Friday, January 16, 2026

Saat Tomat Murah Tak Laku, Hilirisasi Jadi Solusi Bernilai Tambah

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Setiap kali musim panen raya tiba, para petani tomat kerap menghadapi dilema yang sama: harga anjlok, tomat melimpah, dan banyak yang akhirnya membusuk di kebun. Hal ini diperparah oleh sifat tomat yang mudah rusak karena kandungan airnya yang tinggi, yakni mencapai 94 persen.

Prof. Dr. Ir. Anni Faridah, M.Si. dari Universitas Negeri Padang dalam tulisannya di Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat menyebut bahwa surplus produksi menyebabkan tomat menjadi tidak berharga di pasaran. Akibatnya, banyak petani yang kehilangan semangat untuk kembali menanam tomat di musim berikutnya.

Salah satu solusi yang ditawarkan Anni adalah hilirisasi, yaitu mengolah tomat menjadi produk olahan agar daya simpan lebih lama dan nilai ekonominya meningkat. “Hilirisasi adalah proses integrasi teknologi untuk mengubah produk primer menjadi produk baru bernilai tambah,” jelasnya.

Contoh produk hilirisasi tomat yang sudah dikenal luas antara lain saus, pasta, manisan, dan sirop. Produk-produk ini terbukti laku di pasaran dan menjadi peluang usaha yang potensial bagi masyarakat maupun pelaku UMKM.

Sejak 2018, Dhianita Prawitri misalnya, seorang pelaku usaha pengolahan makanan, telah memanfaatkan tomat untuk berbagai penganan. Inovasinya lahir dari keprihatinan melihat banyak tomat terbuang sia-sia setiap musim panen.

Selain olahan klasik seperti saus dan sirop, inovasi lain datang dari para peneliti di Universitas Dehasen Bengkulu. Dalam Jurnal Dehasen Untuk Negeri, Yossie Yumiati, S.P., M.Si. menjelaskan tomat berpotensi diolah menjadi mi dan stik. Menurutnya, makanan ini digemari masyarakat namun umumnya rendah kandungan gizi seperti protein, serat, dan kalsium.

Pemanfaatan tomat dalam pembuatan mi dinilai mampu meningkatkan kandungan nutrisi. Prosesnya pun cukup sederhana: tomat diolah menjadi ekstrak atau sluri, kemudian dicampur dengan tepung terigu, tepung tapioka, telur, garam, maizena, dan minyak goreng. Setelah diaduk hingga kalis, adonan digiling, dipotong tipis-tipis, direbus, lalu ditiriskan saat matang.

Yossie berharap ke depan ada sistem manajemen yang mendukung produksi mi tomat secara berkelanjutan, termasuk dalam hal pengemasan dan pemasaran. “Dengan sistem yang efisien, mi tomat bisa menjadi salah satu produk turunan tomat yang bernilai jual tinggi,” ujarnya.

Inovasi-inovasi seperti ini menjadi angin segar bagi petani yang kerap dirugikan oleh fluktuasi harga hasil panen. Hilirisasi bukan hanya menyelamatkan hasil pertanian dari pembusukan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di sektor agroindustri.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img