Thursday, January 22, 2026

Produktivitas Sorgum Melonjak Lewat Varietas Ini

Rekomendasi
- Advertisement -

Lazimnya, produksi sorgum rata-rata nasional hanya mencapai 2—3 ton per hektare (ha). Namun, Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menghasilkan dua varietas sorgum unggul, yakni IPB Sorice Merah dan IPB Sorice Putih. Sorice merupakan singkatan dari sorghum rice atau beras sorgum yang menandakan kegunaannya sebagai sumber pangan alternatif.

Varietas sorgum dengan produktivitas tinggi itu menjadi harapan baru bagi petani.
Produktivitas sorgum IPB Sorice Putih rata-rata mencapai 7 ton per ha. Kedua varietas tersebut dibidani oleh lima periset IPB, yakni Dr. Desta Wirnas, Dr. Trikoesoemaningtyas, Prof. Didy Sopandie, Dr. Siti Marwiyah, dan Erin Puspita Rini, S.P., M.Si dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB.

Desta mengungkapkan bahwa IPB Sorice Merah berpotensi menghasilkan panen hingga 7,25 ton per ha, sedangkan IPB Sorice Putih mencapai 7,07 ton per ha. Sorgum berbiji merah itu merupakan hasil seleksi dari populasi persilangan antara galur introduksi PI-150-20-A dengan varietas nasional Kawali. Adapun IPB Sorice Putih yang berbiji putih merupakan hasil seleksi dari persilangan galur introduksi PI-150-20-A dengan varietas nasional Numbu.

Produksi kedua varietas tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan potensi hasil tetuanya, yakni Kawali dan Numbu, yang masing-masing hanya mencapai 2,96 ton per ha dan 3,11 ton per ha. “Sorice juga tumbuh baik di lahan kering bertanah masam,” ungkap Desta. Kondisi itu memungkinkan pengurangan penggunaan kapur pertanian. Uji multilokasi Sorice dilakukan di Jawa Barat, Lampung, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan.

Keunggulan lain IPB Sorice adalah ketahanan moderat terhadap penyakit karat daun. Selain itu, IPB Sorice mampu membentuk tanaman ratun setelah dipangkas saat panen. Dengan kemampuan tersebut, petani dapat memanen lebih dari satu kali hanya dengan sekali tanam. Menurut Desta, kemampuan meratun juga membantu konservasi tanah karena lahan tidak perlu diolah ulang. Tanaman ratun juga lebih hemat air dan pupuk. Hasil panen tanaman ratun mencapai sekitar 60% dari tanaman utama.

Daun dan batang sorgum IPB Sorice juga berpotensi sebagai pakan ternak sapi karena memiliki sifat stay green atau tetap hijau saat dipanen.
Varietas unggul lainnya ialah Bioguma Agritan, hasil pemuliaan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika Pertanian (BB Biogen) yang kini bernama Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BRMP Biogen). Bioguma Agritan merupakan sorgum manis unggul dengan tingkat kemanisan nira hingga 15,54° brix.

Pemulia Bioguma adalah Prof. Dr. Endang Gati Lestari, M.Si, doktor biologi alumnus IPB. Ia membidani lahirnya Bioguma 1, Bioguma 2 Agritan, dan Bioguma 3 Agritan sejak 2014 bersama tim yang terdiri atas Dr. Iswati Saraswati Dewi, Dr. Rossa Yunita, Dr. Amin Nur, Muhammad Azrai, dan Dr. Karlina Syahruddin.

“Masing-masing varietas memiliki keunggulan, baik dari produktivitas biji, kandungan gula, maupun biomassa,” ungkap Endang.

Bioguma tergolong sorgum serbaguna karena mampu menghasilkan nira dari batang sekaligus biji dalam jumlah tinggi. Produktivitas biji Bioguma mencapai 6,98—7,11 ton per ha, bahkan berpotensi hingga 9,33 ton per ha pada lahan subur dengan perawatan intensif.

Bioguma juga dapat dibudidayakan secara ratun dengan frekuensi panen hingga empat kali. “Bahkan bisa mencapai tujuh kali di lahan subur,” ujar Endang. Petani cukup memangkas batang hingga tersisa 5—10 cm dari permukaan tanah setelah panen perdana, kemudian melakukan pemupukan sesuai dosis awal.

Meski tanaman Bioguma tergolong jangkung dengan tinggi mencapai 266 cm, varietas ini tahan rebah karena diameter batangnya cukup besar. Keunggulan lainnya adalah kandungan nutrisinya yang tinggi, meliputi protein 9,12—9,36%, lemak 3,81—4,09%, karbohidrat 61,40—69,40%, serta tanin 0,10—0,14%. Kandungan gizi tersebut berpotensi menjadi asupan bagi anak-anak yang mengalami tengkes (stunting).

Selain itu, Bioguma juga berpotensi sebagai pakan ternak karena pada saat masak fisiologis, yakni sekitar 105 hari, daunnya masih tampak hijau. Bahkan pada fase tersebut, volume nira dan kandungan gula berada pada kondisi optimum.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img