Thursday, May 7, 2026

Panen Kakao Berkelanjutan

Rekomendasi
- Advertisement -

Strategi pekebun agar panen berkelanjutan, antara lain sistem budidaya organik.

Budidaya kakao harus memperhatikan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial agar berkesinambungan. (Dok. Trubus)

Trubus — Ribuan pohon kakao itu tumbuh merana. Setelah pulang merantau dari Jepang, I Made Sugandhi tergerak untuk merawat pohon-pohon berumur 27 tahun itu. Pekebun di Desa Pohsanten, Kecamatan Menggolo, Jembrana, Provinsi Bali, itu memangkas pohon tua. Ia meremajakan dengan sambung sisip. Pria 49 tahun itu juga menerapkan budidaya organik, meniru sistem budidaya hortikultura di Jepang.

Ia memanggul karung-karung pupuk organik ke kebun pada Maret setiap tahun. Pada September—Maret, ia rutin menyemprotkan pupuk organik cair 2 pekan sekali. Kedua jenis pupuk itu buatan sendiri. Pupuk padat berbahan 1 kg kotoran kambing, 1 kg kotoran sapi, dan 0,5 kg serbuk gergaji. Sugandhi mengaduk rata bahan-bahan itu, menyiram dengan larutan mikrob, lalu menutupnya dengan terpal. Setelah 21 hari, pupuk siap dibenamkan ke pohon.

Fermentasi biji

Pupuk cair terbuat dari 1 l air beras, 10 l urine sapi, dan 1 l larutan mikrob. Sugandhi juga membuat sendiri larutan mikrob itu. Ia memanfaatkan 1 liter molase dan 1 liter larutan biang mikrob ditambah air bersih sampai volumenya menjadi 10 l. Selang 21 hari, larutan itu siap menguraikan bahan pupuk organik.

Fermentasi biji kakao selama 6 hari meningkatkan kualitas. Dampaknya harga jual lebih tinggi sehingga meningkatkan kesejahteraan petani.

Dengan perlakuan itu pohon-pohon Theobroma cacao menghasilkan 1,5 ton biji kering per hektare. Sugandhi mengelola 10 hektare dengan populasi 600 pohon per hektare artinya dalam setahun Sugandhi memetik 15 ton. Ia menjual ke koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) seharga Rp44.000 per kg. Semula dengan cara konvensional, produktivitas hanya 600 kg per ha per tahun.

Ayah 2 anak itu juga memfermentasi hasil panen untuk meningkatkan kualitas. Pembalikan biji dengan memindahkan ke kotak lain yang kosong setiap 2 hari selama fermentasi atau 6 hari.

Pada hari ke-7, setelah muncul rongga dalam biji, ia menghamparkan biji itu di rumah plastik untuk menjaga aroma. Sugandhi meratakan hamparan biji kakao setiap hari agar tingkat kekeringan seragam. Pengeringan biji kakao dalam rumah plastik itu 4 hari saat kemarau. Adapun saat musim hujan memerlukan waktu 7—8 hari.

Apa yang dilakukan Sugandhi merupakan bentuk produksi kakao berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan. Itu tercakup termasuk sumberdaya ke dalam proses pembangunan yang menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa sekarang dan generasi yang akan datang.

Produksi berkelanjutan

Konsep pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia. Upaya itu sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam. Berkaitan dengan keberlanjutan produksi kakao, berkembang bermacam-macam praktik perdagangan yang diinisiasi oleh konsumen kakao dalam berbagai sistem perdagangan berkeadilan.

Kakao hasil budidaya organik yang ramah lingkungan salah satu prinsip pembangunan kakao berkelanjutan.

Semua sistem itu pada dasarnya menekankan kepada kejelasan asal-usul (preasureability) dan keberlanjutan (sustainability). Prinsip kakao berkelanjutan adalah ramah lingkungan, layak ekonomi, dan layak sosial. Sugandhi menggunakan sistem budidaya organik yang ramah lingkungan. Cara itu sekaligus menghasilkan produk yang sehat karena nirpestisida dan pupuk kimia.

Berkaitan dengan dimensi ekologis, berlaku prinsip keberlanjutan lingkungan fisik lahan. Keberlanjutan fisik lahan dapat dilakukan dengan pengelolaan tanah yang berkelanjutan. Itu upaya pemanfaatan lahan melalui pengendalian masukan (input) dalam suatu proses guna memperoleh produktivitas yang tinggi secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas lahan, serta memperbaiki karakteristik lingkungan.

Dengan demikian maka sumberdaya dapat digunakan secara lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang. Dalam penerapannya di lapangan, pengelolaan perkebunan kakao yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan pengelolaan hara, pengendalian erosi, pengelolaan residu, pengelolaan tanaman dengan pola diversifikasi serta integrasi ternak dan pengelolaan air. Integrasi ternak dengan kakao, sistem yang mendukung produksi kakao berkelanjutan. Hal itu menjadikan petani mandiri sehingga meningkatkan kesejahteraan.

Sistem produksi kakao keberlanjutan secara ekonomi yaitu bila para pelaku memperoleh manfaat secara proporsional dan memadai untuk memenuhi kebutuhannya. Penekanan salah satu pihak terhadap pihak lainnya akan memberikan keuntungan yang sesaat dan akhirnya akan mematikan pihak lain dalam mata rantai bisnis kakao. Para petani di Jembrana bekerja sama dengan koperasi.

Para pekebun juga harus memperhatikan upaya keberlanjutan produksi kakao yang stabil dengan menghasilkan mutu yang konsisten serta dihasilkan dengan memperhatikan kesehatan dan keamanan pangan. Keberlanjutan secara ekonomi dapat diukur dalam produksi usaha tani yang langsung berupa biji kakao, pelestarian sumberdaya alam untuk meminimalkan kerusakan. Sistem produksi kakao harus layak secara sosial. Artinya seluruh proses aktivitas produksi kakao harus dapat diterima secara sosial oleh masyarakat sekitar.

Pendampingan penyuluh yang kompeten juga mendorong terselenggaranya pertanian kakao berkelanjutan. Penerapan konsep produksi kakao berkelanjutan sesuai standar tertentu oleh lembaga sertifikasi. Inspeksi dan sertifikasi berdasarkan standar tertentu sesuai dengan permintaan negara tujuan ekspor. Inspeksi dan sertifikasi untuk kakao yang akan diekspor ke negara-negara Uni Eropa, misalnya, mengacu pada standar Euro GAP.(Ir. Sri Wijiastuti, Penyuluh perkebunan di Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian)


Artikel Terbaru

Kecipir Berpotensi Jadi Bahan Pakan Gurami, Kecernaan Protein Tembus 70%

Trubus.id—Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deisi Heptarina, bersama tim mengembangkan formulasi pakan ikan gurami (Osphronemus goramy) berbasis...

More Articles Like This