Saturday, January 17, 2026

Porang: Omzet Rp185 Juta/Ha

Rekomendasi
- Advertisement -

Permintaan porang terus melonjak. Banyak pekebun menjadi jutawan atau miliarder. Peluang untuk mengebunkan porang pun terbuka.

Budidaya porang terbukti meningkatkan
perekonomian masyarakat desa. (DOk. Trubus)

Trubus — Berkat sentuhan tangan Midas, benda apa pun berubah menjadi emas. Kisah bak Midas itu ada pada diri Paidi. Yang disentuh “Midas” dari Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, itu umbi porang. Paidi mengirim 1.200 ton irisan kering porang kepada eksportir pada 2019. Harga irisan umbi berkadar air 12% itu Rp57.000 per kg. Perniagaan porang memberikan omzet Rp68,4 miliar.

Paidi menjalin kontrak dengan
eskportir untuk
penyediaan 2.000 ton irisan kering porang pada 2020.

Paidi menuturkan, laba bersih perniagaan porang minimal Rp1,2 miliar setahun. Pengiriman 1.200 ton irisan porang itu belum memenuhi permintaan. “Saya memiliki kontrak memenuhi permintaan 2.000 ton irisan kering porang dari seorang pembeli pada 2020,” kata Paidi. Menurut Paidi permintaan porang mencapai 20.000 ton per bulan. Namun, ia belum sanggup memenuhinya meski bermitra dengan para petani lain.

Permintaan besar

Paidi memasarkan irisan umbi karena harga jual lebih besar. Satu kilogram umbi porang kering berasal dari 5 kg segar atau rendemen 20% pada musim kemarau. Sementara ketika musim hujan 7 kg umbi segar menghasilkan 1 kg irisan kering porang. Adapun biaya pemrosesan umbi segar menjadi irisan kering mencapai Rp42.000 per kg. Sementara itu lama pemrosesan umbi hingga 5 hari pada musim kemarau dan 9 hari pada musim hujan.

Irisan kering porang berkualitas premium siap
ekspor.

Perniagaan porang itulah yang mengubah nasib Paidi. Semula Paidi pemulung yang tinggal di rumah berlantai plester. Lihatlah sekarang rumah Paidi. Ia membangun rumah gedung di atas lahan 280 m². Selain itu ia juga mengendarai mobil untuk berbisnis umbi tanaman anggota famili Arecaeceae itu. Ketika mengawali bisnis, Paidi mengembangkan porang di lahan 2 hektare. Akitivitas bertani itu ia lakukan di sela-sela memulung.

Paidi memanfaatkan laba penjualan porang untuk memperluas lahan hingga kini menjadi 10 hektare. Meski demikian hasil panen di lahan sendiri belum mencukup kebutuhan porang. Ia juga menampung porang hasil budidaya petani lain di desanya. Pria 38 tahun itu akhirnya membangun perusahaan, PT Paidi Indo Porang, untuk mewadahi bisnis porang. Sejak 2016 Paidi meninggalkan memulung dan fokus mengembangkan porang.

Di Desa Kepel bukan hanya Paidi yang menangguk omzet besar dari porang. Uriantoro juga mengantong omzet Rp66 juta hasil perniagaan 4 ton umbi porang segar pada Mei 2019. Itu hasil budidaya porang di lahan 1.000 m² selama 6 bulan. Petani di Desa Kepel itu menerima harga Rp8.500 per kg. Jika mengolah menjadi irisan kering seperti Paidi, harga jual lebih tinggi.

Selain itu Uriantoro juga menjual 800 kg umbi sebagai bibit. Harga jual umbi untuk bibit lebih mahal, yakni Rp40.000 per kg. Ciri umbi untuk bibit antara lain berbobot 250 g dan sehat. Setelah dikurangi ongkos produksi, keuntungan bersih Uriantoro minimal Rp26,4 juta. Uri—sapaan akrab Uriantoro—membudidayakan porang Amorphophallus muelleri sejak 2014. Penanaman benih pada November dan panen pada Mei tahun berikutnya.

Uriantoro membudidayakan
porang sejak 2014.

Tanda tanaman siap panen jika rebah, daun menguning, dan bulbil rontok. Itulah saat porang dorman sehingga budidaya selesai. Satu tanaman menghasilkan sebuah umbi berbobot minimal 2 kg. Padahal, populasi mencapai minimal 10.000 tanaman per ha sehingga menghasilkan 20 ton umbi. Jika tidak dipanen, maka porang bakal bertunas lagi pada musim hujan berikutnya. Petani tetap dapat memanen umbi dan ukurannya lebih besar, yakni minimal 3 kg.

Uri mengatakan, “Saya tertarik menanam porang karena harga jual menguntungkan petani dan bisa mendapatkan hasil panen maksimal di lahan sempit.” Ia juga mudah menjual umbi karena banyak pengepul mencarinya. Sejak 2014—2019 hasil panen Uri selalu ludes. Perekonomian keluarga membaik berkat porang. “Saya bisa merenovasi rumah dan membeli 4 motor untuk anak-anak. Selain itu, saya membeli mobil Rp60 juta pada 2020,” kata Uri.

Pasar ekspor

Rodiyati Azrianingsih, S.Si., M.Sc., Ph.D., peneliti porang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. (Dok. Rodiyati Azrianingsih)

Sejatinya porang bukan komoditas baru. Bertahun-tahun petani di berbagai sentra di Jawa Tengah dan Jawa Timur menanam porang di bawah naungan. Namun, sejak 4 tahun terakhir permintaan porang terus meningkat. Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia, Rodiyati Azrianingsih, S.Si., M.Sc., Ph.D., mengatakan, kemungkinan penyebab melonjaknya permintaan umbi porang karena produksi konjac di Jepang dan Tiongkok menurun akibat serangan virus.

Paidi mengatakan, tren permintaan yang terus melonjak per tahun akan terjaga, bahkan hingga 10 tahun mendatang atau pada 2030. Dunia internasional membutuhkan porang karena kaya gizi. Guru besar di Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ahmad Sulaeman mengatakan, “Porang mengandung glukomanan tinggi, jumlahnya mencapai 40—50% dari bobot kering. Ini belum ditemukan pada produk tanaman lain.” Manfaat glukomanan antara lain menurunkan gula darah, kolestrol, dan bobot tubuh (baca: Perang Porang versus Gula Darah halaman 16­—17)

Selama ini pasar terbesar porang memang ke mancanegara seperti Jepang dan Tiongkok. Eksportir porang di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, PT Rajawali Penta Nusantara, pun rutin mengekspor irisan kering porang setiap bulan sejak 2015. Sayangnya perusahaan itu enggan menyebutkan volume ekspor. PT Rajawali Penta Nusantara memperoleh pasokan umbi dari petani di berbagai sentra seperti Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk—semua di Provinsi Jawa Timur.

Manajer Produksi PT Rajawali Penta Nusantara, Bambang Hernanto, menginginkan umbi berbobot 1 kg dan utuh. Eksportir lain, PT Ambico di Pasuruan, Jawa Timur, memanfaatkan umbi porang sebagai bahan baku konnyaku dan shirataki. Pasokan bahan baku dari pekebun di Jawa Timur seperti Probolinggo, Jember, Banyuwangi, dan Nganjuk. PT Ambico memproduksi 2.500 ton irisan porang kering setiap tahun.

Penanaman porang marak di berbagai daerah
di Indonesia sejak 2019.

Permintaan porang cenderung meningkat. Namun, pasokan umbi sangat terbatas. “Saya memiliki kenalan importir Cina yang mau membeli irisan kering porang berapa pun jumlahnya,” kata periset dari Universitas Brawijaya, Rodiyati Azrianingsih, S.Si., M.Sc., Ph.D.,. Bukti lainnya datang dari pengepul di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Riko Mahendra Devaputra. Ia memasok 600 ton umbi segar kepada para pengolah irisan porang kering di Kabupaten Madiun pada 2017.

Kini Riko memasok lebih dari 1.000 ton umbi porang pada 2020. Dengan kata lain permintan irisan dan umbi porang bertumbuh setiap tahun. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si, menuturkan, tren ekspor porang meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir (Lihat Volume Ekspor Porang).

Saat ini pemasaran porang memang untuk memenuhi permintaan ekspor. Data Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya mengungkapkan, Tiongkok merupakan konsumen terbesar porang asal Indonesia. Meski begitu Negeri Tirai Bambu itu menjadi eksportir porang terbesar di dunia. Posisi kedua dan seterusnya adalah Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Indonesia berada di urutan ke-18.

Adapun di Asia Tenggara Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Filipina dan Thailand. Fadjry Djufry menyatakan, importir porang terbesar sedunia yaitu Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, dan Prancis. “Bila kita bisa menembus pasar langsung ke negara importir, maka peluang ekspor kita meningkat signifikan,” kata doktor alumnus bidang studi Agroklimatologi/Pemodelan Tanaman, Institut Pertanian Bogor itu.

Hambatan bisnis

Pasar domestik hanya sedikit menyerap umbi porang. Menurut Rodiyati masyarakat hanya mengolah umbi porang menjadi irisan kering. Kebutuhan pasar domestik relatif kecil. Oleh karena itu, sebagian besar porang produksi petani di Indonesia untuk memasok pasar ekspor. Pantas peluang bisnis porang sangat besar. Namun, untuk menggeluti bisnis porang banyak kendala mengadang.

Uri merugi saat penanaman porang pada 2015. Saat itu 1 ton bibit tidak menghasilkan apa pun karena membusuk. Ia menduga kualitas bibit yang jelek dan banyaknya pupuk kimia menjadi penyebab gagal panen (Baca: Aral Bertanam Porang halaman 22). Menurut Fadjry Djufry tantangan lain pengembangan porang yakni belum tersedia varietas unggul, harga benih mahal, ekspor porang hanya terbatas pada irisan kering atau tepung, dan bocornya sumber daya genetik sehingga memunculkan kompetitor baru.

Jika petani mampu mengatasi beragam aral, petani meraih omzet besar. Dari lahan 1 hektare petani dapat meraih omzet hingga Rp185 juta per siklus budidaya atau 6 bulan (baca: Hitung Uang Porang halaman 14—15). Pantas banyak petani yang kini mengembangkan porang. Ketua Komunitas Porang Kelompok Tani Sarwo Asih di Dusun Giringan, Suyanto, memperluas penanaman hingga 1,5 hektare. Padahal, semula luas penanaman hanya 0,4 hektare. “Peningkatan penanaman porang di Desa Kepel signifikan. Setiap rumah pasti ada yang menanam porang. Masyarakat merasakan perbaikan ekonomi dari porang,” kata Kepala Desa Kepel, Sungkono, S.Sos.

Riko Mahendra Devaputra memasok porang lebih dari 1.000 ton pada 2020.

Boleh dibilang Sungkono yang menginspirasi masyarakat Desa Kepel untuk menanam porang. Musababnya ia yang memfasilitasi masyarakat untuk studi banding budidaya porang di kecamatan tetangga yang berjarak sekitar 60 km dari Desa Kepel pada 2010. Saat itu sekitar 30 orang mempelajari teknik budidaya dan potensi pasar porang. Sepulang dari sana, ada yang bertanam porang dan tidak.

Seiring meningkatnya harga porang, makin banyak masyarakat yang menanam tanaman kerabat aglaonema itu. Saat ini di Desa Kepel terdapat 60 hektare lahan porang. Masih ada lahan 200 hektare yang belum tergarap. Itu menjadikan desa yang menjadi Juara I Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Regional II (Jawa dan Bali) 2019 itu sebagai sentra baru porang di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Sebetulnya pengembangan tanaman kerabat bunga bangkai itu tidak hanya Jawa Timur. “Penanaman porang juga berlangsung di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kolaka Utara (Sulawesi Tenggara), Nusa Tenggara Barat, dan Lampung sejak 2019,” kata Suyanto. Ridwan Gumbira pun tertarik menanam porang di lahan 1 hektare pada Maret 2020. Jika semua berjalan lancar, Gugum—sapaan akrab Ridwan Gumbira—bakal memanen minimal 80 ton umbi porang segar pada 2021.

“Saya mengebunkan porang karena hasilnya menjanjikan,” kata warga Kelurahan Sasakpanjang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Peneliti porang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia, Universitas Brawijaya, Rodiyati Azrianingsih, S.Si., M.Sc., Ph.D., merespons positif dari segi antusiasme masyarakat menanam porang.

“Itu berarti penghormatan kepada tanaman asli kita yang sekarang menjadi emas hijau. Saya gembira dengan berkembangnya penanaman porang yang sebelumnya diabaikan,” kata Rodiyati. Emas hijau itu perlu sentuhan tangan para “Midas” yang mengebunkan porang di berbagai sentra. (Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img