
berharga mahal Rp60.000/kg di pasar bersih.
Pasar menanti pasokan bayam hingga kale hidroponik.
Trubus — Hamparan bayam hijau segar tumbuh subur. Lazimnya petani menanam Amaranthus spp. di lahan. Namun hamparan bayam siap panen itu menghuni lebih dari 6.000 lubang tanam di pipa berdiameter 3 inci. Itulah pemandangan kebun hidroponik Serua Farm, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat. Charlie Tjendapati—pemilik Serua Farm—mengatakan, permintaan bayam hidroponik meningkat saat ini. Oleh sebab itulah, ia membudidayakan sayuran daun itu untuk memenuhi permintaan.
Artinya bayam hidroponik memiliki banyak peminat meski tanaman anggota famili Amaranthaceae itu banyak dibudidayakan secara konvensional. Buktinya bayam juga menjadi salah satu komoditas utama kebun hidroponik Hyseed Farm di Desa Tlajungudik, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. “Saya memproduksi 6 kg bayam setiap hari,” kata pemilik Hyseed Farm, Seno Widya Manggala S.T. Dengan kata lain ia memproduksi 180 kg bayam per bulan.
Paling dicari

Padahal harga bayam hidroponik lebih tinggi daripada bayam biasa. Menurut Seno harga bayam biasa di pasar tradisional Rp13.000—14.000 per kg. Ia bisa melego bayam hidroponik Rp20.000 per kg ke pedagang sayuran. Kebetulan ia memiliki 2 lapak di pasar dekat rumah. Konsumen memilih bayam hidroponik lantaran berkualitas bagus. Teksturnya lebih lembut dan tidak keras. Dengan harga sedikit lebih tinggi konsumen pun senang memperoleh produk bermutu prima.
Seno selalu berupaya memanen bayam tidak lebih dari 28 hari dari benih. Itulah salah satu kunci menghasilkan bayam kesukaan konsumen. Selain bayam, “Sayuran lain yang paling dicari pasar Jabodetabek yakni kangkung, kol, selada keriting, dan kale,” kata pria yang rutin memasok 10 ton sayuran hidroponik per bulan ke pasar swalayan itu. Oleh karena itu, kebun Seno seluas 600 m² pun berisi kangkung.
Selain bayam dan kangkung, selada hidroponik pun diminta pasar. Oleh sebab itulah, Bayu Widhi Nugroho mengganti kangkung menjadi selada pada 2017. “Sebab pasokan kangkung lebih banyak berasal dari petani konvensional, sedangkan selada masih relatif sedikit. Selain itu menyesuaikan permintaan pasar,” kata pekebun hidroponik di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, itu.

Meski begitu pekebun mitra Bayu tetap ada yang membudidayakan kangkung. Henry Soetrisno juga mengandalkan selada sebagai komoditas pilihan berhidroponik karena sangat dibutuhkan masyarakat. Terutama selada hijau, romaine, dan lollo rossa. Lokasi kebun kelolaan Henry di Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang berelevasi sekitar 600—700 meter di atas permukaan laut mendukung selada tumbuh optimal.
Henry memanen selada hijau miliknya 32—35 hari dari benih. Sementara pekebun selada hidroponik di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Lantip Kurniawan S.E., M.M., menuai sayuran daun itu pada 40—50 hari setelah tanam. Boleh dibilang pertumbuhan selada kurang maksimal jika ditanam di dataran rendah. Lantip memilih bertanam Lactuca sativa karena berharga lebih tinggi daripada sayuran lain seperti bayam. Harapannya margin lebih besar.

Menurut pekebun hidroponik di Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, Yusep Jalaludin, konsumen salad lazimnya pasar swalayan, kafe, dan hotel. Sementara restoran terutama yang menyajikan makanan cina dan jepang menghendaki pasokan pakcoy, kailan, dan caisim. Komoditas lain hidroponik yang layak dibudidayakan adalah kale. Seno mengatakan kale sangat berpeluang dikembangkan. Musababnya sejak 2017 harga kale Rp60.000 per kg di pasar tradisional.
Pehidroponik pemula yang sukses menanam kale bisa langsung mendapatkan uang karena mudah menjualnya. Lebih lanjut ia menuturkan dahulu pasar kale khusus, kini lebih meluas. Meski banyak permintaan menanam kale sarat tantangan seperti masih mengandalkan benih impor. Selain itu masa budidaya sayuran anggota famili Brassicaceae itu relatif lama 2,5 bulan. Bandingkan dengan kangkung yang dipanen pada 2 pekan setelah tanam atau bayam maksimal 28 hari. (Riefza Vebriansyah)
