Monday, November 28, 2022

Rahasia Panjang Usia

Rekomendasi

Tanaman yang membuat warga Pulau Izu, Jepang, berumur panjang itu ternyata tumbuh subur di Mojokerto, Jawa Timur.

Lantai hutan pinus itu nyaris tak terlihat. Hampir seluruh lantai hutan tertutup hamparan tanaman berdaun menjari dan bergerigi seperti seledri. Tanaman itu tumbuh rapi di permukaan guludan setinggi 40 cm dan lebar 120 cm dengan jarak tanam 50 cm. Itulah ashitaba Angelica keiskei. Pemandangan itu bukanlah di Pulau Izu, Jepang, habitat asli ashitaba, melainkan di Desa Trawas, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Di sanalah Yudi Kurniawan mengebunkan ashitaba di lahan 1 ha sejak 2003. Pria 46 tahun itu menjual hasil panen ke perusahaan eksportir makanan asal Jepang di Surabaya, Jawa Timur. Bekas potongan tangkai daun bakal mengeluarkan getah berwarna kuning. Setengah jam pascapotong, Yudi mengambil getah dengan cara menyendok dengan daun. Dari luasan itu Yudi memanen 3 ton daun dan 1 – 1,5 kg getah masing-masing per bulan untuk tanaman berumur 2 tahun.

Begitulah ashitaba yang pertumbuhan daun sangat cepat sehingga ia berjuluk tomorrow leaf. Hari ini Yudi memotong daun, esok tunas baru pun muncul. Tunas baru itu kemudian memunculkan daun yang siap panen 1 bulan kemudian. Adapun batang yang hari ini mengeluarkan getah, esok pun kembali bergetah ketika Yudi mengiris permukaannya. Interval pengirisan 5 cm sehingga batang setinggi rata-rata 20 cm itu selesai panen setelah 3 kali pengirisan. Dalam satu kali pengirisan, Yudi menuai 0,01 cc getah per batang.

Multikhasiat

Saat ini harga daun Rp700 dan getah Rp400.000 per kg bila nilai briks mencapai 21. “Semakin tinggi nilai briks, kadar antioksidan pun semakin tinggi dan harga jualnya lebih mahal,” ujar Yudi yang berdomisili di Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu. Yudi mengumpulkan sekilo getah dari 40.000 tanaman berumur 2 tahun; sementara sekilo daun terdiri atas 6 – 7 tangkai daun.

Di Indonesia ashitaba memang asing, tetapi di negeri Sakura sangat populer. Tanaman anggota famili Apiaceae itu memiliki berbagai khasiat sehingga masyarakat Jepang percaya ashitaba memperpanjang umur. Hasil penelitian Kimiye Baba dan rekan dari Departemen Ilmu Farmasi Universitas Osaka membuktikan bahwa ashitaba mengandung senyawa flavonoid chalcone.

Senyawa itu berfaedah menurunkan kadar low density lipoprotein (LDL),  alias kolesterol jahat, kolesterol total, dan trigliserida dalam darah. Ia juga ampuh menurunkan tekanan darah dengan menghambat enzim konverting penyebab angiotensin alias naiknya tekanan darah akibat kerutan pada pembuluh darah. Berbagai faedah itulah yang membuat beberapa perusahaan makanan dan farmasi Jepang beramai-ramai memproduksi suplemen berbahan baku ashitaba.

Mereka memanfaatkan getah berwarna kuning yang keluar setelah batang daun yang mirip selederi dipangkas. Getah itulah yang mengandung chalcone. Mereka mengumpulkan getah itu lalu mengekstraknya untuk mengambil senyawa chalcone. Hasil ekstraksi itu merupakan bahan suplemen untuk terapi kesehatan.

Sementara daun hasil pangkasan setelah kering menjadi bahan “teh”. Dalam Jurnal Kardiologi Indonesia 2007, dr Anna Ulfah Rahajoe SpJP dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyebutkan, teh ashitaba dapat menjadi pilihan minuman sehat untuk pasien penyakit kardiovaskular.

Sayangnya, di negeri Matahari Terbit lahan untuk membudidayakan ashitaba terbatas. Itulah sebabnya salah satu perusahaan eksportir makanan asal Jepang bekerjasama dengan Yudi mengebunkan kerabat pegagan itu pada 2003. Pada tahap awal penanaman hanya seluas 2 ha untuk percobaan. Ashitaba ternyata tumbuh subur di Desa Trawas yang berketinggian 700 – 1.200 m di atas permukaan laut. Bahkan, “Hasil panen ashitaba kalian lebih baik daripada hasil budidaya di negeri kami,” ujar Yudi menirukan ucapan Kimiye yang pernah berkunjung ke kebun ashitaba di Mojokerto.

Semakin luas

Kini semakin banyak pekebun di Desa Trawas mengikuti jejak Yudi. Setidaknya ada 77 pekebun yang turut membudidayakan ashitaba. Total areal tanam mencapai 38 ha. Dari lahan seluas itu, mampu menghasilkan 3 ton daun ashitaba dan 1 – 1,5 kg getah per ha setiap bulan.

Musim panen biasanya pada awal musim hujan, yakni pada Agustus – Desember. “Hasil panen terbaik sebetulnya saat awal kemarau karena kualitas getah lebih tinggi,” ujar Yudi. Namun, saat kemarau pertumbuhan tanaman melambat, bahkan daun kering ketika kemarau panjang. Namun, setelah musim hujan umbi ashitaba kembali bertunas. “Bila persediaan air saat kemarau cukup, tanaman masih bisa berproduksi,” ujar Yudi.

Bagi para petani di Desa Trawas, ashitaba kini menjadi sumber penghasilan baru. Sebelumnya mereka menanam padi dan palawija. Mereka beralih membudidayakan ashitaba karena lebih menguntungkan. Dari sehektar lahan, Yudi memanen 3 ton daun dan 1 – 1,5 kg getah. Dengan harga jual Rp700 per kg, jumlah pendapatan dari hasil penjualan daun mencapai Rp2-juta per bulan. Sementara dari getah Rp600.000.

Pekebun dapat memanen daun ashitaba pada umur 6 bulan setelah tanam hingga tanaman berumur 2 – 3 tahun. Saat berumur 3 tahun muncul bunga dan buah, lalu tanaman mengering dan mati. Yudi memanfaatkan biji untuk penanaman berikutnya. Umur tanaman memang pendek, tetapi warga negeri Matahari Terbit percaya panjang umur berkat konsumsi ashitaba. (Tri Istianingsih)

Getah kuning menjadi produk utama budidaya ashitaba, harganya Rp400-ribu per kg

Ashitaba tumbuh subur di daerah berketinggian 1.200 m dpl di Kabupaten Mojokerto

Teh ashitaba, mengandung antioksidan tinggi

Daun ashitaba lepas panen dikumpulkan dalam kontainer plastik

Yudi Kurniawan beserta istri fokus mengembangkan ashitaba sejak 9 tahun silam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img