Friday, January 16, 2026

Rekayasa Nutrisi Presisi: Solusi untuk Meningkatkan Produksi Susu Nasional dan Kemandirian Industri Susu

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Pada Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (30/8), Prof. Idat Galih Permana, Guru Besar Fakultas Peternakan, mengungkapkan bahwa penerapan rekayasa nutrisi presisi berpotensi meningkatkan produksi susu sapi perah hingga 15 persen dan memperbaiki kualitas susu, terutama kandungan proteinnya. Penemuan ini sangat relevan mengingat produksi susu nasional yang masih stagnan.

Saat ini, populasi sapi perah Indonesia sekitar 485 ribu ekor. Namun, produksi susu rata-rata hanya mencapai 12–14 liter per ekor per hari, padahal potensi genetik sapi Friesian Holstein (FH) bisa mencapai 20-25 liter. Menurut Prof. Idat, masalah utama bukan hanya pada jumlah sapi, tetapi juga pada rendahnya produktivitasnya.

Industri susu Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencukupi kebutuhan susu domestik. Lebih dari 80 persen bahan baku susu industri masih harus dipenuhi melalui impor.

Di sisi lain, konsumsi susu masyarakat Indonesia juga tergolong rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan konsumsi susu per kapita hanya 16,5 liter per tahun, jauh di bawah Thailand (33 liter) dan Malaysia (50 liter).

“Kondisi ini membuat ketahanan pangan hewani kita rentan. Jika tidak segera diatasi, ketergantungan impor susu akan semakin besar,” tegas Prof Idat dilansir pada laman IPB University.

Rendahnya kualitas pakan dan cekaman panas di daerah tropis menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas sapi perah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Idat menawarkan solusi melalui pendekatan rekayasa nutrisi presisi. Pendekatan ini mengutamakan efisiensi dalam pemanfaatan pakan sapi perah melalui tiga strategi utama.

Pertama, sinkronisasi nutrien dalam rumen dengan menyeimbangkan ketersediaan nitrogen dari protein dan energi non-fiber karbohidrat. Hal ini akan membantu mikroba rumen bekerja optimal dalam menghasilkan protein berkualitas.

Proteksi Protein menjadi strategi kedua, yaitu dengan melindungi protein berkualitas tinggi agar tidak terdegradasi di rumen. Ini bisa dilakukan melalui pemanasan terkontrol atau perlakuan kimia yang membuat protein dapat diserap di usus halus.

Ketiga, suplementasi presisi dengan memberikan paket nutrisi yang seimbang antara protein, karbohidrat, dan mineral penting seperti sulfur. Dengan cara ini, sapi perah akan mendapatkan asupan nutrisi yang optimal.

Prof. Idat juga menekankan pentingnya pemanfaatan pakan lokal, seperti legum indigofera. Pakan ini kaya protein namun cepat terdegradasi, sehingga harus dikombinasikan dengan pakan lain untuk mencapai pemanfaatan protein yang optimal.

Menurut Prof. Idat, jika pendekatan ini diterapkan secara luas, produktivitas sapi perah di daerah tropis dapat meningkat hingga 15 persen. Ini akan mengurangi ketergantungan impor dan menjadi langkah besar menuju kemandirian industri susu nasional.

“Jika diterapkan secara luas, strategi ini dapat meningkatkan produktivitas sapi perah di daerah tropis hingga sekitar 15 persen, mengurangi ketergantungan impor, dan menjadi tonggak kemandirian industri persusuan nasional,” pungkasnya

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img