Friday, December 9, 2022

Raja Kecil Rasa Besar

Rekomendasi

Kelezatan itu ada pada sekepalan tangan.

 

Ir Hj Heni Supiani menyodorkan sebuah durian terbelah seukuran kepalan tangan orang dewasa. “Ini sipeureup,” kata kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang, itu. Peureup, bahasa Sunda, berarti kepalan tangan. Ukuran raja buah itu memang mungil, bobotnya paling hanya 500-800 g per buah.

Saking kecilnya ukuran buah, satu juring paling hanya terdiri dari 1-2 pongge. Namun, soal rasa sipeureup boleh diadu. Citarasa manis seperti susu bakal tercecap ketika kita mengulum pongge sipeureup. Daging buah berwarna kuning itu pun tebal, bijinya kecil. Artinya, daging buah yang dapat dikonsumsi cukup banyak meski buah mungil.

Cepat ludes

Edi Suhaedi, pekebun di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menanam 7pohon sipeureup-rata-rata berumur 20 tahun-di lahan seluas 3 ha. Menurutnya sipeureup termasuk kategori durian produktif. Buktinya, “Satu pohon menghasilkan 700 buah per tahun,” tutur ayah 3 anak itu. Padahal, Edi tak pernah merawat tanaman Durio zibethinus itu. “Tumbuh alami tanpa perlakuan apa-apa,” katanya.

Keunggulan sipeureup juga diakui Tanti Yulianti, SP MP, kepala Seksi Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang. “Sipeureup merupakan salah satu potensi durian lokal Pandeglang,” katanya. Konsumen rela inden untuk mendapatkan buah berduri itu. Bahkan, “Buah sudah dibeli ketika masih di pohon,” ujar Edi.

Pantas jika 130 buah sipeureup langsung ludes terjual dalam waktu 2 jam di acara Fiesta Durian Lokal Pandeglang di Mal WTC Manggadua pada 21 Januari 2012. Banyak pembeli yang tidak kebagian memesan sipeureup. Pandeglang memang dikenal sebagai salah satu sentra durian enak. Menurut Nasir SP MP, kepala Seksi Pengolahan dan pemasaran Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang, pameran bertajuk Fiesta Durian Lokal Pandeglang bertujuan untuk mempromosikan durian lokal ibukota Provinsi Banten itu. Sebut saja siputri, kadugajah, kaduhalang, dan sibujal.

Siputri rasanya manis seperti susu tanpa rasa pahit. Daging buahnya berwarna kuning, tebal. Biji kempes. Sementara daging buah kadugajah seperti montong: manis, kering, dan agak berserat. Kadugajah berpenampilan paling menarik. Daging buah berwarna kemerahan dan berbiji kecil. Rasanya, manis dan legit. Sedangkan sibujal, rasanya manis kadang dengan sedikit asam. “Sibujal rasanya seperti stoberi,” kata Edi.

Serang

Kabupaten Serang, Provinsi Banten, yang bertetangga langsung dengan Pandeglang juga gudangnya durian lezat. Wartawan Majalah Trubus, Imam Wiguna, mencicipi potret saputra, ketanjaya, sitebing, dan siendog. Yang disebut pertama berbobot 4-7,5 kg per buah. Daging buah potret saputra tebal, berserat, dan manis tanpa rasa pahit. Dalam satu juring terdapat 3-4 pongge. Durian berdaging kuning itu berbiji kempes seperti monthong.

Saat ini pohon induk potret saputra di Desa Tamansari, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, sudah berumur 60 tahun. Setiap tahun pohon induk menghasilkan 50-70 buah. Harga buah cukup mahal, Rp100.000-Rp250.000 per butir tergantung bobot buah.

Ketanjaya berbobot 1,5-2 kg per buah. Rasanya paling enak dibanding potret saputra, sitebing, dan siendog. Daging buah kering, lengket, legit, dan manis agak pahit. Dari satu pohon induk berumur 50 tahun diperoleh 100 buah per musim. Musim panen biasanya pada Desember-Februari.

Buah sitebing juga berukuran sedang, bobot 2 kg/butir. Daging buah lembek agak berair dengan rasa manis tanpa pahit. Dalam satu juring terdiri dari 5-6 pongge. Buah dipanen dari tanaman induk berumur 40 tahun yang mampu berproduksi 100-150 buah per musim. Siendog berdaging kering, lengket dengan rasa manis tanpa pahit. Aroma buah seperti ketan. Pohon induk di Kecamatan Baros, Serang, berumur 100 tahun, mampu menghasilkan 500-600 buah per musim. Buah berukuran kecil, 0,5-1 kg per butir.

Nun di Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Ardi Siswoyo juga memiliki durian lezat berukuran kecil. Buah seukuran dua tangan ditangkupkan. Dalam satu juring terdiri dari 5 pongge. Rasanya manis, agak pahit, dan creamy. Buah tumbuh berdesakan di dahan pohon berumur 8 tahun.

“Satu dompol bisa mencapai 8 buah. Makanya durian itu saya beri nama anggur karena buahnya menggerombol,” kata pria yang mengebunkan 200-an pohon durian di lahan seluas 15 ha itu. Durian anggur pertama kali berbuah pada 2010. Pada 2012-panen ketiga-Ardi memetik 100 buah, rata-rata berbobot 800 g per butir. Meski ukurannya mini, rasanya maksi. Siapa mau mencicipi? (Bondan Setyawan/Peliput: Tri Istianingsih)

Keterangan foto

  1. Anggur koleksi Ardi Siswoyo, bobot buah 800 g
  2. Siendog berukuran kecil, 0,5-1 kg/buah berdaging kering, lengket dengan rasa manis tanpa pahit
  3. Edi Suhaedi menanam 7 pohon sipeureup, rata rata berumur 20 tahun
  4. Ketanjaya, rasanya paling enak dibanding potret saputra, sitebing, dan siendog
  5. Potret saputra, harga buah cukup mahal, Rp100.000-Rp250.000 per butir
  6. Sitebing, daging buah lembek agak berair dengan rasa manis tanpa pahit
  7. Ir Hj Heni Supiani, kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang , “Durian sipeureup hanya sekepal tangan, tapi rasanya nikmat”

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img