
PT Arpan Bali Utama menerima kunjungan tamu untuk mengetahui budidaya anggur sekaligus mencicipi wine asli Bali.
Lahan 6 hektare di Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, itu bertanah tandus dan berbatuan. Hanya semak belukar yang menghuni tempat itu. Masyarakat setempat pun enggan menggarap lahan bera itu menjadi ladang. Mereka berkeyakinan tidak ada komoditas komersial yang bertahan hidup di situ. Jadilah lahan dekat pantai itu terbengkalai puluhan tahun.
Oleh karena itulah warga menolak ajakan Thomas Hadi Wibowo berkebun anggur. “Saat itu saya mesti mendatangkan pekerja dari Seririt, 24 kilometer dari Sanggalangit,” kata Bowo, sapaan akrab Thomas Hadi Wibowo. Pada 1999 itu Bowo dan pekerja membudidayakan anggur berjenis belgia yang berwarna hijau. Warga desa pesimis usaha Bowo dan rekan mengembangkan Vitis vinifera berhasil.
Bowo bergeming dan tetap menanam anggur. Untuk mengatasi tanah tandus ia membenamkan 15 ton pupuk kandang kering yang didapat dari peternak sekitar. Pengolahan tanah sangat penting agar tanaman tumbuh bagus. Percuma diberi vitamin jika tanah tidak subur. Dua tahun berselang tanaman berbuah. Tetangga terkejut karena tanaman anggota famili Vitaceae itu sarat buah.
Apalagi 21 duta besar negara sahabat mendatangi lokasi itu. Sejak saat itu tetangga sekitar mau bekerja di kebun atau menjadi mitra. Kali pertama empat warga bermitra mengebunkan anggur dengan total lahan 7 hektare. Kini terdapat 10 orang mitra dengan total lahan 20 hektare. Penambahan petani mitra tidak banyak karena Bowo mencari petani yang berkomitmen membudidayakan anggur dan menjualnya ke PT Arpan Bali Utama.
Vineyard—sebutan kebun anggur di Inggris—yang dikelola Bowo itu milik perusahaan produsen minuman anggur (wine) itu. Kini masyarakat dalam dan luar negeri kerap mengunjungi kebun anggur itu. Tempat yang semula telantar itu berubah menjadi area idaman menikmati keindahan kebun anggur sekaligus mencicipi minuman anggur khas Bali. (Riefza Vebriansyah)
