Friday, August 12, 2022

Purwanto Joko Slameto: Pak Dosen Juragan Itik ABG

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Angka itu didapat dari penjualan 1.200 ekor anakan baru gede (ABG) itik jantan berumur 2 bulan setiap minggu atau 4.800 ekor per bulan. Harga jual hidup Rp18.000 per ekor. Frekuensi kunjungan ke Boyolali berkurang menjadi sebulan sekali memasuki pertengahan 2009. Bukan lantaran produksi itik merosot atau pasar lesu.

Justru dosen Jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, itu makin sibuk karena mesti membagi waktu dengan para mitra yang bergabung dengannya. “Setiap mitra saya pandu mulai dari pemilihan lahan, pembuatan kandang, pemeliharan, sampai jual,” ujar Joko. Untuk itu pria 34 tahun itu datang langsung ke peternakan mitra di Sukabumi, Cianjur, dan Karawang. Mitra dari Subang, Cirebon, Bandung, Kudus, Ungaran, Karanganyar, Wonogiri, Klaten, Temanggung, dan Yogyakarta dipandu melalui diskusi lewat telepon genggam. Dari para mitra di Jawa Barat Joko menuai tambahan omzet Rp56-juta hasil penjualan 4.000 DOD (day old duck) per minggu alias 16.000 per bulan; Jawa Tengah Rp12-juta—Rp24-juta setara 4.000—8.000 ekor per bulan.

Buka pasar

Pundi-pundi rupiah itu tak bakal dinikmati andai 4 tahun silam Joko patah arang saat mendapat penolakan bertubi dari calon pembeli. Puluhan rumah makan di Solo dan Yogyakarta yang ditawari itik jantan muda, tidak semua berminat. Solo dan Yogyakarta dipilih sebagai pasar pertama sebab dekat dengan lokasi peternakan, lagipula budaya makan daging itik sudah terbentuk.

Dari 300 ekor yang ditawarkan untuk semua rumah makan hanya 210 ekor yang terjual. “Kebanyakan rumah-rumah makan masih mengandalkan daging dari itik apkir,” kata Joko. Kalau pun diterima rumah makan menawar dengan harga sangat rendah. Jauh dari harga yang ditetapkan Joko, Rp18.000/ekor bobot 1,2 kg. Di daerahnya Joko pionir dan satu-satunya peternak itik jantan muda. Pantas tak banyak orang tahu kelebihan itik muda yang dagingnya lebih lunak ketimbang itik apkir.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada 2008 warung-warung dan penyedia menu itik menjamur di Jakarta dan sekitarnya. Namun, lagi-lagi tak mudah membuka pasar itik muda ke rumah makan di Jakarta dan sekitarnya. Joko mafhum, ia mesti bekerja ekstra memperkenalkan itik muda. Rumah makan khusus penyedia menu itik jadi target utama. Saat bertemu pemilik rumah makan itu Joko menjelaskan kelebihan itik muda dibanding apkir yang banyak disajikan di rumah makan.

Joko tak membawa contoh, ia hanya meninggalkan kartu nama dan menunggu respon dari pemilik restoran. Baru sebulan kemudian pemilik restoran mengontak untuk memesan itik. “Ketika itu pasokan itik apkir tersendat karena betina petelur belum siap diapkir sebab masih produktif,” kenang Joko. Sekali mengggunakan itik muda, pemilik restoran ketagihan memesan. Rupanya dalam sejam proses memasak daging itik muda sudah lunak. Beda dengan apkir yang butuh minimal 4 jam sampai matang.

Pasar kian terbentang saat Joko menggunakan strategi lain: pemasaran via dunia maya. Lewat blog yang dibuat, pemilik peternakan bebek ABG itu sukses menjaring 16 pelanggan—semua restoran yang sebagian besar terletak di Jakarta, sisanya Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. Total jenderal setiap hari ia mesti memasok 300 itik jantan muda untuk pelanggan barunya itu. Setengah pasokan didapat dari mitra yang menyetor itik siap jual.

Jual karkas

Sukses Joko tidak lepas dari kejelian memilih lokasi peternakan. Desa Mojo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, dikenal sebagai sentra penetasan itik. Di desa itu seorang penetas mampu menetaskan 4.000—5.000 DOD per hari. Kemungkinan munculnya jantan hampir 50%. Namun, selama ini DOD jantan kerap dianaktirikan. Penetas lebih menyukai DOD betina karena lebih laku dijual sebagai calon induk di peternakan itik penghasil telur. Pantas harga DOD jantan jauh lebih murah ketimbang betina. Pada 2005, harga DOD jantan Rp350/ekor; betina, Rp2.500/ekor.

Kunci sukses lain, memperkenalkan penjualan itik jantan muda dalam bentuk karkas. “Tujuannya untuk meningkatkan harga jual dan citra itik jantan,” kata Joko. Bentuk karkas juga disukai rumah makan karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya pencabutan bulu. Itik diterima dalam bentuk daging yang bersih.

Kini bersama sang istri yang sudah mengundurkan diri sebagai dosen Ekonomi di Universitas Gunadarma, Joko tengah merintis kreasi baru berupa itik ungkep. Daging itik yang sudah dibumbui itu dijajakan sebagai masakan cepat saji. Pembeli tinggal menggoreng dan langsung menyantapnya. Sebuah mandat dari rektor Universitas Gunadarma untuk menjadikan 1.000 m2 dari 80 ha lahan milik universitas di Cikalongkulon, Cianjur, Jawa Barat, sebagai kandang itik untuk praktek kewirausahaan mahasiswa pun ada di pundaknya. Semua karena sang dosen adalah juragan itik ABG. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img