Monday, November 28, 2022

Samsudin: Minyak Kaffir Jadi Lumbungnya

Rekomendasi

 

Setiap hari Samsudin merajang 1.200-1.500 campuran ranting dan daun Citrus hystrix segar. Bahan baku dicacah supaya minyak yang tersimpan di dalam jaringan tanaman lebih mudah terangkat saat disuling. Cacahan itu lantas dikukus dalam 2 tungku berkapasitas 250 kg selama 5 jam.

Dalam sehari Samsudin 3 kali menyuling. Dari 250 kg bahan baku menghasilkan 1,5 kg minyak atau rendemen 0,6%. Artinya Samsudin mendulang 9 kg kaffir lime oil dalam sehari. Dengan harga jual Rp600.000-Rp700.000/kg, omzetnya Rp5,4-juta-Rp6,3-juta/hari alias Rp162-juta-Rp189-juta/bulan

Versus nilam

Bahan baku diperoleh dari pekebun jeruk purut yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Tulungagung. Kabupaten berjarak 154 km dari Surabaya itu memang salah satu sentra jeruk purut. Luas penanaman mencapai 150 ha.

Samsudin hanya mengambil bahan segar. ‘Idealnya 1-2 jam setelah panen,’ ujarnya. Berdasarkan pengalaman, bila daun layu aroma khas minyak jeruk purut berkurang. Bahkan kalau sampai kering aroma minyak nyaris hilang.

Dari penyulingan minyak jeruk purut pria 42 tahun itu mengutip laba Rp100.000-Rp200.000 per kg atau Rp900.000-Rp1,8-juta per hari. Nilai itu memang lebih kecil dibandingkan keuntungannya waktu menyuling nilam. Dari minyak asiri itu Samsudin lazimnya mendulang laba Rp200.000-Rp500.000 per liter. Setiap hari didapat 18 l minyak nilam. Artinya keuntungan per hari Rp3,6-juta-Rp9-juta.

Keuntungan lebih tipis karena biaya produksi minyak kaffir lebih tinggi daripada nilam. Minyak kaffir Rp500.000-Rp600.000/kg, nilam rata-rata Rp300.000/kg. Biaya menjulang karena rendemen hanya separuh dari produksi nilam yang mencapai 1,2%. Sedangkan pengeluaran lainnya seperti konsumsi bahan bakar dan biaya tenaga kerja, sama.

Rugi besar

Toh itu tak menyurutkan langkah anak ke-3 dari 6 bersaudara itu memproduksi minyak jeruk purut. ‘Yang penting harga minyak stabil dan pemasarannya mudah,’ ujar pria yang juga pengusaha gagang payung itu. Berbeda dengan minyak nilam yang fluktuasi harganya sangat tajam.

Ayun-ambing harga itulah yang menghancurkan usaha penyulingan nilam yang digeluti Samsudin sejak 2003. Padahal, berkat perniagaan minyak nilam itu Samsudin meraih sukses. Hanya dalam 2 tahun, usaha bermodal Rp90-juta itu berkembang. Ia berhasil membeli sebuah mobil Toyota Kijang dan truk untuk operasional usaha.

Sayang hantaman keras meruntuhkan usaha yang baru dibangunnya. Pada 2005 harga minyak nilam anjlok hingga Rp125.000/kg. Harga wajar minimal Rp500.000/kg. Berton-ton bahan baku dibiarkan menggunung di halaman rumahnya di Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. ‘Waktu itu saya rugi hingga ratusan juta rupiah,’ ujarnya. Sejak itulah 2 tungku penyulingan yang berada di samping rumah menganggur.

7 bulan ujicoba

Namun, runtuhnya usaha tak membuat Samsudin larut dalam kesedihan. Mobil dan truk yang dimiliki dijual untuk merintis usaha baru. Dengan modal itu ia berkeliling ke Gunung Wilis, Gunung Kawi, Jember, Lumajang, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Wonogiri. Tujuannya hanya satu: mencari komoditas minyak asiri yang ‘tak lazim’ di pasaran. Dengan begitu, ia berharap tak lagi terjerembap pada jurang harga yang anjlok.

Dari pencarian itu ia berhasil mengumpulkan beberapa komoditas sumber minyak asiri seperti jeruk purut Citrus hystrix, lajagowah Alpinia malaccensis, jahe Zingiber officinale, dan adas Foeniculum vulgare. Harga minyak keempat komoditas itu tergolong tinggi, berkisar Rp600.000-Rp700.000/kg. Sebagai percobaan, aneka jenis bahan baku itu disuling dengan alat penyuling mini berkapasitas 50 kg.

Tujuh bulan lamanya Samsudin melakukan penelitian kecil-kecilan. Setelah menemukan teknik produksi yang pas untuk setiap komoditas, mantan karyawan sebuah dealer mobil ternama di Jakarta itu mulai memproduksi dalam skala besar.

Sayangnya dari keempat komoditas itu hanya minyak jeruk purut yang dapat diproduksi kontinu. ‘Pasokan bahan baku jahe, lajagowah, dan adas sulit,’ tutur Samsudin. Untuk pemasaran minyak jeruk purut ia meneken kontrak dengan eksportir asal Jakarta dan Semarang. Berapa pun jumlah pasokan mereka terima.

Meski begitu bukan berarti memproduksi minyak jeruk purut tanpa kendala. Bahan baku paling baik adalah daun tua karena kandungan minyaknya lebih tinggi. Hanya saja para pekebun enggan memenuhi permintaan Samsudin karena sulit bila harus memanen selektif. Mereka juga tak mau rugi karena bobot daun lebih ringan sehingga pendapatan sedikit.

Para pekebun biasanya memanen bersama ranting. Akibatnya daun tua bercampur dengan ranting dan daun muda. Kalau murni daun tua rendemennya lebih tinggi. Dari 250 kg bahan baku menghasilkan 1,9 kg minyak, kalau tercampur 1,5 kg.

Untuk kenduri

Pasokan bahan baku juga kerap tersendat pada bulan-bulan tertentu dalam kalender Jawa. Misal Bakda Mulud, Ruwah, dan Besar. Ketiga bulan itu dipercaya sebagai bulan baik untuk melangsungkan pernikahan. Permintaan daun jeruk purut melambung karena dibutuhkan untuk bumbu masakan kenduri.

Akibatnya harga ikut terdongkrak menjadi Rp8.000/kg. ‘Harga setinggi itu tidak ekonomis. Maksimal Rp3.000/kg,’ tuturnya. Bila sudah begitu, Samsudin beralih memproduksi minyak jahe atau adas. Kedua komoditas itu diserap pasar meski produksi tidak kontinu. Suami Lusiani itu hanya memproduksi minyak jahe atau adas sebulan sekali. Untungnya Rp4-juta-Rp5-juta/bulan.

Bila pasokan daun jeruk purut kembali melimpah dan harga turun, ia memproduksi minyak anggota famili Rutaceae lagi. Dari sanalah pria bersahaja itu merajut kembali jaring usaha yang telah terurai. ‘Dari jumlah kerugian akibat nilam, sudah 80% yang kembali,’ ujarnya. Buat Samsudin kaffir lime oil adalah lumbung rupiahnya saat ini. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img