Thursday, August 11, 2022

Selamat Datang Pelangi Papua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

M. parva, hanya ditemukan di bekas anak sungai Danau Kurumoi berupa selokan selebar 40—50 cmM. fasinensis, pelangi baru asal Sungai Fasin, Kampung Ween, gugusan Kali KladukTujuh tahun Dr Gerald R Allen, doktor marine zoology dari University of Hawaii, memburu ikan pelangi Melanotaenia ajamaruensis di pelosok Sorong Selatan, Papua, tapi hasilnya nihil. Berselang 17 tahun kemudian pada 2007, tim ekspedisi rainbowfish dari 3 institusi – Akademi Perikanan Sorong (APSOR), Institute de Recherche pour le Développement (IRD), dan Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Depok, Jawa Barat (BRBIH) berhasil menjumpai ikan yang pernah dianggap punah itu.

Rainbow ajamaru dinyatakan punah secara ilmiah karena tak pernah dijumpai lagi di alam sejak ia dideskripsikan pada 1980. Untuk membuktikan penemuan kembali itu, tim mengirimkan sampel ke Museum Naturalis di Leiden, Belanda, untuk mengukur holo-paratype-nya. Maksudnya untuk membandingkan sampel dengan spesimen yang paling mirip secara morfologi. Dengan begitu bisa diketahui pasti kekerabatannya dengan spesimen yang dikoleksi museum. Hasilnya, data sampel persis dengan yang disebut pada deskripsi asli. Artinya, sang pelangi telah kembali.

Rainbow ajamaru hidup di sungai berkapur Kaliwensi, Sorong. Ia hanya ditemukan di bagian tertentu sungai yang panjangnya tak lebih dari 1 km. Sayang, daerah aliran sungai kian banyak dihuni penduduk. Kelangsungan hidup ajamaru di habitat pun terancam. ‘Untuk itu BRBIH mengoleksi spesimen hidup sebagai upaya konservasi,’ ujar Agus Priyadi, peneliti di BRBIH.

Terancam punah

Tim ekspedisi juga menemukan rainbow jenis M. fasinensis dan M. parva. Yang disebut pertama merupakan spesies baru ikan pelangi. Fasinensis ditemukan di Sungai Fasin, Kampung Ween, gugusan Kali Kladuk, berjarak 25 km sebelah barat Danau Anyamaru, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. ‘Nama fasinensis merujuk nama habitat sebagai penghormatan terhadap lokasi penemuan ikan,’ kata Kadarusman, dosen di APSOR.

Sosok fasinensis menarik dengan balutan merah darah pada bagian tengah hingga ekor. Tutup insang dironai biru berhiaskan percikan corak keemasan pada bagian atas. Di bagian abdomen terdapat noktah biru terang hingga bagian belakang sirip pektoralnya.

Parva ditemukan di Danau Kurumoi, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, pada ketinggian sekitar 243 m dpl. Saat ini ikan yang pertama kali dideskripsikan pada 1990 itu mulai terancam punah. Rainbow kurumoi itu tidak lagi dijumpai di dalam danau yang kini didominasi ikan konsumsi air tawar nila Oreochromis mossambicus. Kini kurumoi hanya bisa ditemukan di bekas anak sungai dari danau berupa selokan selebar 40 – 50 cm. Aliran air Danau Kurumoi sebelumnya bermuara ke Sungai Yakati yang dihuni oleh M. angfa, jenis rainbow berwarna kuning keemasan.

Kamaka

Pada 2009 dan 2010, tim gabungan APSOR, IRD, BRBIH Depok (BRKP), LIPI, Arkenas Jakarta dan Jayapura, Museum Geologi Bandung, ITB, serta Dinas Perikanan Kaimana melakukan ekspedisi ke Bumi Cendrawasih. Dari ekspedisi itu mereka menemukan beberapa ikan pelangi, seperti rainbow kamaka, weramura, gebiasi, tanjung boi, lengguru, salawati, dan mbuta.

Rainbow kamaka berlimpah di Danau Kamaka yang terletak di Teluk Triton, Desa Kamaka, Distrik Kaimana, Papua Barat. Menurut Ruby Vidia Kusuma, calon peneliti di BRBIH yang juga ikut dalam ekspedisi saat itu, kamaka hidup bersama ikan gobi Eleotris sp, lobster air tawar Cherax sp, dan kepiting.

‘Proses penangkapan ikan dilakukan malam dan siang hari langsung dari danau maupun sungai-sungai kecil selebar 1 – 2 m dengan kedalaman mencapai 60 – 80 cm dan bermuara ke Danau Kamaka,’ tutur Ruby.

Menurut Gigih Setia W, proses penangkapan lebih mudah dilakukan pada malam hari. ‘Hanya berbekal serokan dan lampu senter saja, ikan rainbow bisa langsung ditangkap,’ kata calon peneliti di BRBIH itu. Pada siang hari, penangkapan lebih sulit sehingga memerlukan jala untuk mengoleksi spesimen yang diinginkan.

100 ekor

Setelah tiga hari, lebih dari 100 ekor rainbow kamaka berhasil dikoleksi oleh tim. Ikan pelangi itu dikemas menggunakan plastik bening berukuran 40 cm x 60 cm yang diisi air setengah dari kapasitas. Selanjutnya ke dalam plastik ditambahkan oksitetrasiklin dengan konsentrasi 4 mg/l serta oksigen agar ia tetap sehat dan mampu bertahan hidup selama di perjalanan.

Rainbow kamaka bercorak perak kebiruan hingga keemasan jika diamati dari bagian dorsal saat mereka berenang di danau. Warna-warna itu semakin jelas terlihat ketika terkena cahaya baik dari senter maupun sinar matahari. Pada siang hari kamaka biasanya berkumpul di sungai yang bermuara ke Danau Kamaka untuk mencari pakan atau lingkungan air bersuhu dingin.

Jenis lain, rainbow weramura yang berasal dari Sungai Weramura yang berkedalaman kurang dari 1 m dan lebar 2,5 m. Ikan pelangi dengan panjang maksimal 9 – 10 cm itu hidup bersembunyi di bebatuan sungai. ‘Kondisi air cukup dingin dengan suhu 22 – 24oC,’ ujar Gigih. Sementara rainbow salawati ditemukan hidup di sungai di Pulau Salawati, di Rajaampat. ‘Kondisi sungainya seperti sungai di Jawa. Banyak pohon tinggi,’ tambah alumnus Fakultas Perikanan, Universitas Brawijaya, itu. Dari ekspedisi 2007 – 2010, selamat datang ikan-ikan pelangi. (Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img