Monday, August 15, 2022

Sang Predator Andal

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Andai kita capung, maka ukuran mata kita menjadi sebesar helm atlet rugby.

Untuk apa sih mata sebesar itu? Bagi papatong, sebutan oleh Suku Sunda, mata organ vital. Sepasang mata faset yang terdiri dari 30.000 ommatidia (kornea) itu mampu melihat objek di depan mata hingga sudut 360o. Artinya dalam sekali pandang capung bisa melihat objek di depan, samping, dan belakang. Sebab setiap mata mikro mengarah pada titik berbeda. Mata faset menangkap pergerakan objek dengan mengidentifikasi warna dan bentuk objek.

 

Serangga terbang yang sudah ada sejak sebelum zaman dinosaurus itu juga memiliki mata oseli. Tiga buah mata oseli terletak di depan mata raksasanya sangat peka terhadap benda yang sedang bergerak dan mendekati capung. Itu karena kemampuannya melihat dispersi cahaya polikromatik (cahaya putih, red) menjadi cahaya monokromatik alias merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Ketika sebuah benda bergerak di depan capung, mata oseli menangkap intensitas cahaya dari benda itu.

Lalu informasi itu segera diteruskan ke mata fasetnya yang berbentuk segienam sehingga bentuk objek diketahui. “Dengan mata faset dan mata oseli-nya capung dapat mengenali dan menyambar mangsa dengan cepat,” tutur Suputa SP MS, ahli serangga dari Universitas Gadjah Mada. Pun menghindar dari pemangsa seperti burung, capung lain, kadal, kodok, laba-laba, ikan berukuran besar, dan alap-alap capung.

Namun, karena proses identifikasi lewat cahaya pula capung kerap “salah melihat”. “Capung kerap tertipu oleh warna dan bentuk yang ia lihat,” kata Suputa. Semua bentuk benda terlihat sama saja oleh mata faset. Untuk warna, kuning yang lebih banyak dilihat. Akibatnya capung kerap salah meletakkan telur di benda yang memantulkan warna kuning seperti halnya permukaan air. Contohnya bangunan.

Dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, itu menyebutkan kinjeng, bahasa Jawa, predator tulen. “Capung adalah pengendali serangga kecil yang menjadi vektor penyakit manusia,” tutur Suputa. Contohnya nyamuk demam berdarah dengue dan malaria. Menurut Wahyu Sigit, direktur Indonesia Dragonfly Society, seekor capung bisa memangsa 50-100 ekor nyamuk sehari.

Kemampuan sebagai predator sudah terasah sejak masih dalam bentuk naiad-larva capung, berada di air. Naiad memangsa ikan kecil sehingga mencegah dominasi spesies tertentu. Karena kiprahnya itu, capung juga berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem alam. Periset di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Pudji Aswari, menyebutkan, seekor larva capung mampu memakan 45 jentik nyamuk setiap hari.

“Capung murni karnivora,” kata Sigit. Terkadang capung menjadi predator karena lapar dan untuk mempertahankan wilayahnya. “Capung jantan memiliki daerah teritorial. Ia tidak mengizinkan capung jantan lain memasuki wilayahnya,” tutur Prof Intan Ahmad PhD dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung.

Selain mata, sayap menjadi “senjata” penting lain ketika capung berburu dan menghindari musuh. Capung termasuk serangga dengan kecepatan terbang tinggi: capung ordo Anisoptera bisa terbang dengan kecepatan 50 km per jam. Kemampuan terbang dengan cepat, bergerak maju-mundur secara aerodinamis membelah angin itu karena ukuran sayap depan lebih panjang daripada sayap belakang. Lagipula sayap tipis dan didukung otot-otot kuat di sekitar sayap. Pada capung jarum (damself), sayap menutup tatkala bertengger, pada capung biasa (dragonfly) sayap membuka. Posisi dua pasang sayap secara diagonal membuat capung bisa bermanuver dengan cepat.

Gerakan manuvernya tanpa cacat karena keberadaan sensor berupa rambut-rambut kecil di antara mata, di depan mata, dan di bagian depan kepala. “Sensor menunjukkan posisi terbang capung,” kata Suputa. Dengan begitu capung bisa menghindari tabrakan dalam seketika.

Keandalan mata dan sayap capung lantas menginspirasi manusia. Helikopter sikorsky salah satu teknologi meniru kecanggihan terbang capung. Helikopter itu didesain supaya bisa terbang bermanuver seperti capung. Di Amerika Serikat, seorang desainer merancang bangunan berbentuk seperti sayap capung. Dinding bangunan terdiri atas ribuan bentuk segienam laksana mata faset capung. Bangunan tembus pandang dengan 132 lantai itu nantinya ditujukan untuk area perkantoran, rumah tinggal, fasilitas umum, dan lokasi berkebun secara vertikal. Capung pun menginspirasi dunia. (Evy Syariefa/Peliput: Andari Titisari, Bondan Setyawan, dan Riefza Febriansyah)

 

 

 

 

 

 

 

Mata faset dan oseli mengidentifikasi keberadaan mangsa, lalu capung terbang bermanuver menangkap sasarannya

<      Agriocnemis pygmaea, ditemukan hampir di seluruh Asia

<<   Pseudagrion pruinosum, genus Pseudagrion terbesar dengan 140 spesies

Suputa SP MS, ahli serangga di Universitas Gadjah Mada

Anggota komunitas Indonesia Dragonfly Society

<      Neurothemis rambunii, hampir semua spesies dari genus Neurothemis berwarna merah

<<   Trithemis aurora, jantan berwarna lebih cerah, betina kecokelatan

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img