Friday, December 2, 2022

Olah Cryptomonadales 6 Proses di 2 Tempat

Rekomendasi

Proses perbanyakan cryptomonadales yang berlokasi di Chen Ping Village, Fengyuan, Changhua, Taiwan, itu sebenarnya telah dipangkas. Sebelumnya ada 9 proses yang harus dilalui. Awalnya bibit ganggang diperbanyak di laboratorium, kemudian baru dipindah ke bak penampungan berdiameter 2 m. Ketika jumlahnya sudah banyak, makhluk bersel satu itu dipindahkan kembali ke kolam berukuran sedang, diameter 5-6 m, dan terakhir ke kolam besar berdiameter 20-30 m.

Namun, Prof dr Wang Shun Te, penemu cryptomonadales dari negeri Formosa, merasa proses itu tidak efisien. ‘Butuh waktu 1 bulan dari laboratorium hingga panen,’ katanya. Kini, alga yang terdapat di dalam kolam besar itu hanya dipanen setengah. Sisanya, dijadikan bibit untuk diperbanyak kembali. Dengan begitu, Wang bisa panen setiap 3-4 hari per kolam.

Di lahan seluas lapangan sepakbola itu terdapat 20 kolam penampungan beragam ukuran. Namun kini, kolam kecil dan sedang tak lagi beroperasi, hanya 8 kolam besar yang tetap dipergunakan. Di sanalah makhluk liliput itu dibudidayakan hingga panen dan berubah bentuk dari cair menjadi bubuk cryptomonadales.

Selanjutnya serbuk ganggang yang dikemas dalam kaleng setinggi 40 cm itu dikirim ke Yusheng Pharmaceutical Co., Ltd di Taichung. Lokasi ditempuh sekitar satu jam bermobil dari Changhua. Di sana, serbuk dianalisis kandungannya, kemudian diolah menjadi tablet dan kapsul. Berikut pengolahan cryptomonadales dari bak penampungan hingga tablet.

  1. Bibit dimasukkan ke dalam kolam terbuat dari semen setinggi 50 cm. Kolam diisi air tanah yang telah bersih dari logam berat. Perbandingan air dengan cryptomonadales, 9:1. Untuk memasok CO2, Wang memberikan cuka sebanyak 5% dari volume total. Setiap kolam dilengkapi pemutar yang digerakkan listrik dan beroperasi selama 24 jam. Pemutar berfungsi mengaduk air kolam sehingga bibit crypto tak ada yang mengendap di dasar kolam. Selain itu, alga juga memperoleh sinar matahari secara merata. Makhluk liliput itu tumbuh baik pada suhu 28-32?C. Di bawah 10?C dan di atas 32?C, alga tidak tumbuh. Sedangkan pada suhu 10-20?C, pertumbuhan makhluk berukuran 4-8 mikron itu lambat. Karena perbedaan suhu itu, Wang memanen 10 ton serbuk cryptomonadales pada musim panas dan musim dingin hanya 2 ton.
  2. Cara panen, air kolam berisi alga itu dipompa dan dialirkan ke-3 penyaring. Pada saringan pertama, air yang keluar terlihat keruh berwarna cokelat. Air bening yang keluar tampak pada saringan ketiga, tanda ganggang sudah bersih.
  3. Cryptomonadales yang telah bersih masih mengandung air. Untuk mengeringkan, alga itu dialirkan ke spray drier. Di dalam tabung yang bersuhu 100?C itu, crypto turun dalam bentuk kabut. Bak sihir, dalam waktu 1,5 detik, ganggang yang tadinya cair berubah jadi bubuk. Bubuk cryptomonadales kemudian ditampung dan dikemas dalam kaleng persegi setinggi 40 cm. Setiap kaleng berisi sekitar 10 kg serbuk.
  4. Dari Changhua, bubuk alga itu dikirim ke Yusheng Pharmaceutical Co., Ltd di Taichung. Di sana, serbuk dianalisis terlebih dahulu sebelum diolah menjadi tablet atau kapsul. Dari setiap kaleng, diambil 30 g bubuk crypto untuk dicek di laboratorium. Pengecekan berupa kadar air, penampilan, kandungan logam berat, jumlah klorofil, kandungan Gamma Linoleic Acid (GLA), serta pengecekan keberadaan mikroba berbahaya. Kandungan air tak boleh lebih dari 7%.
  5. Setelah hasil laboratorium memenuhi syarat, serbuk kemudian dimasukkan ke dalam mesin yang akan mengubah bentuk jadi tablet. Mesin berkapasitas 5.000 tablet/hari.
  6. Dari Taichung, tablet cryptomonadales dikirim kembali ke Changhua untuk kemudian dikemas. Setelah dikemas dalam botol dan kardus, produk siap dipasarkan ke konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tablet cryptomonadales itulah yang dikonsumsi Tan setiap hari. (Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img