Sunday, August 14, 2022

Sensasi Kelezatan Avokad Hutan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Menikmati avokad tanpa harus memakan alpukat. Plus bonus aroma jambu air.

Y oyok Santoso mengambil lalu mencuci bersih 10 buah berkulit merah seukuran bola pingpong itu. Selanjutnya ia melepas tangkai buah yang mirip topi dan menekan daging buah untuk mengeluarkan biji.

Pemilik kedai Es Teler Andre 2 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, itu kemudian memblender daging buah setebal setengah ruas jari bersama krimer, gula, dan batu es. Sebagai sentuhan akhir ditambahkan susu kental berwarna cokelat. Maka tersajilah jus kalangkala Litsea garciae.

Teman nasi
Jus berwarna kecokelatan itu lalu disodorkan pada Mawardi SP MSc, kepala Kebun Percobaan Balandean, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Meski Mawardi mengoleksi 5 pohon kalangkala di kebun yang dipimpinnya, baru kali ini ia mencicipi jus kalangkala. Mawardi justru lebih mengenal pengolahan kalangkala seperti dilakukan oleh Suku Banjar dan Dayak.
Mereka merendam buah di dalam air panas selama sejam hingga warna kulit yang merah berubah putih. Lalu menambahkan sedikit garam dan cabai merah supaya citarasa lebih gurih. Olahan buah tanaman anggota keluarga Lauraceae itu dinikmati sebagai “teman” makan nasi, mirip acar. Mereka juga kerap memeram buah dalam air hingga 3 hari hingga bentuknya mirip tempoyak durian dan bercitarasa asam.
Olahan baru kalangkala terasa pas di lidah Mawardi. Tekstur jus lembut mengikuti tekstur kalangkala. Citarasanya mirip avokad Persea americana dengan aroma lembut seperti wangi jambu air. Yoyok mendapatkan buah kalangkala dari seorang pelanggan yang kerap mengumpulkan buah-buahan langka.

Buah priangan
K Heyne dalam bukunya Tumbuhan Berguna Indonesia melaporkan L. garciae yang bersinonim dengan L. sebifera asli Pulau Jawa, terutama di daerah Priangan. Iklim yang lembap dan hujan yang merata cocok untuk pertumbuhan huru tangkulak—nama di Sunda. Dulu masyarakat pedesaan di Pulau Jawa mengolah biji dan buah kalangkala sebagai bahan baku minyak untuk lampu penerangan. Artinya selain buah konsumsi, kalangkala juga sebagai sumber bioenergi.
Penyebarannya hingga ke Pulau Bangka dan Kalimantan. Saat melakukan eksplorasi ke hutan-hutan di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Kutaikertanegara, Provinsi Kalimantan Timur, wartawan Trubus Sardi Duryatmo menemukan kelinuk—namanya di sana. Pada pengujung 2007 itu buahnya dijajakan di Kutaikertanegara Rp10.000 per kg. Pakar botani di Bogor, Jawa Barat, Gregori Garnadi Hambali, kerap menikmatinya saat melakukan eksplorasi ke pedalaman Borneo.
Laman e-Prosea justru mencatat bagnolo—dalam bahasa Tagalog—berasal dari Filipina lalu menyebar ke Pulau Bangka, Jawa, dan Semenanjung Malaysia. Di Pulau Bangka, Provinsi Bangka-Belitung, penduduk menyantap malik dengan cara mencelup buah matang ke dalam air panas selama 1—2 menit. Lalu buah dicocolkan pada sambal berupa garam yang ditumbuk dengan cabai dan dimakan dengan nasi hangat. “Rasanya jadi seperti melalap alpukat,” kata Rahayu Irawan SP, dari Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka, Bangka Belitung. Di Pulau Jawa kini tanaman wuru lilin hampir tak terlihat jejaknya. Kalangkala justru kerap disebut sebagai buah hutan Kalimantan.
“Ini potensial sebagai bahan baku jus,” kata Greg yang berencana melakukan eksplorasi untuk mendapatkan kalangkala berbuah besar dan berdaging tebal. Citarasa mirip ovokad beralasan karena keduanya masih sekerabat. Sayang kulit buah yang tipis dan lunak gampang memar dan menghitam sehingga tak tahan pengangkutan jarak jauh.

Asam laurat
Padahal kelinuk punya potensi besar. Riset di India menunjukkan buah tangkalak mengandung asam laurat hingga 71%. Jumlahnya lebih besar daripada asam laurat asal kelapa—sumber utama asam laurat nabati—yang hanya 44—52%. Dunia farmasi mengenal asam laurat sebagai asam lemak rantai sedang yang bersifat antibakteri, antiprotozoa, dan antivirus. Air susu ibu (ASI) sumber utama asam laurat.
Konsumsi pucuk daun kalangkala membantu memperbanyak dan melancarkan produksi air susu ibu (ASI). Rasanya mirip pucuk jambu bol. Cara lainnya daun dijadikan param dengan campuran adas dan pulasari. Oleh karena itu seperti kata Greg perlu penelitian khusus untuk kalangkala. Sebab, banyak manfaat dari avokad Kalimantan. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Keterngan foto

  1. Rasanya mirip alpukat dengan aroma jambu air
  2. Jus kalangkala, cara baru menikmati “avokad” Kalimantan. Masyarakat semula menyantapnya sebagai lauk “teman” makan nasi
  3. Pohon kalangkala di kebun Balittra. Seratus tahun lalu K Heyne melaporkan pohon kalangkala banyak tumbuh di Tanah Priangan, Jawa Barat. Kini hampir tak ada jejaknya
  4. Kalangkala muda yang ditemukan dalam eksplorasi ke Kalimantan Timur. Di sana disebut kelinuk
  5. Persentase asam laurat kalangkala lebih tinggi daripada asam laurat dalam kelapa
  6. Masyarakat di Jawa dahulu mengolah biji dan buah kalangkala untuk minyak lampu
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img