Sunday, January 25, 2026

Ratusan Juta dari Ikan Beku

Rekomendasi
- Advertisement -

Penjualan ikan beku dengan omzet Rp750 juta per bulan.

Ikan beku dapat bertahan 3—4 jam di luar lemari pendingin.

Trubus — Tiga sekawan Bintang Bimaputra, Isnan Fazri Pangestu, dan Maulida Ranintyari merintis PT Nalayan Sangkara Indonesia pada Juni 2017. Anak-anak muda itu mengembangkan platform pemesanan daring nalayan.id yang menyediakan beragam jenis ikan beku. Melalui platform itu konsumen memesan beragam hasil perikanan. Area pengiriman meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung.

Pada awal 2020, omzet perusahan rintisan asal Kota Bandung, Jawa Barat, itu mencapai Rp600 juta—Rp750 juta per bulan. Permintaan setiap bulan pun ajek setidaknya 10 ton. Menurut Bintang permintaan tinggi biasanya pada akhir tahun berkisar 13—14 ton sebulan. Konsumen Nalayan meliputi rumah tangga serta hotel, resto, dan katering—horeka.

Lonjakan permintaan

Bintang mengatakan, konsumen Nalayan lebih dari 1.000 rumah tangga dan 100 horeka. Pembelian rumah tangga umumnya 2 kg per transaksi. “Awal dan akhir bulan cukup ramai sebab mengikuti tanggal gajian pekerja,” kata Bintang. Horeka rata-rata membeli sekitar 50 kg per transaksi. Produk Nalayan berupa ikan beku. Bintang menyadari masyarakat memandang sebelah mata ikan beku.

Bintang Bimaputra, CEO dan salah satu pendiri PT Nalayan Sangkara Indonesia. (Dok. Bintang Bimaputra)

Menurut Bintang bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pesisir ikan beku justru lebih baik daripada ikan segar. Bagi masyarakat pesisir, ikan segar tentu pilihan terbaik. “Pengiriman berupa ikan segar berisiko membusuk lebih cepat daripada ikan beku sebab lebih rentan kontaminasi mikroorganisme,” kata alumnus Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran itu.

Adapun pembekuan hasil tangkapan ada dua macam yakni beku laut dan beku darat. Beku laut dilakukan di kapal saat melaut sementara beku darat dilakukan setelah kapal berlabuh. Makin cepat pembekuan, peluang kontaminasi mikroorganisme pun menurun. Dengan demikian hasil tangkapan dapat bertahan lebih lama. Namun, beku laut memerlukan infrastruktur kapal yang memadai. Kebanyakan nelayan belum memilikinya sehingga hasil tangkapan dibekukan di darat.

Bintang mengamati filet dori atau patin paling populer. Harap mafhum masyarakat tengah menggemari menu ikan patin. Selain itu, udang kupas dan cumi utuh turut menjadi favorit. Pemesanan tenggiri dan kembung mulai meningkat. Hampir seluruh produk Nalayan berupa filet kecuali kembung dan sarden. Sebesar 60% produk Nalayan berupa perikanan laut dan sisanya perikanan darat.

Besok tiba

Nalayan memperoleh pasokan ikan dari hasil budidaya dan tangkap. “Harga dan jumlah hasil tangkapan sangat fluktuatif. Oleh karena itu, kami lebih banyak mengandalkan hasil budidaya dari tambak sekitar 70%,” tutur Bintang. Nalayan bekerja sama dengan kelompok nelayan dan para pemasok. Adapun lokasinya di Jakarta, Jawa Barat (Purwakarta dan Tasikmalaya), Jawa Timur (Tulungagung dan Surabaya) dan Kalimantan Timur.

Produk Nalayan memenuhi standar mutu International Organization for Standardization (ISO) dan Analisis bahaya dan pengendalian titik kritis (Hazard Analysis and Critical Control Points, HACCP. Bintang juga menggunakan gudang pendingin dan pemrosesan terstandar.

Ada dua gudang pendingin di Jakarta Utara dan Kota Bandung. Keduanya menjadi gudang utama untuk menyimpan cadangan. Begitu ada pesanan, Nalayan memindahkan produk dari gudang utama ke lemari pembeku di Jakarta Selatan. Setelah itu, kurir akan mengirim ke konsumen. “Pesanan hari ini sebelum pukul 10.00 akan tiba besok. Jika pesan setelah itu, akan sampai lusa,” kata Bintang.

Nalayan memanfaatkan jasa pengiriman yang memiliki fasilitas memadai untuk produk beku seperti lemari pembeku dan mobil berpendingin. Bintang mengemas produk dalam boks yang disertai es gel. Ikan beku dapat bertahan 3—4 jam di luar lemari pendingin. Sejatinya biaya distribusi produk perikanan cukup tinggi yakni mencapai 30% dari harga jual. Itulah yang menyebabkan ikan mahal meski harga di tingkat nelayan dan petambak cukup terjangkau.

Eksportir

Pengiriman dengan mobil berpendingin dalam boks disertai es gel. (Dok. Bintang Bimaputra)

Selain distribusi, ternyata pandemi korona sejak Maret 2020 juga berdampak signifikan terhadap permintaan. Pada awal pandemi korona, permintaan turun drastis hanya 5—7 ton per bulan. Pada pertengahan 2020, permintaan merangkak naik.

Bintang Bimaputra, Isnan Fazri Pangestu, dan Maulida Ranintyari menekuni bisnis hasil laut agar pendapatan nelayan dan petambak turut meningkat. Selain itu Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi Indonesia menjadi eksportir hasil perikanan terbesar keempat dunia setelah Tiongkok, Vietnam, dan Norwegia pada 2028. Sejalan dengan itu, Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) mencatat produksi perikanan nasional tahun 2017 sebesar 23,2 juta ton.Itu meningkat dari tahun sebelumnya hanya 22,6 juta ton. Itulah yang mendorong mereka berbisnis ikan beku. (Sinta Herian Pawestri)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img