Trubus.id—Prospek ekspor bunga telang kering kualitas premium kian menjanjikan dengan harga ratusan ribu rupiah per kilogram. Petani telang di Kota Serang, Nur Agis Aulia, S.Sos membudidayakan 200 tanaman telang di lahan seluas 2.000 m2 .
Dari kebun itu ia memanen 10 kg bunga segar setiap hari. Ada tiga hal yang menurut Agis menjadi alasan ia memilih telang. “Panen setiap hari, ada pasar, dan budidaya mudah,” jelas pria berumur 35 tahun itu.
Agis rutin mengisi pasar ekspor. Ia menghasilkan 100—1.000 kg telang kering seharga Rp700.000—Rp1 juta per kilogram saban bulan. Pasar utama telang Agis yakni Turki.
Tren meminum teh di Timur Tengah dan Eropa menjadi alasan bunga telang kian diminati. Kini anggota DPRD Kota Serang itu tengah berekspansi ke pasar Eropa dan Amerika.
Pasar telang sebagai komoditas ekspor cukup menjanjikan terutama penggunaannya sebagai minuman herbal alami.
Peneliti di Institute for Molecular Bioscience, The University of Queensland, Australia, Georgianna K. Oguis, mengulas cyclotide, senyawa utama dalam telang, yang memiliki kegunaan pada industri pertanian dan kedokteran.
Cyclotide merupakan senyawa peptida yang memiliki struktur unik dan sifat biologis yang menarik.
Dalam konteks pertanian, telang meningkatkan produktivitas tanaman, melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit, serta memperbaiki kualitas tanah melalui sifat-sifatnya yang menguntungkan bagi tanah.
Di bidang kedokteran, kajian itu menyoroti potensi penggunaan telang dalam pengobatan tradisional dan modern.
Cyclotide memiliki aktivitas farmakologis yang meliputi antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan antikanker. Oleh karena itu, telang digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan. Sebut saja meredakan peradangan, meningkatkan kesehatan mental, dan membantu perawatan kulit.
