Trubus.id—Indonesia punya banyak tanaman buah yang enak. Namun, banyak diantaranya seperti terlupakan dan berangsur menjadi langka seperti parijata. Rasa buah parijata dominan masam dan sepat. Namun, saat buah ranum rasa manis juga muncul. Parijata biasanya dinikmati sebagai rujak dengan tambahan gula sehingga menyegarkan. Sejatinya olahan parijata juga beragam.
Tanaman parijata tumbuh baik di lahan berketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl). Pada umur 4—5 tahun, parijata mulai berbuah optimal. Panen raya biasanya berlangsung pada April—Agustus. Saat itu pasokan dari petani melimpah. Saat panen raya pekebun memetik setiap hari hingga 10 kg.
Harga di tingkat petani Rp100.000 per kg. Sekilogram terdiri atas 10—14 tangkai. Itu setara dengan Rp7.000—Rp10.000 per tangkai. Sebaliknya di luar panen raya, pasokan sangat sedikit hingga harganya melonjak mencapai Rp50.000 per tangkai.
Anda juga dapat mengolah parijata menjadi sirop seperti yang dilakukan Triyanto. Terbukti sirop produksi CV Seleksi Alam Muria itu laris manis. Setiap 100 kg buah parijata segar dan 100 kg gula pasir untuk memproduksi 100 liter sirop. Ia mengemas sirop dalam botol berukuran 250 ml, 350 ml, 500 ml, dan 630 ml. Harga sirop itu Rp45.000 per botol siroup 250 ml.
Olahan lain parijata itu yakni permen dan keripik parijata. Produk terbaru berupa tisane parijata dalam bentuk tubruk dan celup. Tisane tergolong premium sebab sekilogram buah segar hanya menjadi 200 gram tisane.
Parijata termasuk buah langka peninggalan pendahulu dan telah menjadi bagian budaya terutama sekitar Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Harapannya generasi muda minimal dapat mengetahui dan selanjutnya mengembangkan buah langka khas Indonesia seperti anggur asia, julukan untuk parijata.
