per kg. Kondisi itu memicu munculnya pekebun baru maupun pekebun lama yang kemudian merawat kembali tanaman mereka.

Produsen ekstrak vanili  di Bali, Lidya Angelina Rinaldi. (Dok. Pribadi)

“Hasilnya pasokan di pasar bertambah,” kata Bayu. Sayang ia tidak bisa memprediksi jumlahnya. Menurut Bayu salah satu penyebabnya adalah banyaknya polong muda berumur 6 bulan atau kurang. Volume besar polong muda itu membentuk preferensi pasar. Pengepul enggan membeli polong tua sehingga pekebun kesulitan menjual. Menurut Abu Darin pengepul di sekitar Jember dan Banyuwangi angkat tangan ketika ia menawarkan gourmet hasil penyimpanan sejak 2018.

“Mereka tidak punya pembeli untuk barang seperti itu,” katanya. Akibatnya banyak pekebun yang memiliki polong berkualitas akhirnya memproses sendiri lalu menyimpan. Mereka berharap bisa menjual simpanan itu ketika harga kembali melonjak. Pengolah vanili di Bali, Lidya Angelina Rinaldi, bahkan sempat kesulitan mendapat pasokan. “Kami mau membeli tapi pekebun enggan menjual polong simpanan mereka,” kata produsen ekstrak dengan merek La Dame in Vanilla itu.

Setelah Lidya menemukan pemasok lain, pekebun yang semula enggan menjual justru memintanya membeli simpanan mereka. Ia tidak lagi bisa membeli karena sudah mendapat pasokan. Pengusaha vanili itu tidak bisa berbuat banyak ketika pengepul membanting harga hingga Rp1,5 juta per kg polong kering. Padahal, harga ekstrak vanili cenderung ajek. Abu Darin mengatakan, kondisi itu nyata, tapi terjadi pada perdagangan polong kelas asalan.

“Kalau kelas gourmet harga paling rendah Rp3 juta,” katanya. Oleh karena itu, ia mendorong pekebun panen tua dan menyeleksi tandan sehingga menghasilkan polong yang bagus. Saran itu juga berlaku bagi pekebun yang kini membudidayakan vanili di pekarangan rumah. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Kenapa Mangga Tidak Berbuah? Inilah Penyebab dan Solusinya

Mangga yang tidak berbuah umumnya dipengaruhi masalah fisiologi tanaman. Terutama ketidakseimbangan fase vegetatif dan generatif. Tanaman yang terlalu subur...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img