Friday, January 16, 2026

Saat Menemui Mamalia Laut Terdampar, Stop Lakukan Ini

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Saat menemui mamalia laut yang terdampar penting untuk melakukan penanganan secara tepat.  Hal itu demi menghindari kerusakan lebih lanjut pada bagian tubuh mamalia yang sudah rapuh.

Peneliti mamalia laut dari James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma Mustika menuturkan jika menemui mamalia laut yang terdampar, jangan ditarik flipper, sirip, ekor, atau dorsal fin mamalia laut itu. Sebab, tulang-tulang mereka sangat rapuh dan bisa patah.

Ia menjelaskan bahwa perlu pengetahuan mengenai anatomi lumba-lumba dan paus. Musababnya hewan-hewan itu mudah mati jika sudah terdampar, meskipun keduanya bernafas dengan paru-paru.

Melansir pada laman BRIN Icha—sapaan akrab Putu Liza Kusuma Mustika—mengingatkan bahwa lubang pernapasan mamalia laut (blowhole) tidak boleh diisi dengan air.

Ia menuturkan sering kali orang-orang salah paham saat melihat mamalia laut seperti paus yang terdampar dengan memasukkan air ke dalam lubang pernapasannya.

“Mereka bermaksud baik untuk menolong tetapi tidak mengetahui penanganan yang tepat. Karena jika blowhole diisi air, mamalia ini justru bisa tenggelam dan mati,” ujar wanita yang sejak 2003 itu meneliti tentangan Cetacea atau paus itu.

Lebih lanjut ia menuturkan  bahwa penting untuk mengendalikan perilaku masyarakat (crowd control). Musababnya seringkali masyarakat ingin melihat hingga menaiki hewan atau menarik anggota tubuh hewan itu. Al-hasil sulit untuk proses penyelamatan.

“Jadi perlu ada crowd control, misalnya dengan menggunakan police line. Jika massa bisa dikendalikan dan ada community leader yang bisa dikontak, masyarakat bisa membantu dengan membasahi kulit hewan, tapi tidak di daerah lubang nafas,” ujarnya.

Menutur Icha  penanganan mamalia laut yang terdampar dengan tepat itu penting. Selain itu perlu  pengurangan berbagai ancaman terhadap kelestariannya di alam liar.

Maka perlu penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor penyebab mamalia laut terdampar. Hal itu sering kali kompleks dan melibatkan banyak variabel, termasuk aktivitas manusia, perubahan lingkungan, serta tantangan terkait pengelolaan dan konservasi spesies tersebut.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img