TRUBUS — Kombinasi budidaya cacing sutra dan lele di satu lahan. Panen lele 15 hari hari lebih cepat.

Di sawah seluas 700 m2 Sumarjoko membuat dua kolam lele berukuran masing-masing 4 m x 5 m. Di lokasi yang sama, warga Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yoyakarta (DIY), itu juga mengembangkan cacing sutra di kolam berukuran 7 m x 10 m. Jumlahnya 6 kolam cacing sutra. Semula air yang melewati sawah kepunyaan Joko—sapaan akrab Sumarjoko—mengalir ke sawah tetangga.
Cacing sutra milik Joko kerap terbawa arus air. Itulah sebabnya Joko membuat kolam pembesaran lele yang berperan sebagai tempat penampungan air sawah cacing—sebutan sawah yang dipakai sebagai tempat budidaya cacing sutra. Konsep itu sangat berguna karena cacing sutra yang hanyut menjadi santapan lele. Teknik itu mempersingkat panen lele, hanya 60 hari setelah tebar benih. Lazimnya peternak memanen lele Clarias sp. pada umur 70—75 hari setelah penebaran.
Saling menguntungkan
Tambahan pakan berupa cacing sutra yang hanyut menjadi pakan tambahan bagi lele. Oleh karena itu, panen pun 10—15 hari lebih cepat daripada budidaya tanpa cacing sutra. Joko menduga kebutuhan protein terpenuhi. Dosen Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc., mengatakan, protein cacing sutra relatif tinggi mencapai 30—40%.
Hasil penelitian Suharyadi dari Universitas Terbuka pada 2012 mengungkapkan protein cacing sutra berjumlah 57%. Kombinasi budidaya cacing sutra dan lele itu salah satu terobosan baru. Ide itu berasal dari dosen Program Studi Akuakultur, Departemen Perikanan, UGM, Dr. Ir. Ignatius Hardaningsih, M.Si. Joko membuat kolam lele pada 2020. Menurut Ignatius Hardaningsih kolam lele untuk memanfaatkan air buangan cacing. Selain itu, “Pembuatan kolam lele juga meningktakan produktivitas lahan,” kata Gandung, sapaan akrab Dr. Ir. Ignatius Hardaningsih, M.Si. Beberapa warga Desa Banjarharjo memang lazim memanfaatkan sawah sebagai tempat budidaya cacing sutra. Kehadiran pematang diperlukan untuk mengalirkan air. Ada juga yang meniadakan pematang atau galeng seperti Wahyu Andi Prianggoro.

(foto : dok. Trubus)
Andi menggunakan potongan asbes untuk mengatur aliran air. Tujuannya agar lebih banyak lahan yang terpakai untuk biota akuatik itu. Gandung memanfaatkan air buangan cacing agar air bekas sawah cacing tidak masuk ke sawah orang lain. “Banyak cacing yang pindah ke sawah tetangga,” kata Joko yang membudidayakan cacing sutra sejak 2019 itu. Bahkan ada petani padi di dusun lain terganggu dengan adanya air bekas sawah cacing.
Harus budidaya
Sebetulnya bukan hanya lele yang mendapatkan manfaat dari sistem kombinasi budidaya itu. Gandung berharap air kolam lele yang tinggi nitrogen karena adanya amonia dialirkan kembali menggunakan pompa ke sawah cacing. Dengan begitu cacing sutra bisa memanfaatkan nitrogen dalam amonia sebagai sumber makanan. Selama ini para pembudidaya memakai kotoran burung puyuh sebagai media pemeliharaan cacing sutra.
Andi rutin memberikan 125 kg kotoran puyuh pada sore setiap hari. Musababnya menjelang malam cacing berada di permukaan air sehingga dapat menyerap pakan dengan baik. Intinya budidaya cacing sutra dan lele dalam satu lahan saling menguntungkan. Lele memperoleh pakan tambahan berupa cacing sutra yang hanyut, sedangkan cacing sutra mendapatkan air kolam kaya nitrogen.
“Lebih baik cacing untuk lele daripada terbuang,” kata Gandung yang pernah menjadi pencari cacing sutra di Kali Manunggal (dahulu bernama Kali Mambu), Kota Yogyakarta, pada 1998. Ia menghitung sawah lele seluas 300 m2 memerlukan satu kolam lele berukuran 20 m2 berisi 2.000 ikan. Jika panen 400 kg lele setelah dua bulan dan rasio konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) 1, maka ada sekitar 2 kuintal kotoran tersupsensi.

(foto : dok. Trubus)
Pada bulan ke-1—ke-3, pemberian kotoran puyuh setiap hari. Setelah itu, intensitas pemberian kotoran puyuh dapat berkurang menjadi 3—7 hari sekali. “Ini masih tahap penjajakan,” kata Gandung. Kombinasi budidaya cacing sutra dan lele di Desa Banjarharjo tepat. Musababnya ada kelompok pembudidaya ikan yang fokus di pembenihan dan pembesaran lele.
Dalam edaran pers (press release) Direktur Pakan dan Obat Ikan, Direktorat Pakan dan Obat Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ir. Mimid Abdul Hamid, M.Sc., menyatakan, selama ini cacing sutra diperoleh secara alami di saluran irigasi persawahan warga sehingga ketersediaan tidak stabil bahkan kurang. Terlebih pada musim hujan. Keterbatasan itu bisa teratasi dengan budidaya cacing sutra. Terobosan Gandung bisa memaksimalkan potensi sawah cacing. Menurut Andi, budidaya cacing sutra menguntungkan. Ia mendapatkan laba bersih sekitar Rp2,6 juta/bulan dari hasil perniagaan cacing sutra. Ceruk pasar besar dan teknis budidaya relatif mudah mendorong Andi memelihara pakan alami ikan itu. Terobosan Gandung bisa memaksimalkan potensi sawah cacing. (Riefza Vebriansyah)
