Monday, January 26, 2026

Putar Balik Sapi Perah

Rekomendasi
- Advertisement -
Dendy Prihanggo memanfaatkan beragam jenis rumput yang tumbuh liar sebagai pakan sapi. (Dok. Dendy Prihanggo)

Beternak sapi perah jenis FH di dataran rendah yang menghasilkan 1.300 liter susu per hari.

Trubus — Dendy Prihanggo memulai bisnis sapi perah dengan 7 ekor di lahan 1.200 m2 pada 2008. Kini 12 tahun kemudian farm milik Dendy di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, meluas hingga 1,7 hektare berketinggian 91 meter di atas permukaan laut. Ia dibantu 27 pegawai memelihara 200 sapi perah jenis friesian holstein (FH) beragam umur: pedet, dara, siap kawin, dara bunting, dan eks laktasi. Sapi-sapi produktif itu menghasilkan 1.200—1.300 liter susu segar per hari. Harga jual Rp7.000 per liter.

Dendy Prihanggo mengembangkan sapi perah jenis FH di dataran rendah di Kota Depok, Jawa Barat. (Dok. Dendy Prihanggo) 

Peternak kelahiran Jakarta 37 tahun silam, itu mengandalkan perusahaan industri susu cair untuk menyerap produksinya agar bisnis lancar. “Pasar susu saya 50% untuk koperasi yang selanjutnya dikirim ke industri pengolahan susu cair. Sisanya 50% untuk usaha mikro, pembuat keju, yoghurt, dan susu segar,” kata Dendy. Ayah dua anak itu menuturkan, bisnis dengan mereka lebih enak karena pembayaran selalu tepat waktu sehingga arus kas lancar.

Sapi apkir

Menurut Dendy produksi susu sapi di dataran rendah dan dataran tinggi berbeda. “Di dataran tinggi lebih produktif dibandingkan dengan di Sawangan yang dataran rendah. Di dataran tinggi produksi susu bisa 15—17 liter per hari,” kata Dendy. Namun, biaya pakan dan perawatan di dataran tinggi lebih besar karena ketersediaan pakan lebih sedikit. Demikian pula ketersediaan konsentrat dan ampas tahu di dataran tinggi lebih terbatas sehingga mahal.

Dendy memilih beragam rumput sebagai pakan sapi. Menurut Dendy bisnis sapi perah di Indonesia sebetulnya terbuka lebar. “Semua perusahaan susu sapi cair pasti membutuhkan susu sapi segar. Tidak mungkin mengimpor susu sapi segar,” kata Dendy yang semula beternak sapi potong.

Mahesa Perkasa menangkarkan sapi perah untuk kesinambungan produksi. (Dok. Dendy Prihanggo) 

Kandungan protein, glukosa, lipida, mineral dan vitamin yang cukup tinggi pada susu segar membuat bakteri mudah tumbuh dan berkembang sehingga harus diproduksi di lokal. Komoditas susu yang diimpor Indonesia berupa bahan baku susu seperti susu bubuk skim, lemak susu, dan bubuk susu mentega. Menurut Dendy kunci mempertahankan produksi yang stabil adalah mempertahankan setiap sapi yang produktif menghasilkan 11—13 liter per hari.

Dendy menuturkan, “Bila seekor sapi betina produksinya kurang dari 3 liter per hari, sebaiknya segera lepas sebagai apkir untuk sapi potong.” Lazimnya produksi susu menurun ketika sapi telah berumur 10 tahun. Bila tak dilepas, sapi itu menjadi beban biaya produksi karena setiap hari tetap membutuhkan pakan. Adapun kebutuhan pakan mencapai 10—12 % dari bobot sapi atau setara 35—40 kg pakan per hari per ekor.

Pemilik peternakan Mahesa Perkasa itu mengatakan, bisnis sapi perah juga berisiko internal yang tinggi, yakni sumber daya manusia, manajemen pakan, dan adopsi teknologi. Banyak peternak sapi perah yang gulung tikar karena manajemen sumber daya manusia yang buruk. “Bayangkan sebuah peternakan dengan 20 sapi atau 30 ekor saja bila pegawainya mogok, kerugian yang ditanggung ratusan juta,” kata Dendy.

Produksi susu Mahesa Perkasa untuk memasok pembuat keju, yoghurt, dan susu segar. (Dok. Dendy Prihanggo) 

Demikian pula perubahan manajemen pakan dan adopsi teknologi sering kali membuat masalah bila dilakukan secara gegabah. Ia mencontohkan adopsi mesin perah susu yang gegabah sering kali membuat puting susu sapi mastitis alias infeksi. Dampaknya puting susu mati dan tidak bisa mengeluarkan susu.

Sejak 2015 para pegawai di Mahesa Perkasa memerah sapi menggunakan mesin perah. (Dok. Dendy Prihanggo) 

Menurut Dendy peternakan yang sudah mapan sebaiknya tidak mudah tergiur oleh iming-iming pakan baru atau teknologi baru yang belum terbukti. “Biasanya akan menimbulkan ketidakstabilan sehingga niatnya untung malah buntung,” kata Dendy. Cara terbaik adalah menguji coba pada skala kecil dengan menggunakan sumber daya manusia yang paling terlatih. Berikutnya adopsi untuk seluruh peternakan dilakukan secara bertahap sehingga tidak menimbulkan gejolak.

Dendy baru beralih ke mesin perah susu pada 2015 setelah bergelut memerah susu secara manual selama tujuh tahun. Empat tahun terakhir Dendy juga menangkarkan untuk memastikan sapi betina berproduksi tinggi. “Sekarang hampir semua sapi perah yang berproduksi berasal dari anakan sendiri sehingga sapi terjaga kualitasnya,” kata Dendy yang semula justru menggeluti sapi potong.

Tiga tahun menekuni bisnis sapi potong membuat Dendy Prihanggo berputar balik mengembangkan sapi perah. Bisnis sapi potong di pejagalan sulit berkembang karena kualitas sapi lokal yang menurun. Begitu juga harga sapi lokal kalah bersaing dengan sapi impor dan daging impor. (Destika Cahyana)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img