Tuesday, November 29, 2022

Seri Walet (197): Geger Jemput Rezeki

Rekomendasi
KH Irham Rofii sudah memodifikasi lagur memakai kayu sengon
KH Irham Rofii sudah memodifikasi lagur
memakai kayu sengon

Sejak pengujung 2012 marak pembangunan rumah walet di Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Selama ini lokasi hunian walet di Kabupaten Bangkalan lebih terpusat di Kecamatan Bangkalan. Salah satu kawasan walet yang menonjol di sana adalah Jalan Jenderal Sudirman sepanjang 500 m. Di sana hampir 60% dari toko-toko emas yang rata-rata terdiri atas dua lantai dan beratapkan genting itu menjadi hunian walet.

Perlahan tapi pasti perkembangan hunian walet mulai bergeser ke arah Kecamatan Geger yang terletak 30 km ke arah timur Kota Bangkalan. Kondisi makrohabitat yang ideal dari banyaknya persawahan di kecamatan yang namanya diambil dari sebuah bukit itu sangat menunjang perkembangan si liur emas di Geger. Pada pengujung 2012 beberapa rumah walet tampak dibangun di kecamatan yang memiliki banyak gua-gua alami itu.

Putar telur

Sejatinya usaha beternak walet di Kecamatan Geger sudah dirintis sejak 2005. Saat itu Kyai Haji Rofii, pemuka masyarakat setempat, membangun rumah walet berukuran 8 m x 6 m tepat di bagian atas rumahnya. Menurut Kyai Haji Irham Rofii, sang putra, ayahnya tertarik beternak Colocalia fuciphaga itu setelah melihat walet gua di Desa Batubelah, sekitar

3 kilometer  dari lokasi rumah walet yang dibangunnya. “Banyak pemburu memanen sarang walet gua yang warnanya agak kehitaman,” ujar Irham. Panen sarang walet gua itu berlangsung 3—6 bulan sekali.

Kondisi itu yang memicu Rofii mulai “mengandangkan” walet. Rumah walet itu dibangun menghadap ke arah utara untuk menghindari sinar matahari langsung. Dua buah lubang keluar masuk berukuran 90 cm x 30 cm diletakkan di sebelah utara dan barat dari bangunan berdinding semen itu. Lingkungan di sekitar bangunan dibiarkan tetap rimbun oleh kehadiran beberapa tanaman seperti jambu. “Biar udaranya agak lembap,” ujar Irham.

Persawahan di Kecamatan Geger, sumber potensial serangga
Persawahan di Kecamatan Geger, sumber potensial serangga

Walhasil 2 bulan selesai, sriti memasuki bangunan itu terlebih dahulu. Menurut Irham setelah sriti masuk, ayahnya segera melakukan putar telur. Saat itu telur-telur sriti yang ada digantikan dengan 500 telur walet yang dibeli dari pengepul di Kota Bangkalan seharga Rp10.000 per butir.

Namun, apa lacur upaya putar telur pertama kali itu berujung pada kegagalan. Hampir 90% telur walet membusuk. “Bapak sempat berhenti dulu gara-gara kejadian itu,” ucap Irham. Menurut Drs Arief Budiman, praktikus walet di Kendal, Jawa Tengah, biang kerok gagalnya putar telur antara lain kualitas telur jelek yang menyebabkan embrio mudah mati. “Biasanya itu berasal dari telur walet yang dipanen saat musim kemarau,” ujar Arief. Harap mafhum di saat musim kemarau itu walet sulit memperoleh pakan yang tentunya berdampak terhadap kualitas telur yang dihasilkan.

Lebih jauh Arief menuturkan penyebab lainnya bersifat teknis seperti embrio telur mati akibat perjalanan yang terlalu jauh atau kesalahan teknis lainnya seperti pengaruh guncangan pada kendaraan yang membawa telur. Hal sama disampaikan oleh Harry K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara. “Sebab itu saat membawa telur walet perlu kehati-hatian karena risiko kegagalannya untuk menetas bisa besar,” ujar pemilik Eka Walet Center itu. Rata-rata lama pengeraman telur walet berlangsung 21 hari.

Rubah

Setelah sekian lama bangunan itu dibiarkan, Irham yang kini memimpin Pondok Pesantren Darul Ittihad di Kecamatan Geger itu berinisiatif untuk memulai lagi pada 2012. Irham mulai mengganti lagur yang semula memakai jati dengan kayu sengon. Menurut Irham perubahan itu berimbas terhadap populasi walet yang masuk ke dalam rumah. “Sekarang puluhan rutin keluar-masuk,” ujarnya. Boleh jadi perubahan lagur itu menyebabkan walet lebih mudah mencengkeram untuk selanjutnya bersarang.

Kondisi makro habitat di Kecamatan Geger sangat mendukung ketersediaan pakan walet
Kondisi makro habitat di Kecamatan Geger sangat mendukung ketersediaan pakan walet

Perubahan lainnya adalah memasang tweeter di setiap lubang keluar-masuk. Tweeter itu disetel memakai pengatur waktu sehingga hanya mengeluarkan suara dari cakram perekam 2 kali sehari. Pertama pada pagi hari mulai pukul 06.00—09.00 dan kedua di sore mulai pukul 16.00—20.00. “Volume twetter dapat terdengar maksimal 5—7 m,” ungkap Irham. Pengaturan volume itu penting karena berjarak 50-an meter dari lokasi hunian terdapat masjid dan pondok pesantren.

Berkat serangkaian perbaikan tersebut, pada pengujung 2012, walet sudah mulai bersarang. “Pada Februari 2013 terdapat  23 sarang walet,” kata Irham. Memasuki medio Maret 2013, total jumlah sarang bertambah menjadi 31 sarang. Sarang itu cukup berkualitas karena putih dan bersih.

Gairah mereguk nikmatnya sarang walet tidak hanya dinikmati Irham seorang. Di sebelah timur lokasi hunian walet Irham telah berdiri 2 bangunan walet lain. Bangunan itu utuh seperti bangunan walet sebenarnya seperti terlihat beberapa di Kota Bangkalan dengan tinggi 3 lantai.

Namun, pengembangan walet di Kecamatan Geger bukannya tanpa kendala. Salah satu batu sandungan adalah ongkos pembangunan rumah walet yang mahal. “Bangunan berukuran 6 m x 8 m bisa menghabiskan biaya di atas Rp100-juta,” tutur Irham. Itu belum menghitung biaya perlengkapan lain untuk mengundang walet. Toh kendala itu tidak memupuskan peluang mengembangkan Kecamatan Geger menjadi sentra walet di luar Kecamatan Bangkalan. (Faiz Yajri, Kontributor lepas Trubus di Jakarta)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img