Friday, January 16, 2026

Potensi Ekspor Sayur Kering : Omzet Ratusan Juta, Syaratnya Organik

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Pemilik perkebunan sayuran organik di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, John Tumiwa mengolah aneka sayuran kering. Bahan baku berasal dari sayuran tidak lolos untuk pasar swalayan dan kafe yang selama ini ia pasok.

Menurut John hal itu upaya  untuk menyelamatkan agar sayur itu tidak terbuang. Sebetulnya sayuran yang berkualitas kurang bagus itu bisa saja diolah menjadi pupuk organik.

Tumpuk sayuran dalam lubang, lalu berikan mikroognisme dan biarkan hingga terurai. “Namun, saya menginginkan ada nilai tambah,” ujar John.

John mengolah ragam jenis sayur seperti dari  bayam, kangkung, caisim, tomat, dan wortel. Bahkan ada juga kacang-kacangan seperti edamame. John menggunakan serbuk sayuran di kafe miliknya di Boja Farm.

Selain itu ia juga memasok sayuran kering ke restoran sebagai bahan tambahan untuk jus, smoothies, dan makanan untuk menambah nutrisi. Serbuk sayuran itu bisa juga untuk menambahkan nutrisi makanan bayi dan anak-anak yang tidak suka sayuran.

Lebih lanjut ia menuturkan “Saat ini kami juga tengah menjajaki kerja sama dengan pembeli dari luar negeri,” kata John. Potensi ekspor itu terbuka setelah mengikuti pameran Trade Expo Indonesia pada Oktober 2023.

Ternyata respons pengunjung cukup baik. Saat ini ia sudah mengirim sampel ke beberapa perusahaan. John juga kedatangan tamu dari misi perdagangan Kanada melalui Kementerian Perdagangan.

John menuturkan bahwa potensi ekspor itu hanya terbuka untuk perusahaan yang memproduksi sayuran organik dan bersertifikat organik dengan standar internasional.

Boja Farm dan para petani mitra sudah bersertifikat organik standar Amerika Serikat yaitu dari United States Department of Agriculture (USDA), Organic Control Union (Eropa), dan Japanese Agriculture Standards (Jepang). Dengan potensi itu, ia memperkirakan omzet hingga Rp100 juta per bulan.

John juga memiliki perusahaan Java Spices yang mengolah aneka herbal. Di perusahaan itu sudah ada mesin-mesin untuk mengeringkan aneka produk seperti teh herbal, bumbu, dan rempahrempah.

“Jadi, saya menggunakan fasilitas yang sudah ada untuk mengeringkan sayuran juga,” tutur pria yang mulai mengolah sayuran kering sejak 2017 itu.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img