Monday, November 28, 2022

Salak Slebor : Pondoh Organik dari Cimande

Rekomendasi

Bukan hanya Yopie yang asing mendengar kata salak slebor. Dr Ir Tri Sudaryono MS, peneliti salak dari Sumatera Barat pun tak mengetahui salak slebor. ‘Bila yang dimaksud salak pondoh yang ditanam di Cimande, Bogor, saya pernah ke sana. Sama dengan pondoh di daerah asalnya, kadar tanin rendah pada buah muda. Karena itu rasanya manis saat tua,’ kata kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat itu. Nama slebor baru melekat 4 tahun belakangan untuk membedakan dengan pondoh sleman.

Pondoh pertama kali dikebunkan di Bogor secara komersial pada 1997. Ketika itu almarhum H Hamid membawa bibit salak pondoh cangkok dari Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 2.200 salak ditanam di kebun seluas 1 ha. Jarak tanam bervariasi: 2,25 m x 1,5 m, 2 m x 1,5 m, dan 1,75 m x 2,25 m. Di sekeliling kebun 700-800 biji salak ditanam sebagai pagar. ‘Itulah cikal-bakal slebor di Bogor,’ kata H Deden Tatang Suwardi, penyuluh pertanian di Bogor.

Menurut Deden, dahulu kala Bogor terkenal sebagai kota salak. Buktinya nama-nama tempat di Kota Hujan itu lazim menggunakan kata salak. Misal Gunung Salak dan Cisalak. ‘Anehnya, tak ada salak yang manis di Bogor. Kebanyakan asam dan berair. Itu pun tersebar di kebun sebagai tanaman alami,’ ujar Deden. Satu-satunya salak yang manis ialah salak condet. Yang disebut terakhir mendominasi pasar Jakarta dan Bogor pada 70-an. Namun, pada 1997 populasi salak condet hampir punah (baca: Upaya Melestarikan Salak Condet, Trubus Agustus 1997).

Organik

Hijrahnya pondoh ke Bogor tak sekadar berpindah tempat. H Hamid membudidayakan slebor secara organik. Lahan seluas 1 ha di ketinggian 600 m dpl itu bekas kebun pepaya yang dikelola organik selama 8 tahun. Ketika itu pepaya organik jauh lebih berkualitas ketimbang pepaya biasa. ‘Produksi lebih tinggi dan umur pohon pepaya bisa 8 tahun,’ kata Deden. Pepaya anorganik lazimnya berumur 30 bulan.

Lantaran lahan telah dikelola secara organik selama 8 tahun, maka pondoh pun dibudidaya dengan sistem 100% organik. ‘Ketersediaan hara tanah untuk tanaman sudah stabil. Makanya ayah saya yakin bakal berhasil dengan organik murni,’ kata Nur Ichwan, putra sulung Hamid. Bedanya pupuk organik berupa kotoran kambing biasa diganti dengan kotoran kambing hasil fermentasi mikroba EM-4. Disebut juga bokashi pupuk kandang. Dengan fermentasi mikroba, kematangan pupuk kandang hanya dalam 3-4 hari. Teknik pengomposan biasa mencapai 1 bulan.

Setiap rumpun salak-terdiri dari 2 tanaman-diberi 3-5 kg bokashi pupuk kandang. Perlakuan diulang 6 bulan sekali, tepatnya saat awal dan akhir musim penghujan. ‘Cara pemberian langsung 6-12 kg karena diletakkan di tengah-tengah 2 rumpun tanaman,’ kata Ichwan. Di tepi bedengan berjarak 50 cm dari rumpun salak dibuat selokan sedalam dan selebar 50 cm. Panjang mengikuti bedengan. Di sanalah daun dan pelepah dibenamkan. Di atas residu tanaman itu ditabur bokashi secara tipis untuk mempercepat penguraian.

Keyakinan Hamid mulai terjawab 2 tahun kemudian saat pondoh belajar berbuah. ‘Dari 1 ha dipetik 556 kg. Pada 2000 produksi melonjak hingga 6 ton/ha,’ kata Ichwan. Pada 2005 berlipat, 11,7 ton; 2006, 16,4 ton. Buah yang dipetik pun lebih renyah ketimbang pondoh asli. Lama simpan salak pipilan 8 hari sejak petik dan salak tandan 12 hari. Pondoh biasa hanya 6 dan 10 hari. Uniknya saat pondoh di Sleman tidak berbuah pada Mei-Agustus, salak slebor berbuah sebagai buah apitan.

Berkualitas

Menurut, Dr Ir Ririen Prihandarini MS, sekretaris jenderal Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA), teknik budidaya ala H Hamid itu disebut sistem pertanian organik murni. ‘Bila air dan udara bisa terbebas dari residu pupuk kimia dan pestisida bisa disebut organik murni. Dalam standar MAPORINA bisa diberi label hijau,’ katanya. Selain hijau, dikenal label kuning untuk pertanian organik yang belum terbebas dari pertanian konvensional di sekitarnya. Label merah, produk sistem pertanian yang mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk sintetis.

Slebor organik yang lebih berkualitas-renyah, tahan simpan, dan tak mengenal musim-pun diakui oleh Tri. Menurutnya, pada tanah organik, kadar N anorganik lebih rendah, lebih gembur, dan kadar air lebih tinggi. Buah salak dari lahan dengan kadar N anorganik rendah cenderung lebih renyah teksturnya. Akibatnya daya simpan lebih lama. ‘Pertumbuhan buah stabil, tidak menjadi sukulen (kebanyakan air, red),’ kata pria yang pernah meneliti salak bangkalan asal Madura itu. Tanaman atau buah kerap bersifat sukulen bila diberi pupuk Urea berlebihan. Buah tak mengenal musim karena secara mikro iklim lebih sejuk. Itu disukai oleh salak sehingga kemunculan bunga tidak terputus.

Sukses berkebun slebor organik itu kian menegaskan salak lebih unggul bila dikebunkan secara organik. Tiga tahun silam, salak nglumut organik asal Magelang diakui lebih manis ketimbang produk anorganik. ‘Itu bukti sahih bahwa pertanian organik bisa diterapkan secara murni tanpa pupuk kimia,’ ujar Ir Zakky Husein, dari PT Songgolangit, distributor Effective Mikroorganisme (EM4). Ucapan itu sekaligus menegaskan keraguan seorang pakar akan keberhasilan teknik budidaya organik dengan bokashi murni (baca: Pekebun Buah Demam Pupuk Organik, Trubus Februari 2007).

Kini 11 tahun sejak metamorfosa pondoh menjadi slebor organik, salak itu kian populer di kalangan pencinta organik. Dari sukses berorganik di lahan 1 ha, pengembangan meluas hingga 6 ha yang ditanam 20 pekebun. Tak kurang menteri pertanian Malaysia, Datuk Mohd. Effendi Norwawi tertarik mencicipi langsung ke Cimande, Bogor, pada 2002. Kelak 3-5 tahun ke depan Cimande yang dulu populer sebagai gudang pendekar silat di Jawa Barat berubah menjadi gudang salak mabuk. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img