Monday, August 8, 2022

Seri Walet (181) Supaya Badai Cepat Berlalu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Rumah bersih kunci sarang walet putih

Impian Agus Priatna, peternak walet di Kabupaten Pulangpisau, Kalimantan Tengah, porak-poranda. Enam bulan silam ia masih berhitung bisa meraup Rp29-juta dari panen 2 kg sarang walet pada awal 2012. Itu setara biaya investasi membangun rumah walet mini ukuran 4 m x 8 m berdinding kalsiboard ganda pada 2 tahun silam. Apa lacur, hasil panen hanya dibeli Rp10-juta. “Tadinya saya pikir tahun ini bisa break event point (BEP). Ternyata butuh 3-4 tahun lagi,” katanya.

Ratusan peternak Collocalia fuchifaga di segala penjuru Nusantara mengalami nasib serupa. Harga sarang burung penghasil liur emas itu kini tengah terjun bebas seperti rollercoaster. Pertengahan 2011 sarang berkualitas terbaik (bentuk mangkok) masih bertengger di harga Rp14,5-juta per kg. Lalu anjlok setiap bulan berturut-turut menjadi Rp13-juta, Rp11-juta, Rp9-juta, Rp7-juta, dan Rp5,5-juta pada Februari 2012. “Ini masa kelam bagi peternak walet,” kata Arif DB, peternak di Pekanbaru, Riau, yang menahan 65 kg panen sarang waletnya.

 

 

 

Menurut Harsanto, pemilik Jakarta Walet Centre, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, harga anjlok karena pemerintah China-importir terbesar sarang walet-menolak impor sarang walet dari Indonesia. Sarang walet disebut-sebut tidak memiliki khasiat apa pun-salah satu hal yang membuat masyarakat Tionghoa secara turun-temurun mengonsumsi si liur emas. Dengan begitu tidak perlu ada impor yang menyedot devisa negara.

Isu lain, sarang walet asal Indonesia mengandung nitrit (NO2) di atas ambang batas. Asupan nitrit dalam jumlah besar diduga bersifat karsinogen alias menyebabkan kanker. Padahal pada budidaya walet keberadaan nitrit sebuah keniscayaan. Riset oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi menyebutkan nitrit terbentuk secara alami pada budidaya walet gua maupun rumah. (baca Trubus edisi Maret 2012 hal 32-33, Seri Walet (180): Sarang Tersandung Nitrit)

Nitrit berasal dari gas amonia yang menguap dari tumpukan kotoran walet di lantai gedung. Menurut Hary K Nugroho MBA, konsultan walet di Jakarta, gas itu lalu menempel di sarang sehingga warna sarang yang semestinya putih bersih menjadi kuning kecokelatan.

Rumah bersih

Celakanya nilai jual sarang kuning kecokelatan jauh di bawah sarang putih bersih. Menurut Harsanto harga sarang berwarna kuning kecokelatan bisa selisih Rp1-juta per kg lebih murah daripada sarang putih. Oknum peternak menggunakan bahan pemutih untuk mencuci sarang berwarna kuning kecokelatan itu. Itu yang menyebabkan berembus isu sarang walet asal Indonesia tercemar bahan pemutih yang bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti kanker.

Padahal menurut Hary sarang putih bisa didapat dari kegiatan budidaya tepat di rumah walet. “Bila kondisi rumah bersih, sarang yang dihasilkan pasti putih dan bersih. Proses pencucian pun cukup dengan air bersih sambil membuang bulu walet yang menempel di sarang, tidak perlu menggunakan pemutih,” kata Hary.

Oleh karena itu isu-isu yang merugikan para peternak burung walet tanahair itu harus segera dijawab dengan membuktikan sarang walet Indonesia aman dikonsumsi. Bila tidak, permintaan sarang walet dari China sebesar 600 ton per tahun bisa-bisa dipenuhi oleh negara pesaing seperti Malaysia dan Vietnam. Di dua negara itu pertumbuhan rumah waletnya mulai meningkat. Selama ini Indonesia memenuhi 90% dari kebutuhan China.

Pemerintah Indonesia menjalin komunikasi bilateral dengan Pemerintah China untuk mempromosikan bahwa sarang walet Indonesia aman dikonsumsi. Misal, membuat mekanisme lalulintas ekspor sarang walet dari Indonesia ke China dan sistem registrasi yang dapat melacak asal-usul sarang. Dengan komunikasi bilateral antara 2 negara diharapkan Pemerintah China bersedia membuka kembali keran impor sarang walet.

Sementara peternak dan pengusaha walet meningkatkan kualitas sarang dengan melakukan budidaya yang tepat, antara lain dengan memelihara walet di rumah walet yang bersih serta melakukan pencucian sarang tanpa bahan pemutih.

Seminggu sekali

Menurut Asan, sapaan Harsanto, rumah walet bersih bisa diwujudkan dengan cara membersihkan lantai dari kotoran walet secara rutin. Pemilik rumah dengan jumlah sarang kurang 10.000 buah cukup membersihkan sebulan sekali. Sementara sarang di atas 10.000 buah seminggu sekali. Sebab tanpa pembersihan, sebuah rumah walet dengan populasi 10.000 sarang bisa menghasilkan kotoran setebal 10 cm di lantai dalam sebulan.

“Dengan teknik itu peternak walet Indonesia bisa berbisnis secara fair. Tak perlu lagi bahan kimia pemutih,” kata Asan. Cara membersihkannya cukup dengan menyekop kotoran dan membuangnya ke lubang khusus. Atau manfaatkan kotoran walet sebagai bahan pupuk kandang. Langkah berikutnya, semprot kotoran tersisa di lantai rumah walet dengan air, lalu pel hingga bersih.

Cara lain dengan menyemprotkan larutan dekomposer mengandung mikroba untuk mengurai kotoran walet yang menumpuk di lantai. Dengan larutan itu gas amonia yang berbau tidak terbentuk. Larutan dekomposer juga dapat dikombinasikan dengan cara pertama. Semprotkan larutan dekomposer setelah peternak membersihkan lantai dengan air. Dengan rumah bersih, sarang putih bebas nitrit dan bahan pemutih bukan impian. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan)

 

  1. Harsanto, peternak dan pengusaha rumah walet dapat meningkatkan kualitas sarang dengan teknik budidaya tepat
  2. Rumah yang dibersihkan rutin seminggu sekali mampu menghasilkan sarang walet yang putih dan bersih
  3. Sarang walet kualitas mangkuk dari rumah walet yang bersih. Cirinya putih dan bersih meski belum dicuci

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img