Tiga jenis mangga introduksi serempak berbuah di kebun Teddy Soelistyo. Jusuf Riyanto juga menyimpan mangga red brazil.

Trubus — Pengujung 2018 menjadi berkah bagi Teddy Soelistyo. Kemarau panjang dengan intensitas matahari yang terik memicu berbagai jenis mangga di kebunnya hampir semuanya berbuah. Salah satu yang menarik perhatian adalah mangga yang kulit buahnya golden honey.

Mangga itu mendapat sebutan golden lantaran kulit buahnya berwarna kuning, bahkan saat buah belum matang sempurna. Contohnya saat karyawan kebun Teddy membawakan salah satu buah golden honey yang jatuh. Semula ia menduga mangga itu jatuh lantaran sudah matang. Buah yang dibungkus dengan kertas pembungkus buah asal Thailand itu juga berwarna kuning merata.
Namun, ketika Teddy menekan buah, terasa masih keras. Itulah sebabnya, ia penasaran dan membelahnya. Ternyata warna daging buah dominan berwarna kuning pucat. Baru bagian tengah yang berwarna jingga. Saat mencicipnya pun rasa daging buah masih dominan masam. “Padahal kalau sudah matang sempurna rasanya manis. Itulah sebabnya disebut golden honey,” tutur Teddy.
Pembungkusan buah
Teddy menduga warna kulit yang kuning merata meski buah belum matang sempurna efek dari pembungkus buah yang ia datangkan dari Thailand. Menurut Teddy pembungkus buah itu memang kerap digunakan untuk membungkus jenis-jenis mangga yang berwarna mentereng, seperti mahachanok atau chokanan. Pembungkus buah itu terbuat dari bahan kertas dengan lapisan karbon warna hitam di bagian dalam.

bersemburat ungu meski
masih muda. (Dok. Trubus)
Teddy menuturkan ia memperoleh mangga golden honey dari Thailand. Pada November 2018 tanaman berbuah perdana. “Oleh sebab itu, perlu pengamatan lagi saat musim buah mendatang untuk melihat stabil atau tidaknya,” kata pemilik nurseri Pohon Buah di Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.
Mangga jenis lain yang sedang berbuah di kebun milik Teddy adalah wa wen. Mangga introduksi asal Taiwan itu baru berbuah pertama kali di kebun Teddy. Meski baru berbuah perdana, ia tampak bahagia lantaran wa wen mampu berbuah lebat. Dalam satu dompol buah bahkan terdiri atas lima buah. Teddy menuturkan karakter wang wern tergolong kelompok mangga berwarna merah.
Ciri khas wa wen adalah kulit berwarna merah keunguan. Sayangnya saat Trubus berkunjung buah masih mengkal. Namun, pada beberapa buah mulai terlihat semburat ungu dari pangkal buah. Keunggulan lain ukuran buah juga tak kalah jumbo dari yu wen, yakni berbobot rata-rata 700—800 g per buah, bahkan ada juga yang lebih dari sekilogram.
Coconut pakistan
Di kebun Teddy juga ada mangga coconut pakistan yang sedang berbuah. Disebut coconut konon ukuran buah bisa sebesar buah kelapa dan bentuk buah yang cenderung bulat. Di kebun Teddy mangga coconut pakistan itu mampu mencapai bobot hingga 1,047 kg per buah. Penampilan Mangifera indica itu tak kalah apik, yakni berkulit kekuningan dengan semburat merah. Namun, daging buah berkadar air banyak saat matang. Meski begitu, rasa daging buah yang dominan manis dengan sedikit rasa asam membuat mangga itu menyegarkan saat disantap. Ketiga jenis mangga introduksi itu mampu tumbuh optimal dan berbuah meski memperoleh perawatan sekadarnya.

Jusuf Riyanto. (Dok. Jusuf Riyanto)
Nun di Pematangsiantar, Sumatera Utara, ada Jusuf Riyanto yang juga mengoleksi mangga jenis anyar, yaitu red brazil. Ia menanam mangga itu pada 2018. Saat ditanam pohon sudah tinggi yaitu mencapai 2 meter. Oleh karena itu, hanya setahun tanaman anggota famili Anacardiaceae itu langsung berbuah. “Di tempat saya sudah dua kali berbuah,” tuturnya.
Ciri khas buah red brazil berkulit hijau dengan semburat merah kalau terpapar sinar matahari penuh. Di kediaman Jusuf bobot buah red brazil antara 400—600 gram. “Rasa daging buahnya manis segar dan bertekstur lembut dengan serat yang halus. Jenis ini juga tergolong genjah dan rajin berbuah walaupun hanya tanam di pot,” katanya.
Stiker Penunda Matang
Teman dan tetangga Zhafri Zainudin yang menjual buah sering kali mengeluh. Buah yang mereka beli dari pekebun kerap busuk sebelum sempat terjual. Rupanya kendala itu juga dialami para pedagang buah di Amerika Serikat. Sebanyak 52% buah dan sayuran segar yang dibeli dari pekebun berakhir di tempat sampah akibat membusuk sebelum dijual. Hal itu menyebabkan kerugian hingga puluhan miliar dolar per tahun.

Itulah yang mendorong Zhafri untuk mencari solusi agar buah tidak cepat busuk. Pria yang tinggal satu jam di bagian selatan Kualalumpur, Malaysia, itu lalu bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di sana untuk meriset pengawetan mangga. Pada 2014 ia akhirnya menemukan bahan alami yang dapat menghambat proses pematangan buah, yaitu campuran sodium klorida dan lilin lebah.
Bahan alami pengawet buah itu ia modifikasi dalam bentuk stiker yang ditempelkan pada buah. Selama ini buah-buahan di toko buah modern kerap menggunakan stiker sebagai label merek dari pemasok. “Jadi pemasok buah tidak perlu repot lagi menambahkan perlakuan lain. Cukup menempelken stiker merek, sekaligus pengawet buah,” tutur Zhafri.
Ia lalu menguji kemampuan stiker bermerek Stixfresh itu pada buah mangga. Hasilnya terbukti ampuh menghambat proses pematangan mangga sehingga daya simpan lebih lama. Mangga yang tidak ditempeli stiker mulai terdapat bintik-bintik busuk pada hari ke-23—ke-24. Adapun mangga yang ditempeli stiker mampu bertahan hingga hari ke-44. (Imam Wiguna)
