
Pertanian kota merambah sekolah. Guru dan siswa di SMA Negeri 109 Jakarta pun berkebun sayuran.
Trubus — Lima tahun area bekas laboratorium seluas 200 m2 itu menganggur. Dinding dirobohkan. Namun, pada Februari 2010 area itu tampak hijau karena kehadiran beragam sayuran seperti pakcoi Brassica rapa, bayam merah Amaranthus tricolor, dan kangkung Ipomoea reptans. Semuanya siap panen. Kebun sayuran itu menjadi contoh program Tani Mas alias Pertanian Masuk Sekolah di SMA Negeri 109 Jakarta.
Beragam sayuran daun itu tumbuh di bedengan berukuran 1 m x 2 m. Bentuknya mirip huruf ‘S’ yang diisi dengan media tanam berupa campuran kompos dan sekam bakar. Penanggung jawab urban farming SMAN 109, Nurul ‘Aini Fitri Yanti, M.Pd merancang bedengan agar perawatan tanaman mudah dilakukan. Nurul mengelola total 10 bedengan. Setiap bedengan menghabiskan 25 karung kompos dan sekam.
Kendala budidaya

Nurul juga menambahkan cacing tanah ke dalam media tanam agar lebih gembur. Perawatannya pun sederhana. Satu bedengan untuk satu kelas. Setiap pagi siswa dan guru menyiram bedengan yang menjadi tanggung jawabnya. Satu bedengan hanya untuk membudidayakan satu komoditas. Saat panen kedua pada 29 Januari 2020 Nurul menuai rata-rata 3 kg per bedengan.
Durasi budidaya hanya 45 hari. Perempuan kelahiran 15 Oktober 1965 itu menuai sekitar 3 kg pakcoi, 3 kg kangkung, dan 3 kg bayam merah. Ia membagikan hasil panen kepada warga sekolah. Kegiatan itu merupakan program inisiasi dari Kementerian Pertanian untuk mengenalkan pertanian kepada generasi muda. Menurut Nurul siswa makin antusias mengenal teknologi bididaya sayuran.

Apalagi adanya kelompok Green School Club (GSC) yang mempelajari teknologi pertanian, siswa makin terpacu untuk ikut bertani. Tiga duta lingkungan SMAN 109 Jakarta, yakni Dimas Irsyad Yuliastaman, Muhammad Angger Pramudya, dan Raditya Praba Junio membantu program Tani Mas. Mereka mengimbau teman-temannya untuk ikut merawat kebun. “Sebelum Tani Mas masuk, sebenarnya kami sudah memulai kegiatan ini. Pertama kali panen mentimun rasanya semua senang walaupun hanya 1—2 kg,” kata Nurul.
Pengajar bahasa Inggris itu mengatakan, kendala membudidayakan sayuran muncul ketika terjadi serangan hama dan gulma. Belalang Valanga nigricornis menjadi hama di lahan kangkung, sedangkan ulat grayak Spodoptera litura kerap ditemukan di balik daun sawi. Mereka membuat pestisida nabati berbahan umbi bawang putih Allium sativum dan serai Cympobogon citratus. Sayangnya, Nurul tidak ingat pasti komposisi setiap bahan.
Nurul melumatkan kedua bahan itu, memfermentasi selama 7 hari, menyaring, dan menyemprotkan ke sekujur tanaman yang terserang. Adapun upaya menanggulangi gulma dengan penyiangan manual. Ia menghindari penyemprotan herbisida karena populasi gulma masih terbatas.
Hidroponik NFT

Selain itu SMA Negeri 109 berencana untuk berbudidaya secara hidroponik. Hal itu terlihat jelas ketika di kebun terdapat lima unit hidroponik nutrient film technique yang siap digunakan. Satu unit hidroponik terdiri atas 8 lubang tanam. Sekolah juga mengelola tiga unit akuaponik untuk membudidayakan sayuran selada air Nasturrium officinale dan ikan nila dan lele.
Selada air tumbuh di atas talang berukuran 60 cm x 10 cm. Di dalamnya terdapat 6 pot yang berfungsi sebagai wadah sayuran. “Saya pilih selada karena pertumbuhannya relatif cepat. Tidak perlu repot-repot pemupukan dan penyiraman karena kan nutrisi langsung tersedia dari kotoran ikan di bawahnya,” kata perempuan 55 tahun itu. Hingga Januari 2020 Nurul belum pernah panen akuaponik karena umur ikan dan tanaman baru enam pekan.
Menurut Kepala Bidang Pertanian di Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Jakarta, Mujiati, S.P., M.Si., generasi muda harus mengenal pertanian. Bila siswa-siswa tidak dilibatkan sejak dini, bisa jadi 10 tahun ke depan dunia pertanian makin sulit. “Lagi pula teknologi yang kami kenalkan adalah teknologi pertanian yang sehat dan tidak membutuhkan lahan terlalu luas,” kata Mujiati saat panen perdana di SMA 109.
Panen itu dilakukan pada 24 Januari 2020. Selain Mujiati hadir juga Kepala Seksi Pertanian Perkotaan Dinas KPKP DKI Jakarta, Taufik Yulianto. Kegiatan itu sekaligus menjadi bukti bahwa kegiatan Tani Mas berpotensi dan akan terus berlanjut lintas generasi. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
