
Jeruk asal Pulau Jeju bersosok elok. Kulit jingga mulus dan bercita rasa manis.

Trubus — Pemandangan menarik tampak di sepanjang jalan menuju Provinsi Seogwipo, di Pulau Jeju, Korea Selatan. Di sisi kanan dan kiri jalan terhampar deretan pohon jeruk yang tengah berbuah lebat. Kepemilikan kebun jeruk di Jeju 300-1.000 m² per petani. Selain itu hampir setiap kepala rumah tangga di Seogwipo pun setidaknya menanam 3 pohon jeruk di pekarangan rumahnya. Sentra jeruk itu dapat dicapai satu jam bermobil dari Bandara Internasional Jeju.
Pulau Jeju utamanya Seogwipo memang terkenal sebagai penghasil jeruk di Korea Selatan. Hampir 99% produksi jeruk domestik Negeri Ginseng itu berasal dari Jeju. Tak heran jika Jeju dikenal sebagai The Island of Citrus. Tercatat jumlah produksi jeruk di Jeju pada Oktober 2016 sampai September 2017 mencapai 615.000 ton. Jumlah itu menurun 20.000 ton daripada tahun sebelumnya.
Jenis beragam
Luas penanaman jeruk di Jeju mencapai 20.000 hektare dengan jumlah petani 31.000 orang. Menurut Direktur Pusat Teknologi Pertanian Seogwipo, Heo Jong Min, dari sekitar 2.000 jenis jeruk yang tersebar di pelosok dunia, 500 di antaranya sudah dibudidayakan di Jeju. “Salah satu program kami memang berfokus mendapatkan jeruk unggul melalui penyilangan beberapa varietas,” ujar Jong Min kepada Trubus.

Itu tampak dari banyaknya jenis jeruk yang dikembangkan di Pusat Teknologi Pertanian Seogwipo dan Pusat Penelitian Tanaman Jeruk (Citrus Research Institute). Meskipun terdapat ratusan jenis jeruk yang dikembangkan, ada 8 jenis utama yang banyak dikebunkan masyarakat Jeju yaitu putgyul atau korean lime, josaeng, kiyomi, hallabong, cheonhyehyang, redhyang, jinjihyang, dan hwangguemhyang.
Setiap jenis jeruk itu memiliki karaktereristik serta penggemarnya masing-masing. Jeruk josaeng merupakan jenis yang paling banyak ditemui di Jeju. “Hampir 90% jeruk di Jeju adalah jenis josaeng,” ujar Heo Jong Min. Umumnya josaeng dikebunkan di hamparan terbuka, tidak di dalam greenhouse. Masyarakat menyukai jeruk itu karena perpaduan rasa manis dan masam yang pas serta kulitnya yang tipis.

“Kulit juseong sangat tipis sehingga sangat mudah dikupas bahkan dengan hanya satu tangan,” kata peneliti senior di Citrus Research Institute, Kang Seok Beom, Ph.D. Harga jeruk josaeng 1.600 won setara Rp21.000 per kilogram. Tingkat kemanisan jeruk berkisar 9,6o briks. Namun, jika petani bisa menghasilkan buah dengan kemanisan berkisar 13—15o briks maka harga jual lebih tinggi. “Bisa mencapai 20 kali lipat dari harga normal,” ujar Heo Jong Min. Jenis lainnya yang cukup populer di kalangan petani di Jeju yaitu hallabong.
Sosoknya sangat mirip dengan jeruk dekopon. “Diberi nama hallabong karena ujung tangkainya menyerupai puncak gunung Hallasan,” kata Heo Jong Min. Menurut Jong Min hallabong salah buah di Jeju yang populer sejak ditanam mulai 1990-an. Hallabong juga dikenal sebagai 300 day fruit karena dibutuhkan waktu 300 hari setelah bunga mekar untuk siap panen. Bobot jeruk hallabong rata-rata 350 gram per buah dan berkulit tebal. Bentuknya yang unik menjadikan hallabong cukup populer terutama untuk pasar ekspor.
Jenis komersial

Untuk mengisi pasar ekspor jenis cheonhyehyang dan redhyang menjadi primadona. Kini pemerintah berupaya memperluas penanaman kedua jenis jeruk itu. Pada 2016 produksi kedua jenis jeruk itu meningkat 2,4% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Harganya lebih tinggi dan stabil serta kualitasnya kompetitif jika dibandingkankan dengan jeruk impor di Korea,” ujar Heo Jong Min.
Cheonhyehyang dan redhyang memang memiliki tingkat kemanisan di atas 10o briks dengan karakter rasa manis yang khas. Cheonhyehyang persilangan antara jeruk kiyomi dan makoto dan dulu dikenal dengan nama tamlahyang dan baengnokhyang. Jeruk itu kemudian berganti nama karena cita rasanya yang sering kali dijuluki aroma surga.

dijuluki aroma surga.
Tekstur buahnya yang lembut serta kulit buah dengan warna jingga merata serta licin menjadikan cheonhyehyang sangat cocok sebagai buah tangan. Berbeda dengan cheonhyehyang, jeruk redhyang berwarna kulit yang cenderung lebih gelap dan lebih berkilau.
Tekstur daging buah redhyang pun lebih juicy dan kenyal. Jeruk itu hasil persilangan jenis hallabong dan seojihyang. Redhyang beraroma kuat dan unik.
Itu menyebabkan redhyang bernilai jual tinggi, mencapai 8000 won setara Rp105.000 per kilogram. Banyaknya ragam jeruk di Jeju agar produksi bisa sepanjang tahun. Penelitian untuk mendapatkan jeruk berkualitas tinggi terus dilakukan untuk menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem. Sebab, 80% budidaya jeruk di Jeju masih dilakukan di lahan terbuka. Beberapa petani mulai beralih menanamnya dalam greenhouse. (Rizky Fadhilah)
