Trubus.id—Penyakit yang disebabkan cacing Haemonchus contortus masih menghantui para peternak domba. Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Awistaros Angger Sakti, menjelaskan cacing itu menyerap darah ternak, sehingga nutrien pakan yang seharusnya beredar ke seluruh tubuh tanpa disadari akan berkurang.
Itulah yang membuat Angger dan tim fokus mengentaskan masalah penyakit cacing pada domba. Tujuannya memutus mata rantai penyebaran penyakit cacing pada ternak. Ia menuturkan, domba yang diternakan dengan cara diumbar rentan tertular. Hal itu karena pakan rumput yang tertempel telur cacing itu.
“Siklus hidup cacing ini dalam bentuk telur dan larva, bisa bertahan hingga tiga minggu, menempel pada rumput, terbawa oleh air hujan atau irigasi dan menyebar ke daerah lain yang tadinya bersih jadi terkontaminasi,” ujar Angger.
Lebih lanjut ia menuturkan telah ditemukan adanya resistensi parasit terhadap obat cacing sintetis. Sementara pemberian obat cacing sudah menjadi bagian dari Standar Operasional Prosedur di peternakan intensif.
Maka dari itu Angger dan tim sedang meriset bioaktif vegetasi darat dan laut sebagai bioantelmintik. “Salah satu solusi yang juga sudah dan sedang kami lakukan riset sejak tahun 2018 adalah dengan eksplorasi senyawa bioaktif vegetasi darat dan laut sebagai bioantelmintik,” katanya.
Ia menjelaskan bioantelmintik berbahan tanaman atau makroalga memiliki beberapa senyawa bioaktif yang bekerja secara bersama-sama. Sehingga parasit tidak memiliki kesempatan untuk bertahan terhadap senyawa tertentu.
Angger dan tim mengembangkan bioantelmintik dari tanaman leguminosa seperti gamal, daun sepatu, mimba, daun kersen, dan daun mengkudu. Riset terisebut pada 2016—2018 dan hasilnya ternyata memiliki efek terhadap antelmintik terhadap parasit domba ataupun kambing.
Pemberian praktis 10% segar dedaunan itu dari total hijauan pakan mampu memutus sikslus parasit di lambung dan usus. Dedaunan itu berfungsi membunuh cacing dewasa pada saluran pencernaan dan menghambat penetasan telur.
Ia dan tim juga mengembangkan makroalga sebagai kandidat bioantelmintik. Sejak 2022 hingga sekarang Angger dan tim itu mengidentifikasi beberapa makroalga tropis di Pantai Sepanjang, salah satu pantai di Kabupaten Gunungkidul.
“Secara umum sudah banyak makroalga yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan dan kosmetik atau non-pakan. Namun, ada beberapa jenis makroalga invasif yang belum dimanfaatkan. Pertumbuhannya yang pesat menyebabkan ekosistem pariwisata terganggu,” tutur Angger pada laman BRIN.
Angger dan tim mengidentifikasi dua belas spesies dan tiga di antaranya menjadi kandidat bioantelmintik yakni rumput laut merah, cokelat, dan hijau. Rumput laut merah paling efektif menurunkan motilitas cacing dewasa dan menghambat penetasan telurnya.
“Untuk makroalga hijau kita telah patenkan sebagai biontelmintik dalam bentuk cair dan tepung, sedangkan untuk makroalga merah masih dalam tahap riset sehingga kita belum bisa berikan saran berapa dosis yang dapat diberikan ke ternak,” ungkap Angger.
