
Beragam kendala mengadang budidaya vannamei salinitas rendah dan cara mengatasinya.
Trubus — Agus Barudin terpaksa memanen total udang vannamei pada 48 hari pascatebar. Semestinya panen total dilakukan ketika Litopenaeus vannameii berumur 57 hari setelah masuk kolam. Sebelumnya Agus juga memanen parsial ketika udang baru berumur 43 hari, normalnya pada 48 hari pascatebar. “Nafsu makan udang terus menurun karena terserang penyakit sehingga panen lebih cepat,” kata peternak di Situbondo, Jawa Timur, itu.

Keberadaan kotoran putih yang mengapung di kolam bukti sahih vannamei terserang penyakit kotoran putih atau white feces syndrome (WFS). Kondisi vannamei memburuk akibat serangan penyakit myo atau Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV). Gejalanya ekor berwarna kemerahan. Jika tidak segera dipanen lebih banyak udang yang mati. Dampak terburuk gagal panen.
Pada Desember 2018 kematian satwa air anggota famili Penaeidae itu mencapai 45%. Total jenderal Agus hanya memanen 700 kg vannamei di kolam berukuran 4.000 m2 bersalinitas 0 ppt. Rinciannya hasil panen parsial pertama 500 kg seharga Rp46.000 dan panen total mendapatkan 200 kg berharga Rp44.000. Jadi omzet Agus Rp31,8 juta dari kolam vannamei salinitas 0 ppt.
Mahal
Idealnya jika tanpa serangan penyakit dan sintasan 90% Agus menuai 5 ton vannamei dari kolam bersalinitas 0 ppt. Jika harga udang Rp45.000 per kg, maka omzet Agus Rp225 juta. Artinya potensi kerugian Agus mencapai Rp193,2 juta. Peneliti udang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujungbatee, Nanggroe Aceh Darussalam, Ibnu Sahidhir M.Sc., menduga kedua penyakit muncul karena pakan yang diberikan berlebihan (overfeeding).

Necrosis Virus (IMNV) salah satu momok beternak udang. (Dok. Agus Barudin)
Pada hari ke-1—ke-5 Agus memberikan 3 kg pakan sekali pemberian. Saat itu pemberian pakan 4 kali sehari sehingga total pakan 12 kg. Selanjutnya jatah pakan meningkat 1 kg jika nafsu makan udang introduksi itu bagus. Menurut Ibnu 1 kg pakan per hari dengan padat tebar 100.000 benur di kolam 4.000 m² yang dikelola Agus memadai. Ada 11 kg pakan yang menjadi pupuk dan hari kelima sisa pakan mencapai 55 kg.
Semua praktik pembudidaya saat ini termasuk overfeeding. Jadi tidak heran terserang penyakit,” kata alumnus magister akukultur di National Taiwan Ocean University, Keelung, Taiwan, itu. Manajemen pakan berasal dari pabrik pakan tanpa memikirkan kondisi mikrob. Sementara yang diuji hanya kimia air. Padahal 12 kg pakan per hari yang masuk ke kolam tidak berefek besar terhadap kimia air.

Namun, jumlah itu bedampak besar menentukan bibit awal mikrob yang berkembang sepanjang budidaya berlangsung. Menurut Ibnu sebaiknya pemberian pakan mengacu pada kestabilan ekosistem mikrob. Misal blind feeding maksimal mencapai 200% bobot biomassa satwa kerabat udang windu Penaeus monodon itu. Dengan kata lain penyakit menyerang udang di kolam salinitas tinggi atau rendah jika pakan berlebih dan ekosistem mikrob tidak stabil.
Selain penyakit, tantangan lain beternak udang asal daerah subtropis pantai barat Amerika itu adalah mahalnya garam krosok. Peternak di Lamongan, Jawa Timur, Cipto Husodo, mesti merogoh kocek Rp1 juta hanya untuk membeli 8 sak garam krosok per siklus selama 2 bulan. Garam krosok diperlukan untuk menjaga salinitas air kolam agar pertumbuhan udang maksimal.

Teknologi Akuakultur,
Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si, “Pertumbuhan vannamei di salinitas rendah lebih lambat dibandingkan yang normal”.
Menurut Cipto biaya garam krosok itu terlalu besar. Solusinya ia membuat sumur bor dekat kolam. Air dalam sumur bor yang bersalinitas sekitar 8 ppt dapat menggantikan fungsi garam krosok. Menurut Dosen Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Pasarminggu, Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si, tindakan Cipto sudah tepat. “Mineral dalam air sumur yang payau tidak bisa ditandingi garam krosok,” kata Sinung.
Mineral
Menurut Sinung pertumbuhan vannamei di salinitas rendah lebih lambat dibandingkan di kolam air payau. Vannamei di kolam Agus buktinya. Saat panen pada 48 hari pascatebar udang di kolam bersalinitas 15 ppt berukuran 96 setara berbobot 10,4 gram. Sementara bobot udang vannamei di kolam bersalinitas 0 ppt mencapai 7,4 gram atau berukuran 136. Selain itu tekstur vannamei salinitas rendah lebih lunak ketimbang salinitas normal.
Menurut Sinung mungkin itu ada pengaruh ke cita rasa. Namun penjualan vannamei tidak ada patokan bertekstur lunak atau keras, hanya mengacu pada ukuran. Itu yang menjadi keuntungan pembudidaya vannamei salinitas rendah. Ibnu mengatakan kulit udang sulit mengeras kembali setelah berganti kulit akibat kekurangan mineral makro dan mikro. Solusinya tambahkan mineral itu dalam pakan. (Riefza Vebriansyah)
