Friday, December 9, 2022

Sapi Potong

Rekomendasi

526_42-43-2Mohon dimaafkan kalau saya harus mengaku tak mungkin hidup tanpa sapi! Yang tercinta, nenek kami, perajin daging kering bumbu ketumbar, dan lebih akrab dipanggil “Oma Dendeng”. Istri saya, anak, ibu, adik, bahkan cucu kami pun berbintang Taurus. Itulah nama sapi dalam bahasa Latin. Persisnya Taurus javanica untuk sapi kerapan Madura. Itu satu-satunya jenis sapi balap di dunia, yang juga lezat dagingnya. Taurus indica untuk sapi India yang disebut juga lembu, atau Taurus taurus untuk sapi pada umumnya secara universal.  Adapun Bos javanicus adalah banteng.

Jangan lupa, ada lebih dari 800 jenis sapi di seluruh muka Bumi. Mulai sapi potong black angus di England sampai yak berambut lebat di Tibet, Tiongkok. Jadi betapa bahagia saya melihat bermacam jenis sapi berseliweran seputar hari Lebaran pada awal Agustus 2013. Beribu-ribu sapi potong diangkut truk dari Pelabuhan Tanjungpriok, Banten, Cirebon, dan seterusnya. Ada yang putih, cokelat, hitam, abu-abu dan kembang-kembang. Semuanya sapi potong. Dalam hitungan jam sapi-sapi itu sudah berubah menjadi sup, tongseng, daging tetelan, rawon, maupun rendang.

 

Konsumsi rendah

Kapal pertama dari Australia, sepuluh hari sebelum Lebaran datang dengan 7.000 sapi potong.  Maklum, Indonesia banyak memerlukan daging sapi, terutama ketika menyambut hari raya.  Untuk menekan harga yang melambung akibat sulitnya pasokan daging, berton-ton daging beku dan sapi hidup terpaksa harus diimpor. Meskipun begitu, jangan pikir orang Indonesia cukup makan daging.  Konsumsi per kapita daging sapi baru 1,8 kg per tahun. Angka itu sangat rendah kalau dibandingkan orang Filipina yang mencapai 7 kg per kapita dan Malaysia yang memimpin gemar daging dengan konsumsi 15 kg per tahun per kapita.

Mengapa konsumsi daging sapi bangsa Indonesa begitu rendah?  Pertama-pertama karena harga daging tergolong sangat mahal. Menjelang hari Lebaran harga daging sempat melonjak dari Rp70.000 menjadi Rp100.000 per kilogram.  Di Aceh kabarnya bisa  melonjak luar biasa, sampai Rp150,000 per kg. Padahal, kita sering melihat lembu berseliweran di halaman masjid, di tepi sungai, dan di berbagai lapangan. Hanya harus dicatat, kita makan daging sapi tidak setiap hari. Itu pun terwujud sebagai abon, dendeng balado tipis-tipis, sambal goreng ati, empal gepuk, empal gentong, dan satai yang potongannya kecil-kecil.

Berbeda dengan orang Amerika Serikat yang bisa mengonsumsi lebih dari 24 kg per tahun per kapita. Masakan daging sapi di sana terbilang kelas berat, misalnya dalam bentuk steak yang bobotnya 100–200 gram bahkan 400 gram sepotong.  Atau burger dan sosis yang bisa dinikmati pada pagi, siang, dan malam. Namun, semakin modern–tampaknya semakin tinggi kebutuhan dan kesukaan pada daging sapi.  Maka dalam waktu singkat, konsumsi daging sapi di tanahair pun meningkat.  Daging dan sapi hidup segera dimpor dari Australia, Selandia Baru, dan negara-negara lain termasuk India.

 

Krisis sapi

Akibat meningkatnya konsumsi daging sapi, kebutuhan akan sapi  potong juga bertambah dari tahun ke tahun.  Meskipun satu orang hanya makan daging paling banyak saat Idul Fitri, Idul Adha, dan kalau ada kondangan, toh banyak juga kebutuhan untuk 240-juta mulut dan perut Indonesia. Dari sup buntut, konro bakar, sampai rujak cingur. “Yang menyedihkan, sapi betina pun sering kali terpaksa dipotong.  Inilah yang menyebabkan krisis daging sapi membayangi pasar di Indonesia,” kata Ismed Hasan Putro, tokoh industri sapi di sebuah Badan Usaha Milik Negara.

Untuk mengatasi hal itu, kini setiap tahun diupayakan memproduksi paling sedikit 15.000 sapi betina untuk disebarluaskan. Kita sering mendengar bahwa syarat restoran ramah lingkungan tidak menghidangkan daging lembu atau cow, tetapi daging sapi (cattle). Di dunia internasional, lembu memang mengacu pada jenis betina, yang sekaligus penghasil susu.  Sebenarnya lembu memang jenis sapi yang dapat diambil susunya dan sekaligus juga sapi potong. Persilangan antara lembu dan seladang—sejenis banteng dinamakan selembu.  Itulah jenis sapi hibrida yang banyak dipopulerkan di  Malaysia.

Secara tradisional, sapi-sapi potong di Indonesia berasal dari persilangan lembu dan  benggala yang dikenal sebagai sapi pekerja.  Belakangan  kita mendapat masukan jenis sapi pedaging unggul seperti limosin, brahman, dan simental. Beberapa peternak kecil di Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, mulai getol menggemukkan sapi limosin yang bisa mencapai 800—1.000 kg.  Sementara di Kabupaten Majalengka,  Provinsi Jawa Barat, diperkenalkan sapi simental yang berasal dari Swiss.  Betinanya bisa mencapai bobot 800 kg, sementara yang jantan bisa 1,150 kg.

Bandingkan dengan rata-rata sapi jawi atau peranakan ongole yang telah menjadi sapi lokal, bobot maksimal 650 kg untuk jantan dan 450 kg betina.  Tentu saja para peternak sapi limosin harus bekerja ekstra keras untuk mencukupi rumput, menambah konsentrat pakan sapinya. Selain itu juga obat-obatan, vitamin B kompleks, dan perawatan yang lebih baik, termasuk menyediakan kandang yang sehat.  Untuk membantu mereka, ada yayasan dan sponsor yang membantu, mulai dari pengadaan anakan yang harganya bisa mencapai Rp15-juta—Rp 20-juta per ekor.

 

Eka BudiantaKoperasi sapi

Sapi ongole anakan dengan bobot 215 kg lazimnya bernilai Rp7-juta per ekor. Untuk budidaya yang menguntungkan, sebaiknya mulai dengan enam ekor, sehingga diperlukan modal awal  paling sedikit Rp50-juta, termasuk untuk membangun kandang.  Tentu dengan asumsi tempat sudah tersedia, cadangan rumput banyak, dan ada tenaga terampil yang sehari-hari mengurusnya. Dalam tempo enam bulan, biasanya seekor sapi lokal yang sehat dengan mendapatkan makanan yang tepat dan perawatan yang baik, bobot bertambah 20 kg. Untuk penggemukan sapi limosin dan simental cukup dalam tempo tiga bulan.

Dengan cara itu, krisis daging sapi diharapkan dapat ditangani. Namun, secara umum jumlah sapi di seluruh Indonesia masih sangat kecil.  Hasil sensus ternak 2013 mencatat jumlah seluruh sapi di 34 provinsi tanah air kita hanya 13,2-juta ekor.  Itu berarti turun 19% dibandingkan dua tahun sebelumnya yang mencapai 16-juta ekor.

Berapakah jumlah sapi ideal untuk bangsa Indonesia?  Sebagai ilustrasi 310-juta orang Amerika Serikat memiliki lebih dari 90-juta ekor, dengan bobot antara 600–800 kg.  Negara bagian tertentu seperti Wyoming, dengan warga 500.000 jiwa punya ternak sapi 1,2- juta ekor.  Australia dengan 26-juta warga punya 26,7-juta sapi.

Indonesia memiliki daerah-daerah sentra peternakan sapi di Lampung, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.  Di Jawa, Madura, Sumba, dan Bali juga sudah mulai terbentuk koperasi masyarakat peternak sapi.  PT Rajawali Nusantara Indonesia, persero peternakan sapi terbesar mengklaim menampung 220,000 sapi di enam sentra.  Umumnya, secara tradisional, peternak di desa-desa cukup bahagia dengan tiga, bahkan dengan seekor sapi. Ketika saya naik kelas 6 SD ayah menghadiahkan seekor sapi gumarang betina. Warnanya hitam bergaris-garis coklat.

Sayang ia mati keracunan, tanpa sempat tertolong, karena tidak adanya klinik untuk sapi. Ia dikubur dan saya menangis lama. Waktu itu sapi potong belum diperhatikan. Tidak menjadi berita di radio, televisi, maupun koran. Sekarang koperasi peternakan sapi mulai dibentuk, dan dokter-dokter hewan disebarkan. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad, malah sudah menyampaikan saran kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar memperkuat  koperasi peternak sapi.  Ia percaya koperasi dapat memperbaiki pasokan daging dan sekaligus mencegah korupsi.***

*) Kolumnis Trubus, advisor Jababeka Botanic Gardens dan pengurus Tirto Utomo Foundation.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img