Monday, August 15, 2022

Seri Walet 279: Dua Kunci Naikkan Produksi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Jumlah ventilasi di gedung amat berpengaruh terhadap suhu dan kelembapan. (Dok. Philip Yamin)

Suhu dan kelembapan tepat kunci sukses meningkatkan perkembangan sarang di rumah walet.

Trubus — Penyebab klise pertumbuhan sarang walet terhambat atau stagnan antara lain karena kurang tepat tata ruang, tata suara, suhu, dan kelembapan. Di lapangan 80% permasalah yang paling sering dijumpai yakni suhu dan kelembapan kurang tepat. Oleh karena itu, walet menolak menginap. Suhu ideal walet agar menginap di kisaran 26—29°C dengan fluktuasi perubahan 2°C. Kondisi terbaik pada 27,5—28,5°C dengan fluktuasi 1°C.

Adapun kelembapan ideal berkisar 85—95% dengan fluktuasi tidak lebih dari 5%. Jika kelembapan kurang dari 70% sarang akan terlalu kering dan tipis. Terlalu lembap pun sarang akan penuh bulu. Musababnya proses pengeringan saliva atau liur walet sebagai zat penyususn sarang lambat jika lembap sehingga banyak bulu induk menempel di sarang. Itulah sebabnya sebelum membangun rumah walet, pastikan lokasi tepat.

Gedung anyar

Alat pengukur suhu dan kelembapan wajib ada di gedung walet.

Kiat agar suhu dan kelembapan pas lazimnya memperhatikan arah mata angin. Sebisa mungkin sisi bangunan terpanjang jangan menghadap timur atau barat. Paling berbahaya ketika menghadap ke barat. Misalnya gedung berukuran 4 m x 16 m. Jika memungkinkan yang menghadap ke barat adalah sisi gedung yang berukuran 4 meter. Itu berkaitan dengan paparan sinar matahari.

Jika bagian terpanjang gedung terpapar sinar matahari, dinding akan menyerap panas, suhu pun akan meningkat dan kelembapan menurun. Material dan ketebalan dinding juga menentukan suhu dan kelembapan dalam rumah walet. Makin tebal dinding makin bagus. Jika memungkinakan memasang 2 lapis dinding. Bahan bata merah dari tanah liat lebih bisa menghambat panas dibandingkan dengan batako.

Namun, jika bata merah sulit ditemukan bisa menggunakan batako dilapis stirofoam setebal 3—5 cm. Ketebalan tergantung kepadatan dan kerapatan stirofoam. Makin rapat makin baik. Setelah itu diberi kawat, plester, plamir, dan dicat putih. Pada bagian dalam atau interior penentuan lubang masuk burung dan ventilasi sangat berpengaruh terhadap sirkulasi udara, suhu dan kelembapan. Sirkulasi udara setiap lantai bagus terhubung pada lubang terjun.

Suhu dan kelembapan pas menjamin produksi sarang lancar. (Dok. Trubus)

Lubang terjun minimal berukuran 3 m x 3 m. Namun, idealnya mengikuti besar bangunan. Misal banguan berukuran 4 m x 8 m, maka ukuran lubang terjun 3 m x 4 m. Jika banguna 8 m x 12 m, ukuran lubang terjun 4 m x 8 m. Sirkulasi udara bagus karena lubang terjun besar membuat suhu dan kelembapan juga ideal. Tinggi ruangan pun berpengaruh. Makin rendah ruangan makin pengap. Minimal paling rendah 2,5 meter. Namun, idealnya di 3,5—4 meter.

Makin besar ruangan suhu akan lebih dingin. Sebaliknya makin kecil ruangan kian lembap. Sesuai dengan hukum fisika, suhu dan kelembapan biasanya berbanding terbalik. Jika suhu naik lazimnya kelembapan turun. Sebalikna jika kelembapan tinggi suhu akan turun. Oleh karena itu, perlu kejelian agar keduanya berpadu. Kunci pengaturan suhu dan kelembapan agar pas terletak pada ventilasi.

Aturan baku dalam membuat ventilasi memang tidak ada. Namun, membuat lubang ventilasi berlebih, lebih baik daripada kurang. Jika berlebih tinggal menyesuaikan dengan suhu dan kelembapan pas dan menutup lubang yang tidak terpakai. Jika lubang ventilasi kurang justru akan membutuhkan usaha berlebih membobok tembok untuk membuat ventilasi baru.

Lantai teratas

Lubang terjun tepat berpengaruh terhadap suhu dan kelembapan gedung. (Dok. Trubus)

Masalah lain yang kerap ditemui berupa lantai paling atas sebagai bagian paling panas. Kuncinya memasang atap. Makin tinggi atap, suhu ruangan makin dingin. Cara lain dengan melapisi atap dengan stirofoam dan alumunium foil buble untuk menurunkan suhu di lantai paling atas. Rongga di atap juga membantu sirkulasi udara agar tetap dingin. Namun, tetap rongga harus tertutup kawat pengaman agar hama seperti kelelawar, tokek, atau burung hantu tak bersarang.

Jika semua standar gedung sudah memadai, dengan sistem pengairan sederhana saja sudah cukup. Tanpa harus penambahan alat berupa pengabut atau pendingin ruangan. Musababnya, tambahan alat itu memerlukan daya sehingga membutuhkan biaya tambahan untuk pengoperasiannya. Namun, jika kondisi gedung sudah jadi dan sulit memodifikasi perlu mengadopsi teknologi.

Mesin pengabut, penyemprot air, blower, dan kipas, setiap alat terhubung pada sensor otomatis bisa menjadi pilihan mengoptimalkan suhu dan kelembapan. Sensor pun beragam, ada khusus suhu, kelembapan, atau keduanya. Pemakainnya dianjurkan setiap lantai menggunakan sebuah sensor. Sebab, sensor memiliki jarak jangkauan 20—30 meter persegi. Cara kerjanya serangkaian alat otomatis menyala jika suhu dan kelembapan tidak sesuai. Namun, investasi awal memang tinggi.

Jika lokasi dan populasi walet di sekitar baik, setelah mengaplikasikan sensor otomatis lazimnya akan mengalami peningkatan produksi sarang. Adaptasi burung menjadi lebih baik lebih cepat. Kualitas sarang pun baik putih dan tidak terlalu banyak bulu, tebal dan tidak keriting. Namun, perawatan gedung jangan diabaikan seperti pola panen, pembersihan gedung, pengendalian hama dan regenerasi anakan. (Philip Yamin, Konsultan Walet di Jakarta)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img