Inovasi budidaya vannamei di air tawar atau salinitas rendah. Para ahli berbeda pendapat.

Trubus — Banyak yang belum mengetahui di Lamongan berkembang budidaya vannamei di salinitas rendah. Sekilas tidak ada perbedaan antara vannamei dari kolam bersalinitas tinggi dan rendah. Namun, perlu beberapa perlakuan agar budidaya satwa air anggota famili Penaeidae itu di salinitas rendah berhasil. Ketua Shrimp Club Medan periode 2018—2023, Erwin Budiman, B.I.S., tidak menyarankan budidaya vannamei salinitas rendah karena risikonya terlalu tinggi. Sebaiknya sistem budidaya itu tidak dijadikan tren di masyarakat lantaran khawatir banyak orang baru mengenal udang lalu terjun ke bisnis itu dan gagal. Sebagai informasi budidaya udang salinitas rendah berkembang di Thailand. Bagaimana pengembangan budidaya udang salinitas rendah di Indonesia? Berikut pendapat para ahli akuakultur di tanahair.

Perekayasa Utama Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara (Dok. Darmawan Adiwidjaya)
Budidaya vannamei salinitas rendah sudah lazim di beberapa daerah di Indonesia seperti Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik, keduanya di Jawa Timur. Selain itu juga Kabupaten Demak, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Kendal, ketiganya di Jawa Tengah. Air kolam di daerah itu kurang dari 5 ppt. Para pembudidaya di daerah itu menerapkan teknologi plus hingga intensif dengan sistem panen parsial.
Beberapa tip agar budidaya vannamei salinitas rendah berhasil antara lain pemilihan lokasi masih kawasan pantai dan sumber air payau tersedia. Syarat lainnya yakni wadah budidaya tersedia dan memenuhi syarat teknis (terbuat dari tanah, beton, plastik dan berukuran 100—1.000 m2), sarana dan prasarana memadai (ada jaringan listrik dan irigasi), menggunakan benih yang baik sesuai standar nasional Indonesia (SNI).
Selain itu pemantauan pertumbuhan dan kesehatan udang secara rutin dan cermat. Pengembangan budidaya vannamei salinitas rendah dan optimal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tidak dianjurkan. Alasannya berdampak buruk pada lingkungan dan pemukiman. Namun, teknik itu dapat diaplikasikan di perkotaan beriklim mikropantai dengan menggunakan wadah budidaya terkendali dan dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baik.
Prospek budidaya vannamei salinitas rendah pada 3—5 tahun mendatang dengan model skala rumah tangga (luas 100—1.000 m²) cukup baik dan berkembang pesat. Namun terkendala permodalan, asuransi usaha budidaya, dan dampak lingkungan yang harus terkendali.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah (Dok. Hasanuddin Atjo)
Udang merupakan binatang yang hidup di perairan tawar, asin, atau payau. Vannamei salah satu udang yang dibudidayakan di tambak. Saat ini petambak mulai beralih beternak vannamei di salinitas rendah. Teknik itu merupakan sistem baru yang terutama digunakan untuk tambak dengan penebaran benur rendah. Pembudidaya memanfaatkan tambak pesisir yang pada musim hujan berair tawar. Meski begitu masih ada mineral-mineral garam sehingga tidak murni air tawar.
Pembudidaya vannamei salinitas rendah di Indonesia masih sedikit seperti di Gresik dan Sidoarjo, keduanya di Jawa Timur. Wilayah lain seperti Sulawesi Selatan pun masih jarang ditemui, meskipun masih sedikit yang menerapkan teknik itu. Budidaya vannamei salinitas rendah bukanlah usaha utama. Itu hanya usaha memanfaatkan hujan. Musababnya hujan terus menerus menyebabkan air di tambak menjadi tawar. Oleh karena itulah, para pembudidaya beternak vannamei salinitas rendah.
Sebetulnya pertumbuhan vannamei di salinitas rendah tidak maksimal karena tidak sesuai kebutuhan biologis udang. Padat tebar juga rendah karena saat ganti kultur memerlukan mineral tertentu. Mesti ada proses adaptasi benih sebelum masuk ke tambak bersalinitas rendah. Untuk membudidayakan vannamei di lokasi jauh dari pantai seperti Jabodetabek bisa menggunakan sistem resirkulasi. Artinya tetap menggunakan air laut tapi diresirkulasi. Penambahan air tawar hanya untuk menggantikan air laut yang hilang karena penguapan.
Taiwan dan Vietnam mulai menerapkan teknik itu. Pemerintah kedua negara itu menyediakan air laut bersih dan air bersih yang didistribusikan ke pemilik kolam resirkulasi. Prospek budidaya vannamei salinitas rendah tergantung pasar. Daerah seperti Bandung memungkinkan membuat sistem resirkulasi. Di masa depan resirkulasi sistem paling aman sehingga sudah ada percobaan menggunakan teknik itu.

Anggota Staf Pengajar Program Studi Akuakultur dan Ilmu
Kelautan, Universitas Malikussaleh (Dok. Erlangga)
Vannamei jenis udang yang bisa dibudidayakan di air tawar bersalinitas rendah 0—5 ppt. Budidaya vannamei salinitas rendah belum lazim di Indonesia. Namun, sudah ada yang menerapkan teknik itu di Lamongan dan Gresik, keduanya di Jawa Timur. Di Aceh belum ada yang mengembangkan budidaya vannamei salinitas rendah. Para pembudidaya masih menggunakan air payau.
Stok benur untuk salinitas rendah pun belum ada di Aceh. Jadi aklimatisasinya susah, biayanya lebih besar, dan risiko kegagalan tinggi. Itu salah satu kendala berkembangnya budidaya vannamei salinitas rendah di Aceh. Masyarakat di Jakarta dan sekitarnya (Bodetabek) memungkinkan menerapkan teknik budidaya itu. Pastikan pasarnya dahulu apakah sesuai selera masyarakat.
Budidaya vannamei salinitas rendah perlu dilakukan di Indonesia dan mancanegara karena permintaannya meningkat. Teknik itu bakal berkembang 3—5 tahun mendatang. Bisa juga berhenti selama puluhan tahun ke depan. Semua itu tergantung permintaan dan pasar. Budidaya vannamei salinitas rendah bertahan lama jika konsumen menyukai cita rasa daging vannamei salinitas rendah. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bilqis Sinar Rizki Harumingtyas, Gabrella Chandrawati, dan Triana Nur Azizah)
