Trubus.id—Seruput kopi di tengah semilir angin sejuk di sekitar Gunung Wayang yang terletak di sebelah timur Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat itu sungguh nikmat. Itulah kopi wine arabika kreasi Aep petani kopi di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan.

Ia menuturkan sejatinya winey proses natural yang melalui fermentasi. Proses nya setelah petik merah yakni melalui fermentasi selama 3 bulan, jemur sepekan sekali selama 2 jam, masukkan pada mesin huller, dan kupas kulitnya sehingga jadi green bean, roasting, dan terkahir baru penepungan.
“Ciri berhasil fermentasi jangan sampai plastik bocor dan tetap aroma wangi menyengat serta bebas jamur,” tutur Aep. Harga wine kopi arabika itu Rp80.000 per 100 gram. Saban bulan Aep menjual sekitar 5—20 kg wine kopi arabika. Penjualan ke daerah Kabupaten Bandung dan Garut, Jawa Barat.

Ia juga menjual gabah basah Rp36.000 per kg. Kapasitas 15 ton perhari jika saat puncak produksi, seperti pada 2016 lalu. Jumlah itu juga berasal dari para petani mitra. ”Gabah basah perputarannya cepat,” kata Aep.
Pasokan itu juga berasal dari kebun milik Aep seluas 3 hektare (ha) dengan populasi 6.000 pohon. Petani kopi sejak 2011 itu menuturkan produktivitas kopi 5 kg per pohon.
Menurut Pengurus Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (Jamtani) sekaligus Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Sukamanah, Kustiwa Adinata total dari Desa Sukamanah ada 120 ton hasil panen kopi yang selama ini belum jelas pejualannya.

Ia pun bersama Jamtani dan LMDH berupaya membangun satu muara untuk pascapanen kopi. “Kalau diserahkan ke LMDH di bawah dampingan Jamtani kopi mesti diolah menjadi green bean dan roasted bean akan lebih menguntungkan,” katanya.
Lebih lanjut ia menuturkan penting adanya hilirisasi dengan tidak menjual kopi segar yang harganya hanya Rp8.000—14.000 per kg saja. Sebab jika diolah menjadi green bean menjadi Rp75.000—100.000 per kg.
“Apalagi disini tidak pakai pupuk kimia. Namun bagaimana memindah proses pengolahan ke hutan misal minimal green bean tapi harus menyiapkan screening house dan mesin pengupas. Itu bisa diupayakan. Menggarap pascapanen ada nilai setiap rantai yang berpengaruh terhadap profit,” pungkas Kustiwa.
