Thursday, December 8, 2022

Seri Walet (125): Susuri Lintasan Walet di Pesisir Bulukumba

Rekomendasi

 

Rombongan kecil penghasil liur emas itu pergi menuju Desa Bara di pesisir Bulukumba. Secara agroklimat kondisi lingkungan pesisir itu sesuai habitat walet. Selain pepohonan rimbun sebagai sumber serangga, suhu udara berkisar 25-34oC dengan kelembapan 80%. ‘Dari data itu besar kemungkinan ada walet di sana,’ tutur Boedi Mranata, praktikus walet di Jakarta Selatan.

Dugaan itu semakin kuat karena pesisir Bulukumba diapit oleh 2 daerah sentra walet, Makassar di sebelah barat dan Kabupaten Sinjai di utara. ‘Saat ini kedua daerah itu merupakan sentra baru walet di Sulawesi Selatan,’ tambah Boedi. Terutama Sinjai, jaraknya ke pesisir Bulukumba relatif dekat, sekitar 75 km. Jarak itu masih dalam jangkauan jelajah Collocalia fuciphaga yang dapat mencapai ratusan kilometer saat mencari pakan.

Nihil

Beberapa walet yang terbang di atas laut Bira itu cukup menggugah Trubus untuk melakukan pelacakan. Trubus mencoba menyusuri pesisir Bulukumba yang meliputi Desa Bara dan Ara. Perjalanan diawali dengan mendatangi gua air tawar di Desa Ara. Kondisi gua itu sungguh nyaman. Sinar matahari sulit menembus ke dalam lantaran terhalang batu-batu besar. Namun, saat menyusuri gua hingga sedalam 20 m tidak dijumpai tanda-tanda komunitas walet. Apalagi sampai menemukan sarang.

Pencarian dilanjutkan menuju Kecamatan Bontobahari yang berjarak 15 menit berkendaraan. Di kecamatan yang membawahi Desa Bara itu banyak dijumpai tanaman patah tulang Euphorbia tirucalli yang tumbuh menyemak. ‘Di sini jadi habitat ayam hutan merah,’ tutur Andi yang menemani perjalanan Trubus. Ayam-ayam itu diburu untuk diambil dagingnya. Sayang, meski sumber pakan melimpah dan berhawa sejuk, tak terlihat satu pun bangunan rumah walet.

Daerah bertebing yang menjorok ke pantai menjadi sasaran berikutnya. Di sana banyak celah-celah tebing dan gua-gua kecil yang cocok untuk walet bersarang. Kondisinya mirip seperti pantai Karangbolong, sentra walet gua di Jawa Tengah. ‘Di sini kalau menjelang magrib sering terlihat walet bermain-main di tepi gua,’ ujar Andi Marthen.

Harapan Trubus membuncah saat mendatangi salah satu gua. Gua dengan kedalaman 10 m dan berstalaktit menggantung di sana-sini itu seperti gua air tawar. Kondisi di dalam gua sangat cocok untuk habitat walet. Sejuk dan lembap. Bahkan di sekitar gua terdapat vegetasi pepohonan, sumber serangga yang menjadi pakan walet. Namun, lagi-lagi jejak kotoran maupun sarang walet tidak ditemukan.

‘Di mana tinggalnya walet?’ tanya Imam Wiguna, yang turut melacak keberadaan walet di pesisir Bulukumba. Namun, Andi menuturkan seorang tamu dari Surabaya pernah datang mensurvei walet di daerah itu sekitar 3 tahun lalu. ‘Hasilnya Desa Ara sampai Selayar merupakan lintasan walet dan seriti. Tapi hingga kini belum ada kelanjutan survei itu,’ ujar Andi yang keturunan Raja Bira Karaeng Bonto itu.

Limpahan

Menurut Hary K Nugroho, daerah pesisir seperti Bulukumba memungkinkan dihuni walet dengan karakteristik di Jawa dan Kalimantan. ‘Artinya, di sini ada komunitas seriti. Rumah-rumah walet yang baru dibangun kemungkinan besar akan dihuni seriti lebih dahulu, lalu berikutnya walet. Di Makassar yang kini menjadi sentra walet, kondisinya sama dengan Bulukumba,’ ujar pemilik Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara itu.

Hal senada diungkapkan oleh konsultan lain di Jakarta Barat. ‘Kalaupun ada komunitas walet, pasti seriti dulu yang masuk pertama kali,’ ujar Philip Yamin. Philip sangat menguasai lokasi-lokasi walet di Makassar dan Pare-pare. ‘Tapi di Bulukumba saya belum tahu banyak. Kalau habitatnya seperti di Makassar banyak berdiri rumah-rumah walet yang jaraknya berjauhan,’ tambahnya.

Hingga malam menjelang Trubus memang tak menemukan keberadaan walet di pesisir Bulukumba. Namun, Andi tetap berharap suatu ketika cericit walet akan terdengar dari rumah-rumah walet yang megah. ‘Hanya satu yang kurang di Bulukumba ini, rumah walet saja,’ tegas pemilik Belantara Flora itu. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img