Monday, August 8, 2022

Seri Walet (192): Berdiam di Rumah Mayor

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Provinsi Bangka-Belitung menjadi salah satu sentra waletBangunan-bangunan tua di Kecamatan Muntok menjadi rumah walet.

Nurhulis menghentikan mobil di depan sebuah gedung di Jalan RE Martadinata, Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Gedung itu bergaya arsitektur Eropa dengan ciri khas deretan pilar-pilar berdiameter sepelukan orang dewasa yang menopang selasar. Meski bergaya barat, tetapi aksesori bangunan itu kental bernuansa oriental dengan kaligrafi Tiongkok di atas bingkai pintu. Dua patung singa penjaga terpajang di bagian kanan dan kiri bangunan.

 

Rumah Mayor China di Kecamatan Muntok banyak dihuni walet meski di sekitar gedung berdiri banyak rumah wa“Gedung ini banyak sarang waletnya,” ujar Delis, sapaan akrab Nurhulis yang memandu Trubus. Benar saja, begitu kami keluar dari mobil, terdengar jelas cericit burung walet bersahutan. Senja itu Collocalia fuciphaga beterbangan. Mereka hingap di sela-sela batang kayu kerangka selasar gedung bekas rumah tinggal Mayor Chung A Tiam, mayor kedua yang diangkat pemerintah Belanda sebagai kepala masyarakat keturunan Tionghoa di Muntok. Puluhan walet lainnya masuk melalui lubang ventilasi di atas bingkai pintu.

Alami

Pemandangan itu menarik lantaran menurut pengelola gedung, Hendra, pemilik gedung tidak memasang tweeter satu pun untuk mengundang burung anggota famili Apodidae itu. Suara cericit walet dari tweeter justru terdengar dari rumah-rumah walet di sekitar gedung Rumah Mayor China—sebutan gedung itu. “Walet-walet itu datang secara alami,” kata Hendra.

Menurut Hendra, walet mulai banyak menghuni Rumah Mayor Chung sejak 2008. Ketika itu keluarga pewaris sang mayor tak lagi menempati rumah itu. Kini hanya Hendra,  termasuk kerabat keluarga mayor, yang menghuni sekaligus mengelola gedung. Sayang, Hendra enggan menyebutkan jumlah produksi sarang. Ia menuturkan bila panen sarang walet cukup untuk membiayai perawatan gedung.

Menurut praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara, Harry K. Nugroho, yang pernah menyambangi Kecamatan Muntok pada 2005, kehadiran walet di gedung itu besar kemungkinan sudah lebih dari 14 tahun. “Saya menduga walet menghuni gedung itu sebelum rumah walet bermunculan di sana pada 1998,” ujar pemilik Eka Walet Center itu. Itu terlihat kebiasaan walet terbang rendah di sekitar gedung.

“Kalau walet-walet itu baru datang setelah rumah walet berdiri, pasti walet enggan terbang rendah ke dalam gedung sebab walet sudah terbiasa terbang dan hinggap di ketinggian rumah walet yang bisa mencapai 5 lantai,” ujarnya. Meski di sekitar Rumah Mayor Chung banyak rumah walet yang tinggi menjulang, populasi walet di gedung itu hingga kini tidak berkurang. Menurut Harry, rumah walet tidak harus tinggi menjulang.

“Sebelum membangun rumah walet seharusnya perhatikan pula kebiasaan awal walet terbang di sekitar lokasi,” ujar Harry. Pada kasus gedung Rumah Mayor Chung, walet-walet di sekitar lokasi  terbiasa terbang rendah karena biasa hinggap di gedung itu. Harry menuturkan, jika hendak membangun rumah walet di sekitar gedung, idealnya menyesuaikan dengan ketinggian gedung. “Kalau gedungnya 5 lantai, walet tidak akan mau terbang ke sarang lebih tinggi. Kalau pun ada pasti populasinya sedikit,” ujar Harry.

Kurang prospek

Menurut konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, Arief Budiman, di Kecamatan Muntok memang banyak bangunan tua menjadi sarang walet. Contoh bangunan lain yang ramai dihuni walet sejak lama yaitu menara suar di Tanjung Kalian yang dibangun pada 1862. “Sejak 2000 populasi walet di sana sudah besar,” ujar Arief. Itulah sebabnya Muntok kini menjadi salah satu tempat para investor membenamkan modal membangun rumah walet.

Menurut Harry Muntok hanya salah satu dari daerah yang menjadi sentra si liur emas di Provinsi Bangka-Belitung. Sentra walet terbesar di Pulau Timah adalah Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, 2 jam bermobil dari ibukota provinsi, Pangkalpinang. “Di sana jumlah rumah walet nyaris sebanding dengan pemukiman,” ujarnya.

Namun, Hary menuturkan populasi rumah walet yang semakin padat sebetulnya bukan menjadi indikator lokasi itu potensial untuk berinvestasi. “Bila penambahan rumah walet diiringi berkurangnya areal hutan, sumber pakan akan menurun dan populasi walet sedikit,” katanya. Kondisi itu memicu walet bermigrasi ke tempat lain.

Kondisi itu sudah terjadi di sentra walet di Sumatera. Penyusutan areal hutan akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit diikuti penebangan liar mendorong walet bermigrasi ke pulau-pulau kecil seperti Bangka-Belitung. Karena itu populasi walet di pulau yang semula masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan itu kini tinggi hingga menempati gedung-gedung yang bukan bangunan walet sekalipun. Pulau kecil menjadi lokasi tujuan migrasi karena lebih mudah mencari pakan.

“Untuk mencari pakan walet tidak perlu pergi jauh karena jarak sumber pakan dan sarang dekat,” kata Hary. Saat ini maraknya area penambangan timah liar menjadi ancaman bagi populasi walet di Pulau Timah. “Jika areal tambang yang mengalih fungsi lahan terus meluas, tentu saja akan merusak habitat hutan yang menyebabkan sumber pakan walet berkurang,” ujarnya. Seandainya kondisi itu terjadi, tidak mustahil panen sarang emas hanya impian semata. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img