Thursday, December 8, 2022

Seri Walet (199): Prediksi 2015 Harga Naik

Rekomendasi

Dua tahun mendatang, harga sarang walet diprediksi meningkat.

Prediksi itu disampaikan oleh Boedi Mranata, ketua bidang perdagangan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI). Sebelum pertengahan 2011, harga sarang walet berkualitas mencapai Rp15-juta—Rp16-juta per kg. Saat ini, harga turun menjadi Rp5-juta—Rp6-juta per kg (Lihat Harga Anjlok). “Diperkirakan akan ada kenaikan harga sekitar 30—50% dari harga sekarang. Tetapi akan sulit untuk mencapai harga seperti pada awal 2011,” katanya.

Prediksi itu berdasarkan suatu keyakinan bahwa dalam dua tahun ke depan, Indonesia sudah bisa memenuhi persyaratan-persyaratan ekspor ke Cina dan perdagangan mulai lancar.  Jatuhnya harga sejak dua tahun terakhir karena kebijakan Cina yang menghentikan impor sarang walet. Oleh karena itu banyak pelaku bisnis sarang walet di tanahair menjadi skeptis dan melihat masa depan perdagangan walet suram.

Konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, Harry K Nugroho MBA, mengatakan,  “Ekspor menjadi tersendat, sekarang banyak stok sarang yang menumpuk dan sulit diekspor,” ujar Harry K Nugroho. Imbasnya cukup besar. Volume ekspor sarang walet yang awalnya mencapai 400 ton per tahun kini terus menurun. Ini berakibat banyaknya sarang yang tidak bisa dijual dan masih disimpan di gudang peternak, pengepul, atau eksportir. Beberapa peternak seperti Syarifudin, pemilik rumah walet di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, menghentikan panen sampai harga membaik.

Lulus uji              

Terhambatnya bisnis sarang walet karena ditemukan kadar nitrit di sarang yang di atas ambang Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat sebesar 200 ppm. Pembentukan nitrit terjadi secara alami di sarang walet atau pada komoditas lain seperti sayuran. Kadar nitrit yang tinggi membahayakan kesehatan tubuh karena bersifat karsinogen atau memicu kanker.

Tingginya kadar nitrit di sarang walet biasanya terjadi di rumah walet tua yang jarang dirawat dan dibersihkan. Sarang-sarang tetasan mempunyai kadar nitrit yang lebih tinggi daripada sarang buang telur. Seharusnya, konsentrasi nitrit dapat diturunkan secara drastis saat proses pembersihan sarang sebelum ekspor.

Pihak Cina menentukan standar batas nitrit maksimum 30 ppm. Tujuan kebijakan itu sebetulnya upaya Cina agar yakin atas mutu sarang walet yang dibeli. Negeri Tirai Bambu itu juga menginginkan informasi yang lengkap mengenai asal rumah tempat walet itu dibudidayakan (traceability). Intinya bila terjadi kasus yang membahayakan konsumen, Cina dapat menelusuri mulai dari eksportir, pengolah sarang, hingga ke rumah waletnya. Hal lain yang penting adalah memastikan sarang walet dipanaskan dengan oven sebelum diekspor supaya bebas dari virus flu burung dan penyakit lainnya.

Karena adanya persyaratan-persyaratan yang ketat untuk ekspor ke Cina, maka dibutuhkan perjanjian khusus antara pemerintah Indonesia dan Cina. Untuk itu, ada upaya-upaya yang sangat intensif di Indonesia yang dilakukan dengan kerja sama yang erat antara kementrian pertanian, kementrian perdagangan, dan APPSWI untuk secepat mungkin bisa ekspor ke Cina. Pada awal April 2012 perjanjian perdagangan sarang walet akhirnya ditandatangani kedua negara.

Pada tahap pelaksanaannya perusahaan-perusahaan yang ingin mengekspor sarang walet ke Cina harus lulus beberapa persyaratan yang ditentukan oleh pihak Indonesia dan Cina. Sebelum barang dikirim akan dilakukan pemeriksaan ketat dari badan karantina Indonesia. Sesampainya di Cina, badan karantina setempat akan memeriksa ulang kembali.

8 eksportir

Sebenarnya sudah terdaftar 8 eksportir walet Indonesia yang lulus persyaratan-persyaratan dari pemerintah Indonesia. Namun, belum ada satu pun eksportir tersebut yang diuji oleh pihak Cina. Posisi Malaysia lebih bagus dari pada Indonesia sebab sudah 9 eksportir yang dinyatakan lulus oleh pihak Cina dan Malaysia. Diharapkan Malaysia bisa segera ekspor ke Cina.

Menurut Harry K Nugroho, penurunan harga dan kuantitas ekspor sarang burung telah menciptakan suasana tak nyaman bagi investor walet. “Banyak pembangunan rumah walet di daerah berhenti, bahkan sebagian pemilik rumah walet dirombak menjadi rumah toko,” ungkap Harry. Peternak besar Collocalia fuciphaga di Medan, Sumatera Utara, Johannes Siegfried, mengemukakan hal serupa. “Imbasnya sampai ke peningkatan jumlah pengangguran,” kata Johannes.

Harry K Nugroho menjelaskan saat inilah sesungguhnya kesempatan besar memperluas pasar. “Orang yang sebelumnya tidak mampu membeli produksi sarang walet akan menjadi konsumen baru,” ujarnya. Oleh karena itu, masa depan perdagangan si liur emas masih berpeluang asalkan memenuhi persyaratan importir.  Johannes Siegfriend menuturkan bahwa perdagangan walet saat ini dan ke depan tidak semudah dulu. “Kita berharap semua mata rantai bisnis sarang walet dan pemerintah menjadi kesatuan visi untuk mengembalikan kondisi perdagangan seperti sedia kala. Indonesia akan tetap sebagai produsen walet terbesar pada masa mendatang,” ujarnya. (Selena Mranata, mahasiswa Jurusan Biologi bidang Ekologi, Evolusi, dan Konservasi, University of Washington, Amerika Serikat)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img