Produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik Pawito Saring melonjak drastis setelah peremajaan kebun. Dari sebelumnya hanya sekitar 20 ton per tahun, kini hasil panen mencapai 52 ton dari lahan seluas 2 hektare (ha).
Pekebun di Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, itu menyebut peningkatan produksi terjadi setelah menggunakan bibit unggul varietas Topaz. Varietas tersebut memiliki keunggulan dapat ditanam lebih rapat dengan populasi mencapai 141 tanaman per hektare, lebih tinggi dibanding varietas lain yang rata-rata hanya 132 tanaman per hektare.
Selain faktor bibit, kemitraan dengan perusahaan kelapa sawit juga turut berperan. Pawito bermitra dengan Asian Agri yang memberikan pembinaan teknis budidaya. Ia juga memperoleh kemudahan akses permodalan dari perbankan dengan jaminan dari perusahaan mitra.
Keuntungan lain adalah kepastian pasar. Hasil panen Pawito diserap perusahaan dengan harga Rp2.600 per kg, lebih tinggi dibandingkan harga pada 2020 yang hanya berkisar Rp1.700—Rp1.800 per kg.
Menurut praktikus senior kelapa sawit, Joko Supriyono, penggunaan bibit unggul menjadi kunci utama peningkatan produktivitas. Ia menilai penggunaan bibit tidak jelas asal-usulnya serta teknik budidaya yang kurang tepat menyebabkan rendemen minyak kebun rakyat rendah, bahkan di bawah 20%.
Agronom senior Syaiful Bahri Panjaitan menambahkan bahwa pekebun sebaiknya menggunakan bibit bersertifikat dari lembaga terpercaya seperti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Bahkan perusahaan besar seperti Grup Wilmar International memiliki unit pembibitan sendiri untuk memastikan kualitas tanaman.
Selain bibit, faktor kultur teknis turut menentukan hasil produksi. Tahapan tersebut meliputi persiapan lahan, kastrasi, pemupukan, penanaman legume cover crop (LCC), serta pengendalian gulma. Kastrasi, yakni pemotongan bunga pada tanaman muda umur 8—14 bulan, bertujuan agar tanaman tidak berproduksi sebelum siap secara fisiologis.
“Banyak pekebun bangga jika tanaman berbunga pada umur setahun, padahal kualitas buahnya rendah karena tanaman belum mampu menyuplai nutrisi optimal,” ujar Syaiful.
Pemupukan juga harus disesuaikan dengan umur tanaman. Pada fase pembibitan, tanaman memerlukan unsur nitrogen dan fosfor tinggi, misalnya melalui pupuk NPK Mg 15-15-6-4. Memasuki tahun kedua, kebutuhan kalium meningkat sehingga komposisi pupuk berubah menjadi NPK Mg 12-12-17-2.
Untuk tanaman menghasilkan, dosis pupuk meningkat hingga 3,5—7,75 kg per pohon per tahun tergantung umur tanaman. Selain unsur makro, unsur mikro seperti boron juga sangat penting karena berperan dalam pembentukan sel dan membantu penyerapan hara lain.
Menurut ahli kelapa sawit, Witjaksana Darmosarkoro, setiap tandan buah segar mengandung sekitar 15 ppm boron. Jika produksi mencapai 30 ton per hektare per tahun, maka unsur hara yang terangkut dari tanah sangat besar sehingga perlu penggantian melalui pemupukan.
Faktor lingkungan juga tak kalah penting. Tanaman sawit membutuhkan air dalam jumlah cukup, tetapi tidak tahan terhadap genangan. Di lahan rawa, diperlukan sistem drainase yang baik. Sebaliknya, kekeringan panjang seperti saat fenomena El Nino dapat menurunkan produksi karena dominasi bunga jantan yang tidak produktif.
Dengan kombinasi bibit unggul, teknik budidaya tepat, dan dukungan lingkungan, kebun sawit berpotensi menghasilkan minimal 24 ton TBS per hektare dengan rendemen minyak 23—25%. Angka tersebut setara dengan produksi minyak sawit mentah (CPO) sekitar 5,5—6 ton per hektare per tahun.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas sawit rakyat sangat mungkin dilakukan, asalkan pekebun menerapkan praktik budidaya yang baik dan menggunakan bahan tanam berkualitas.
