Sunday, November 27, 2022

Seri Walet (91)Habis Timah Datang Liur

Rekomendasi

Selain kaya timah, pulau seluas 2.950,68 km2 itu ternyata menyimpan potensi walet. Wajar, bila banyak pengusaha dari luar Bangka berbondong-bondong ke sana. Mereka berharap memanen liur mahal di kabupaten bersemboyan gerbang meraih permata itu.

Rona merah sang mentari menyembul di balik Gunung Maras. Cericit walet saling bersahut-sahutan seolah membangunkan warga di Jebus yang terlelap tidur. Bagaimana tidak, suara tiruan walet dari tweter—speker hitam pemanggil—itu memang sudah diaktifkan sejak pukul 06.00. Suara itu keluar dari setiap gedung walet yang tumbuh bak jamur di musim hujan.

Kota di Bangka Utara itu bisa dicapai dengan kendaraan selama 3 jam dari Pangkalpinang. Wanta, praktikus walet di Jakarta berkunjung ke sana pada November 2004 melihat bangunan berbentuk empat persegi berlantai 2—3 di beberapa lokasi. “Rumah-rumah penduduk beralih fungsi. Ruko juga sudah mulai direnovasi untuk gedung walet,” katanya.

Menurut Apo, salah satu rekan Wanta di Jebus, walet pertama kali masuk ke klenteng—tempat ibadah etnis cina pada 1996. Sejak itulah banyak toko dan rumah tinggal beralih fungsi menjadi rumah walet. Bahkan, gedung biskop milik Apo direnovasi menjadi bangunan walet. Wanta memperkirakan 5—7 kg sarang dipanen/periode dari gedung itu.

Melimpah

Itu semua karena alam yang hijau dan sungai-sungai di Jebus mendukung budidaya walet. Hamparan kebun kelapa sawit dan lada menghampar di kanan-kiri jalan mulai dari Pangkalpinang ke Jebus. Di situlah banyak tersimpan serangga sebagai pakan walet.

Beberapa tempat memang tampak rusak akibat penggalian timah, tapi di situlah sumber pakan terdapat. Jentik nyamuk dan serangga yang keluar dari genangan air sebagai pakan walet. “Di sini (Jebus, red), 3 bulan saja burung sudah masuk ke rumah,” kata salah satu penjaga rumah walet di Kecamatan Kelapa.

Potensi itu menarik minat pengusaha dari Medan, Lampung, Surabaya, Cirebon, dan Jakarta untuk mencemplungkan uang di sana. Dengan kondisi saat ini, Wanta menghitung investasi sekitar Rp300-juta bisa kembali dalam waktu kurang dari 10 tahun. “Bandingkan kalau investasi di Jawa, bisa lebih 10 tahun. Contohnya, Cimalaya dan Karawang di Jawa Barat atau Labuan di Banten yang kini mengalami kondisi stagnan,” katanya.

Prospektif

Jebus salah satu lokasi terbaik untuk membuat rumah walet saat ini. Yang lain, Pangkalpinang dan Sungailiat. “Dua daerah itu juga prospektif untuk mengembangkan walet,” kata pengusaha kontraktor di Gunungsindur, Serpong, Tangerang, itu.

Hal itu sudah ia buktikan ketika singgah di salah satu restoran di Kampungbintang, Pangkalpinang. Sambil menyantap hidangan, mata pria asal Bogor, Jawa Barat, itu melihat ratusan Collocalia fuchipaga terbang di antara bangunan tinggi. “Dengan potensi seperti ini, saya prediksi 2 tahun sudah panen,” katanya.

Jumlah rumah walet di Pangkalpinang meningkat setiap tahun. “Kondisi itu berbeda dengan enam tahun silam, saat saya ke sana. Lokasinya terbatas,” tuturnya. Kini, bangunan-bangunan jangkung tampak memadati sudut-sudut kota, termasuk di Kampungbintang. Di dekat sekolah Theresia, ia menghitung lebih dari 30 rumah walet. Bangunan itu tertata rapi beratap genteng, dilengkapi kusen dan dicat warna indah sehingga tidak terkesan kota mati.

Sungailiat juga berpotensi untuk mengembangkan si burung berliur mahal. Sayang, kota berjarak 60 km atau 1 jam perjalanan dengan kendaraan dari Pangkalpinang itu belum banyak dilirik investor. “Populasi burung di sana memang tak sebanyak di Kampungbintang, tapi peluang untuk membangun rumah walet terbuka, apalagi persaingan belum banyak,” ujarnya.

Waspada

Arief Budiman, praktikus walet di Weleri, Jawa Tengah, pun melihat Bangka menyimpan potensi besar untuk mengembangkan walet. Walet dengan mudah masuk ke rumah-rumah kosong dan gedung tinggi. Apalagi, jika dibarengi suara rekaman pemancing walet di cakram padat (CD), proses masuknya lebih cepat. Pantas, bila Jebus, Pangkalpinang, dan Sungailiat kini telah berubah menjadi kota baru yang dijejali bangunan jangkung berbentuk kubus.

Namun sebaiknya, “Pengusaha perlu berpikir dulu sebelum menginvestasikan uangnya. Pertimbangkan laju pertumbuhan rumah walet di sana. Jangan sampai terjebak membangun rumah saat populasi walet sudah stagnan,” katanya. Contohnya, Tempilang, salah satu sentra walet paling besar di Bangka. (baca Trubus edisi Desember 2004: Ketika Lampu Merah Menyala).

Harga sarang walet Rp14-juta/kg memang sangat menggiurkan. Kalau Anda berkunjung ke sana akan terdengar suara walet bersahut-sahutan di mana-mana sehingga memekakkan telinga. Sebab liur walet kini menjadi harapan pulau penghasil timah itu. (Nyuwan SB)

Seri Walet (91)Habis Timah Datang Liur

Siapa yang tak mengenal Bangka? Pulau di sebelah timur Sumatera Selatan itu kesohor karena kaya timah. Data produksi timah Kabupaten Bangka pada 2003 menunjukkan angka 3.868,81 ton. Selain kaya timah, pulau seluas 2.950,68 km2 itu ternyata menyimpan potensi walet. Wajar, bila banyak pengusaha dari luar Bangka berbondong-bondong ke sana. Mereka berharap memanen liur mahal di kabupaten bersemboyan gerbang meraih permata itu.

Rona merah sang mentari menyembul di balik Gunung Maras. Cericit walet saling bersahut-sahutan seolah membangunkan warga di Jebus yang terlelap tidur. Bagaimana tidak, suara tiruan walet dari tweter—speker hitam pemanggil—itu memang sudah diaktifkan sejak pukul 06.00. Suara itu keluar dari setiap gedung walet yang tumbuh bak jamur di musim hujan.

Kota di Bangka Utara itu bisa dicapai dengan kendaraan selama 3 jam dari Pangkalpinang. Wanta, praktikus walet di Jakarta berkunjung ke sana pada November 2004 melihat bangunan berbentuk empat persegi berlantai 2—3 di beberapa lokasi. “Rumah-rumah penduduk beralih fungsi. Ruko juga sudah mulai direnovasi untuk gedung walet,” katanya.

Menurut Apo, salah satu rekan Wanta di Jebus, walet pertama kali masuk ke klenteng—tempat ibadah etnis cina pada 1996. Sejak itulah banyak toko dan rumah tinggal beralih fungsi menjadi rumah walet. Bahkan, gedung biskop milik Apo direnovasi menjadi bangunan walet. Wanta memperkirakan 5—7 kg sarang dipanen/periode dari gedung itu.

Melimpah

Itu semua karena alam yang hijau dan sungai-sungai di Jebus mendukung budidaya walet. Hamparan kebun kelapa sawit dan lada menghampar di kanan-kiri jalan mulai dari Pangkalpinang ke Jebus. Di situlah banyak tersimpan serangga sebagai pakan walet.

Beberapa tempat memang tampak rusak akibat penggalian timah, tapi di situlah sumber pakan terdapat. Jentik nyamuk dan serangga yang keluar dari genangan air sebagai pakan walet. “Di sini (Jebus, red), 3 bulan saja burung sudah masuk ke rumah,” kata salah satu penjaga rumah walet di Kecamatan Kelapa.

Potensi itu menarik minat pengusaha dari Medan, Lampung, Surabaya, Cirebon, dan Jakarta untuk mencemplungkan uang di sana. Dengan kondisi saat ini, Wanta menghitung investasi sekitar Rp300-juta bisa kembali dalam waktu kurang dari 10 tahun. “Bandingkan kalau investasi di Jawa, bisa lebih 10 tahun. Contohnya, Cimalaya dan Karawang di Jawa Barat atau Labuan di Banten yang kini mengalami kondisi stagnan,” katanya.

Prospektif

Jebus salah satu lokasi terbaik untuk membuat rumah walet saat ini. Yang lain, Pangkalpinang dan Sungailiat. “Dua daerah itu juga prospektif untuk mengembangkan walet,” kata pengusaha kontraktor di Gunungsindur, Serpong, Tangerang, itu.

Hal itu sudah ia buktikan ketika singgah di salah satu restoran di Kampungbintang, Pangkalpinang. Sambil menyantap hidangan, mata pria asal Bogor, Jawa Barat, itu melihat ratusan Collocalia fuchipaga terbang di antara bangunan tinggi. “Dengan potensi seperti ini, saya prediksi 2 tahun sudah panen,” katanya.

Jumlah rumah walet di Pangkalpinang meningkat setiap tahun. “Kondisi itu berbeda dengan enam tahun silam, saat saya ke sana. Lokasinya terbatas,” tuturnya. Kini, bangunan-bangunan jangkung tampak memadati sudut-sudut kota, termasuk di Kampungbintang. Di dekat sekolah Theresia, ia menghitung lebih dari 30 rumah walet. Bangunan itu tertata rapi beratap genteng, dilengkapi kusen dan dicat warna indah sehingga tidak terkesan kota mati.

Sungailiat juga berpotensi untuk mengembangkan si burung berliur mahal. Sayang, kota berjarak 60 km atau 1 jam perjalanan dengan kendaraan dari Pangkalpinang itu belum banyak dilirik investor. “Populasi burung di sana memang tak sebanyak di Kampungbintang, tapi peluang untuk membangun rumah walet terbuka, apalagi persaingan belum banyak,” ujarnya.

Waspada

Arief Budiman, praktikus walet di Weleri, Jawa Tengah, pun melihat Bangka menyimpan potensi besar untuk mengembangkan walet. Walet dengan mudah masuk ke rumah-rumah kosong dan gedung tinggi. Apalagi, jika dibarengi suara rekaman pemancing walet di cakram padat (CD), proses masuknya lebih cepat. Pantas, bila Jebus, Pangkalpinang, dan Sungailiat kini telah berubah menjadi kota baru yang dijejali bangunan jangkung berbentuk kubus.

Namun sebaiknya, “Pengusaha perlu berpikir dulu sebelum menginvestasikan uangnya. Pertimbangkan laju pertumbuhan rumah walet di sana. Jangan sampai terjebak membangun rumah saat populasi walet sudah stagnan,” katanya. Contohnya, Tempilang, salah satu sentra walet paling besar di Bangka. (baca Trubus edisi Desember 2004: Ketika Lampu Merah Menyala).

Harga sarang walet Rp14-juta/kg memang sangat menggiurkan. Kalau Anda berkunjung ke sana akan terdengar suara walet bersahut-sahutan di mana-mana sehingga memekakkan telinga. Sebab liur walet kini menjadi harapan pulau penghasil timah itu. (Nyuwan SB)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img