Sunday, January 25, 2026

Potret Bisnis Jeruk Premium

Rekomendasi
- Advertisement -

Pasar kelas menengah atas menghendaki buah jeruk bermutu, yakni cita rasa manis, kulit jingga terang, dan mulus. Harga jual relatif tinggi dan stabil. Para pekebun sukses meraup laba dengan membidik pasar premium.

Jeruk jema’s berharga premium. Harga jeruk kualitas terbaik bisa mencapai Rp40.000 per kg

Trubus — Hamparan tanaman jeruk yang tumbuh di lahan 5 hektare milik Jasa Bagastara, S.T., itu tertata rapi. Sebagian pohon berbuah lebat. Dompolan buah berbalut kulit berwarna jingga terang menyembul menghiasi rimbunnya tajuk. Saking lebatnya, Bagas—panggilan Jasa Bagastara—terpaksa menopang hampir setiap cabang yang sedang berbuah dengan bambu.
Di kebun yang berlokasi di Desa Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu tumbuh 2.000 pohon jeruk jenis siam madu medan. Bagas memanen rata-rata 20 ton jeruk per bulan. Ia lalu menyortir menjadi lima kelas berdasarkan bobot buah. Bagas menyebutnya grade raja untuk jeruk berukuran besar yang terdiri atas 4—6 buah per kg. Harga jual mencapai Rp40.000 per kg.

Jasa Bagastara memanen jeruk jema’s hingga buah berwarna jingga penuh.

Adapun buah sekilogram isi 7—8 buah termasuk kelas super dengan harga jual Rp30.000 per kg, 9—10 buah per kg (kelas AB, harga Rp25.000), 10—12 buah per kg (kelas C, harga Rp20.000), dan 12—14 buah per kg (kelas D, harga Rp15.000). Harga jual itu tergolong premium bila dibandingkan dengan jeruk siam biasa yang hanya Rp7.000—Rp10.000 per kg di tingkat pekebun.

Harga stabil

Bagas menjual sebagian besar hasil panen melalui para pengecer yang tersebar di beberapa daerah seperti Bandung dan Bogor, keduanya di Provinsi Jawa Barat. Ia sengaja tidak menjual hasil panen melalui pengepul untuk memangkas rantai pemasaran.

Alumnus Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) itu juga menjual buah ke beberapa pasar swalayan di Kota Bandung. Bagas menyasar kalangan menengah ke atas karena harga jual jeruk relatif stabil. Bagas harus meningkatkan kualitas buah agar layak jual dengan harga premium. Ia memanen buah pada tingkat kematangan optimal.
Pekebun itu membiarkan buah hingga berwarna jingga penuh agar benar-benar matang pohon. Hasilnya rasa jeruk madu sadu sabilulungan—merek jeruk produksi Bagas yang disingkat dengan sebutan jema’s—menjadi istimewa. Saat Trubus mencicipnya rasa daging buah sangat manis. Pengukuran dengan refraktrometer menunjukkan, tingkat kemanisan jeruk siam madu produksi Bagas mencapai 13º briks.

Jasa Bagastara mengebunkan 2.000 pohon jeruk jema’s di lahan 5 hektar.

Padahal, buah itu hasil panen saat curah hujan tinggi yang menyebabkan rasa hambar. Keunggulan lain, kulit septa begitu lembut sehingga bulir-bulir jeruk langsung lumer di mulut saat disantap.

Meski harga jual jeruk siam madu relatif mahal, konsumen tetap memburu sehingga laris manis. Ia tidak pernah menumpuk sisa hasil panen di gudang karena selalu habis. Bahkan, ia terpaksa menolak permintaan dari beberapa pasar swalayan.

Dekopon

Ino Suwarno menyasar pasar jeruk premium dengan mengebunkan jeruk dekopon.

Menurut Bagas, “Untuk menghasilkan buah berkualitas perlu biaya tinggi terutama untuk pemupukan dan perawatan.” Ia harus merogoh kocek Rp35 juta untuk sekali pemupukan 2.000 pohon. Padahal, ia memupuk 4—5 kali setahun atau total Rp140 juta—Rp175 juta per tahun. Ia juga harus mengeluarkan biaya penyemprotan pestisida hingga Rp3,5 juta—Rp4 juta untuk sekali penyemprotan. Frekuensi penyemprotan sekali sepekan.

Jika setahun rata-rata 60 pekan, biaya penyemprotan hingga Rp210 juta—Rp240 juta per tahun. Belum lagi risiko kehilangan hasil panen akibat buah busuk yang tidak terjual karena Bagas memanen buah saat kematangan optimal. Selain jemas, jeruk lain yang mengisi pasar atas adalah dekopon.

Di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Ino Suwarno, juga membidik pasar premium dengan mengebunkan jeruk dekopon. Ia mengebunkan jeruk asal Jepang itu di rumah tanam seluas 1.750 m². Populasi 70 pohon berumur 7 tahun. Ino rata-rata memanen hingga 4—5 ton jeruk dekopon per tahun. Ia membagi hasil panen menjadi 4 kelas, yaitu grade AL, A, B, dan C.

Jeruk yang termasuk kelas AL berbobot lebih dari 500 g per buah dengan harga Rp70.000 per kg. Adapun kelas A terdiri berbobot 350—400 g per buah (Rp55.000—Rp60.000), kelas B 250 g per buah (Rp40.000—Rp45.000), dan kelas C 200 g per buah (Rp30.000). Harga jual itu per kg dan tergolong tinggi pada saat makin menjamurnya pekebun dekopon di tanah air. Menurut Ino pasar meminati dekopon dari kebunnya karena kualitas buah lebih bagus.

Harga jeruk dekopon kualitas terbaik bisa mencapai Rp70.000 per
kg.

Kulit buah dekopon di kebun Ino lebih bersih dan warna jingga lebih mentereng. Maklum, Ino mengebunkan dekopon secara intensif. Ia mengandalkan pupuk AB mix—lazim untuk budidaya sayuran hidroponik—dan aneka jenis pupuk mikro sebagai sumber nutrisi. Penanaman di dalam rumah tanam juga mampu menekan serangan hama lalat buah dan penyakit yang merusak kualitas buah.

Pantas bila Ino memiliki pelanggan fanatik yang hanya mau membeli dekopon dari kebunnya. Mereka biasanya datang langsung ke kebun. “Permintaan buah tinggi terutama menjelang hari Imlek pada Desember—Februari,” kata Ino. Ino belum mampu memenuhi permintaan dari luar kota, yaitu Surabaya, Jawa Timur. “Selama ini baru mampu melayani konsumen di Bandung dan Jakarta,” tuturnya.

Dongkrak pasar

Jeruk frimong berharga premium karena dibudidayakan secara organik.

Bagas dan Ino sadar betul bila pasar jeruk premium tak seluas pasar jeruk di pasar tradisional. Namun, Bagas lebih memilih segmen konsumen menengah ke atas karena harga jualnya stabil. “Mereka juga tidak mempersoalkan harga bila buah yang mereka beli berkualitas bagus,” ujarnya.

Menurut Soekam Parwadi dari Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas), sebuah jaringan pasar induk di beberapa kota, fluktuasi harga jeruk biasanya terjadi di pasar massal seperti pasar induk. Namun, di pasar kelas atas seperti pasar modern—terlebih jika kualitas buahnya bagus—atau pasar khusus seperti konsumen langsung, fluktuasi harga tidak terlalu terjadi. Contohnya Andy Utama yang mengebunkan 3.000 pohon jeruk frimong di lahan 6 hektare di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Andy membudidayakan frimong secara organik dan memperoleh serifikat organik dari Indonesian Organic Farming Certification (INOFICE) sejak 2013. Dari populasi sebanyak itu, ia memanen 600 kg setiap pekan. Andy menjual langsung ke konsumen akhir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) Rp45.000—Rp50.000 per kg. Meski berharga premium, jeruk frimong produksi Andy tetap laku. Apalagi dengan nilai tambah organik, harga jual pun ajek. Meski demikian para pekebun menghadapi kendala.

Pekebun harus agresif membuka pasar. Maklum, menjual buah berharga premium sulit melalui jalur pemasaran konvensional seperti pengepul. Itulah sebabnya mereka melakukan berbagai upaya untuk memperluas pasar seperti penggunaan media sosial. Ino Suwarno menempuh hal serupa. Beberapa pelanggan banyak yang datang langsung ke kebun bila saat musim berbuah tiba.

Mereka berswafoto lalu menggunggahnya di media sosial sehingga mengundang para warganet untuk datang. Para konsumen itu sejatinya pemasar yang membantu penjualan jeruk bermutu untuk kalangan menengah atas.

Agrowisata Dongkrak Harga

Beberapa pekebun memilih strategi berbeda untuk meraup laba dari pasar premium. Bila Jasa Bagastara meningkatkan kualitas buah untuk mendongkrak harga, maka Rizal Fahreza memberikan “pelayanan ekstra” kepada konsumen melalui konsep agrowisata. Padahal, pekebun di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu menanam varietas jeruk siam yang tergolong produk massal. Ia menanam 1.200 pohon jeruk siam di lahan 1,2 hektare.

Dengan konsep agrowisata, konsumen datang langsung ke kebun dan memetik sendiri jeruk yang sudah matang. Berkat strategi itu Rizal mampu menjual jeruk siam dengan harga mencapai Rp20.000 per kg. Harga jual itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual buah ke pengepul yang hanya Rp7.000—Rp10.000 per kg saat musim buah normal. Saat panen raya harga jeruk siam bisa lebih rendah dari harga itu.

Hal yang sama juga dilakukan Dadan Mutaqein yang menanam jeruk jenis 700 pohon siam, 300 pohon keprok garut, dan 200 pohon chokun di lahan 1,5 hektare. Ia hanya menjual hasil panen kepada pengunjung yang datang ke kebunnya di Desa Cintarakyat, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Kebun agrowisata bernama Bosaga itu menjual jeruk siam dengan harga Rp20.000 per kg, keprok garut Rp25.000, dan chokun Rp25.000. (Imam Wiguna/Peliput: Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img